
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Fitri menghela napas pasrah.
Hendri masih seorang pasien, biarkan dia istirahat yang cukup terlebih dahulu.
Fitri perlahan berjongkok dan meraih kedua bahu pria itu, bahu yang kelihatannya begitu tegap, tapi malah begitu lemah saat ini.
"Sudahlah, Mas. Bangun dulu," ujarnya sambil berusaha sekuat yang ia bisa untuk membuat pria itu kembali berdiri.
"Apa kamu memaafkanku?" tanya Hendri sekali lagi dengan tetap menahan tubuhnya tak ingin segera bangkit.
"Lupakanlah." Fitri menggeleng lemah, tak ingin berdebat lagi.
"Aku akan tetap seperti ini sebelum kamu memaafkanku." Masih dengan keras kepalanya pria ini terus mendesak Fitri untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Ya, Tuhan, kenapa dia keras kepala sekali?" batin Fitri, sembari mendengus lesu.
"Iya, aku memaafkanmu, bisakah bangun sekarang?" Kalimat picik yang sebenarnya bertolak belakang dengan hatinya, kenapa ia selalu tak bisa bersikap tegas? Kenapa selalu saja mengalah untuk segala hal? Entahlah, bahkan ia sendiri pun tak mengerti dengan wataknya sendiri. Ia benar-benar terlihat begitu naif sekarang, setelah marah-marah pada pria itu, lalu kembali memaafkan dengan mudahnya.
Hendri segera bangkit dengan cepat, tampak begitu semangat setelah mendengar ucapan Fitri.
"Terimakasih."
Fitri mengangguk tipis dengan senyum kecutnya. "Kembalilah ke tempatmu, aku akan keluar sebentar."
Belum juga sempat membalikkan badan, pria itu kembali menangkap pergelangan tangannya, membuat Fitri mengerucutkan dahinya seketika. Mau apa lagi pria ini? Pikirnya.
"Mengenai permasalahan kita berdua, apa kamu setuju jika aku menyuntingmu kembali menjadi istriku?" tanya Hendri ragu-ragu, takut Fitri akan menolaknya.
Tiba di depan pintu luar, Fitri memegangi dadanya, sesak sekaligus berdebar, semua bercampur aduk hingga sulit untuk bersikap tenang.
"Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku? Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya tak habis pikir dengan apa yang sudah terjadi.
"Tuhan, sesungguhnya kau selalu bersamaku, tolong tunjukkan hambamu yang hina dan penuh dosa ini sebuah jalan terang agar orang-orang di sekitarku tidak ikut terbebani," batinnya mengucap doa, sembari memejamkan mata dengan punggung yang bersender di dinding.
Fitri hanya berharap, ia bisa mengontrol hatinya agar tidak lagi menyimpan dendam pada siapapun, jikalaupun suatu saat memang Tuhan menakdirkan dirinya akan kembali bersama Hendri, ia percaya semua itu adalah yang terbaik, tapi jika tidak, ia berharap Tuhan akan menjauhkan jarak mereka berdua agar tidak terus dipertemukan sehingga tidak menimbulkan perasaan marah dan kesal akan apa yang pernah terjadi di masalalu saat mereka masih bersama.
Tak berapa lama, mata yang masih terpejam itu kembali terbuka saat merasakan getaran ponselnya.
Satu pesan teks terpampang di layar depan, dari nomor yang tidak dikenal.
(Jangan berharap bisa mendapatkan Hendri, dasar murahan! Aku tidak percaya bahwa kau tidak pernah memberikan tubuhmu pada ayah tirimu yang bajingan itu.)
Deg!
Kalimat yang benar-benar mengoyak hati dan jiwanya, siapa yang telah berani mengiriminya pesan terkutuk itu?
Wajah Fitri seketika terlihat begitu pucat, tubuhnya gemetar, sekelebat ingatan kembali bergentayangan di dalam pikirannya.
"Tidak, itu tidak benar, aku bukan wanita seperti itu." Fitri terus menggeleng menutupi kedua telinganya tak ingin mengingat kejadian yang membuatnya takut siang dan malam.
"Tolong jangan katakan itu!" Hatinya terus berusaha berontak, hingga kakinya pun tak bisa berdiri seimbang, ia seperti orang gila yang menangis tak karuan, berjongkok di pojokan dinding tak ingin mendengar suara sedikit pun.