
"Baiklah, tidak masalah."
"Fitri, kau masih muda dan juga sangat cantik, jalanmu masih sangat panjang, bukankah dengan begitu kita bisa bersenang-senang?"
"Tidak akan ada lagi yang bisa mengaturmu ini dan itu, kau bebas sekarang."
Entah apa yang dipikirkan sahabatnya itu, dia merubah sikapnya begitu cepat dan tersenyum penuh kesenangan.
"Jangan bersedih, oke?" godanya.
Fitri menyunggingkan bibir menatap lucu ke arah Angel. "Yang sedih itu siapa? Dari tadi kau terus mengoceh, tanpa mendengarkan apa yang harus kukatakan."
Angel pun terkekeh geli. "Iya-iya, sahabatku yang manis ini ingin mengatakan apa?"
"Kita sudah lulus, bukankah sekarang sudah saatnya mencari pekerjaan untuk menyambung hidup?"
"Aku seorang janda sekarang, harus lebih ekstra berjuang untuk menghidupi diri sendiri."
"Hei, Fitri." Angel mendekatkan wajah tepat di hadapannya, membuat Fitri refleks memundurkan diri dengan mata yang membulat sempurna.
"Bukankah ayahku pemilik rumah sakit swasta di daerah cimangi? Aku akan membujuknya agar kita bisa bekerja di sana." Ia pun tersenyum lebar.
"Daerah cimangi?" Fitri mengulangi dengan sedikit mengangkat alisnya.
Mengingat bahwa rumah Hendri juga terletak di daerah sana.
"Kenapa?" tanya Angel penasaran.
"Bukan apa-apa." Ia segera menggeleng tanpa ingin mengatakan yang sebenarnya. Bukankah mereka juga sudah bukan suami istri lagi, apa yang harus ia pikirkan, bekerja di sana juga tidak memungkinkannya akan bertemu dengan mantan suaminya itu.
"Tunggu, maksud kamu kita akan bekerja di sana lewat jalur dalam? Bukankah sedikit curang?" Fitri tampak ragu.
"Curang apanya? Rumah sakit itu juga memiliki syarat dan peraturan, kita hanya perlu memenuhi syarat-syaratnya."
"Mengenai diterima atau tidaknya, itu tergantung pada kemampuan dan keberuntungan kita."
Ucapan Angel membuatnya menggelengkan kepala, bisa-bisanya ucapan sahabatnya itu bisa berubah dengan cepat.
"Baiklah, aku bergantung padamu, Sobat." Akhirnya ia pun mengangguk mengiyakan, dan melupakan masalah Hendri dalam sekejap.
Malam hari, pria berbadan yang nyaris sempurna itu menghempaskan bobotnya dengan keras di atas kasur, entah apa yang membuat otak dan hatinya berkecamuk di tengah malam.
Sudah berulang kali ia mencoba memejamkan mata, berusaha untuk melelapkan diri dalam tidur. Namun, usaha itu tak kunjung berhasil.
"Astaga," sergahnya dengan suara yang sedikit kasar, sembari mengangkat tubuhnya dan duduk di atas kasur.
"Apa yang terjadi denganku?" Ia meremas rambutnya sedikit bertenaga.
Dalam keheningan, mata itu memandang lurus ke depan, dengan diterangi lampu tidur yang sedikit redup.
Merasa sedikit getaran yang berbeda pada hatinya kala mengingat wanita itu.
Ya, siapa lagi jika bukan wanita yang baru tadi siang ia ceraikan.
"Sedang apa dia sekarang?" batinnya. Sembari meraih ponsel dan menatap sebuah foto wanita muda yang bersanding di sampingnya dengan menggunakan gaun pengantin putih.
Ya, foto pernikahannya bersama Fitri, entah kenapa hatinya malah tergerak untuk mengenang kembali pernikahan mendadak itu.
Bibirnya sedikit melengkung tipis membentuk bulan sabit ketika menggeser foto di mana Fitri sedang cemberut, saat itu ia lelah terus diatur untuk melakukan gaya postur tubuh.
"Dasar siluman kecil." Tanpa sadar ia bergumam dalam kesendiriannya.
Baru beberapa detik usai berbicara sendiri, ia tiba-tiba tersadar dan melepaskan poselnya dengan cepat.
"Apa yang sedang kulakukan?" Lalu mengusap wajah mencoba menyadarkan diri dari rasukan yang entah datangnya dari mana.
"Kau hanya mencintai Dinda seorang, bukan? Ya, hanya Dinda, tidak ada wanita lain lagi." Ia kembali berbicara sendiri.