
Beberapa detik usai kepergian Andini, Fitri pun keluar, hatinya terasa gugup saat hendak melewati pria yang bersama Andini tadi, sekilas ia mencoba melirik sekejap, pria itu ternyata sedang memperhatikannya dengan senyuman yang entah kenapa membuat bulu romanya meremang seketika. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dan berjalan melewati, tapi seketika pria itu melangkah cepat dan menghadang jalannya.
"Hai, gadis cantik," godanya sambil meraih dagu lancip milik Fitri, membuat Fitri dengan cepat memundurkan diri merasa takut.
"Ayolah, jangan takut, Sayang. Aku tahu kamu dari tadi sudah mendengar aksiku dan wanita itu saat sedang bercinta, kan?" Pria itu melangkah semakin ingin mendekati Fitri, tak peduli akan raut wajah Fitri yang sedang ketakutan setengah mati.
"Bagaimana menurut pendengaranmu? Permainanku sangat baik, bukan? Bahkan wanita tadi hampir mati karena merasakan sensasi nikmat yang luar biasa. Apakah kamu juga ingin merasakannya?" Pria itu tampak dengan jelas menelan salivanya ketika memperhatikan tubuh Fitri, sembari terus mendekat sampai Fitri tidak tahu harus lari ke mana lagi, kini tubuhnya terjebak di sebuah sudut ruangan dan terkunci oleh tubuh pria itu.
"Sudah kukatakan jangan takut, ini tidak semengerikan yang kamu bayangkan, kamu juga akan merasakan kenikmatan yang luar biasa setelahnya." Kini tubuh pria itu hanya berjarak satu senti dari tubuh Fitri.
"Jangan mendekat, brengsek!" Ia mencoba mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga, tapi malah membuat pria tersebut semakin dekat dan terobsesi akan dirinya.
Perlahan tangan pria itu menyentuh pinggangnya, lalu turun memegangi pahanya yang hanya menggunakan rok selutut. Tak peduli sekeras apa ia berontak, pria itu malah menambah tenaganya hingga kakinya terangkat.
Napas pria tersebut terasa menggelitik saat ia menyentuh leher jenjang Fitri. "Baumu harum sekali, Baby," lirihnya sehingga membuat Fitri semakin jijik, apalagi kala teringat barusan pria itu telah menggauli Andini.
Tiba-tiba pintu terbuka, ada seorang wanita yang sedang mabuk berjalan mencari toilet kosong. "Mbak, tolong saya, Mbak!" teriak Fitri sambil berusaha berontak dari cengkraman pria itu.
Wanita tersebut pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Fitri dengan mata yang sedikit menyipit. "Hmm, nikmatilah malammu dengan indah, aku tidak ganggu," ujarnya sedikit bergumam, tapi dapat terdengar oleh Fitri, usai mengatakannya, ia kembali berjalan dengan langkah sempoyongan, memasuki toilet tanpa peduli Fitri berteriak meminta tolong padanya, mungkin juga karena pengaruh alkohol, jadi tak bisa mendengar dengan baik maksud permintaan tolong Fitri.
Baru saja pria itu ingin menyentuh bibir Fitri, seketika kepalanya mendapat pukulan keras dari belakang.
"Dasar pria brengsek, berani-beraninya kau mengganggu temanku, minggir!" Angel menarik kemeja pria itu agar dapat meraih Fitri supaya dekat dengannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Angel.
"Aku takut, Ngel." Napas Fitri tak beraturan, ia menggenggam erat tangan Angel, Angel pun dapat merasakan tangan wanita itu berkeringat dingin.
"Oh, maaf." Pria itu dengan mudahnya menyerah, membuat Fitri mengerutkan alis tak habis pikir, kenapa pria itu tidak membuat aksi apapun, malah menyerah dan menjauh begitu saja.
"Kamu kenal dia, Ngel?" tanya Fitri keheranan.
Angel menggeleng dan ikut bingung. "Tidak, aku tidak kenal. Tadi kukira dia juga akan menargetkanku. Ck, tak disangka malah semudah itu membuatnya pergi."
"Ya sudahlah, ayo kita keluar." Angel pun menarik tangan Fitri keluar dari sana.
"Aku ingin langsung pulang saja, Ngel," pinta Fitri. Angel pun menyetujui dan mengantar Fitri hingga ke depan rumah Hendri.
"Aku tidak masuk, ya."
"Kenapa?"
"Malas ketemu sama pria itu," cebik Angel.
Fitri menanggapi dengan senyuman, lalu membiarkan Angel pulang baru dirinya yang masuk rumah.
Tiba di teras, ia berpapasan dengan Andini yang juga tampaknya baru pulang.
"Kamu dari mana?" tanya Andini.
"Dasar munafik," cibir Fitri dalam hati sambil melirik tajam dan sinis ke arah Andini.
Mereka masuk berbarengan dan di ruang tamu masih ada Hendri yang menunggu.
"Mas Hen, kamu belum tidur?" tanya Andini dengan senyum yang tampak begitu merekah.
"Belum ngantuk." Hendri pun beranjak dari tempatnya.
"Maaf aku pulang terlambat ya, Mas," ucapnya lagi, berusaha untuk dapat perhatian dari suaminya, tapi yang diharapkan tak sesuai, Hendri malah melewatinya dan menghampiri Fitri, membuatnya mencebik kesal melihat sikap itu.
Hendri menatap Fitri lekat, lalu melirik jam tangannya. "Sudah jam dua dini hari, kamu baru pulang? Main ke mana?" tanya Hendri baik-baik dan lembut.
"Mbak Andini juga baru pulang, kenapa tidak kamu tanya juga dari mana dia malam ini?" jawab Fitri sedikit ketus.
Hendri diam lalu mengendus bau badan Fitri. "Bau alkohol serta bau pria, kamu dari mana, Fitri?" tanya Hendri sekali lagi dengan dahi yang semakin mengerut dalam.
"Pulang jam dua pagi dengan bau alkohol serta pria, hanya ada dua kemungkinan, Mas. Pertama, Fitri nongkrong bersama teman prianya sambil minum-minum, atau ... dia mengunjungi sebuah klub malam." Andini ikut menimpali dengan mimik wajah yang membuat Fitri semakin jengkel.
"Kamu gak usah sok suci deh, Mbak. Memangnya kamu pikir aku tidak tahu ke mana kamu pergi?" cibir Fitri dengan tersulut emosi.
"Benar apa yang dikatakan Andini?" Hendri kembali bertanya dengan nada yang mengintimidasi.
"Seharusnya kamu juga tanya sama istri pertama kamu itu, Mas. Dari mana dia keluyuran malam ini?" sahut Fitri dengan nada yang mulai meninggi.
"Yang ingin kutahu sekarang hanya tentang kamu, Fitri. Aku tak peduli tentang siapapun."
Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Andini.
"Astaga, Fitri! Aku tak menyangka kamu ternyata seperti ini!" Suara teriakan Andini memenuhi seisi ruangan, membuat dua orang itu ikut menoleh ke arahnya.
"Mas Hen, pantas saja dia pulang dengan bau pria dan alkohol. Coba kamu lihat ini." Andini memberikan ponselnya pada Hendri.
Sebuah foto terpampang sangat jelas menunjukkan wajah Fitri bersama pria yang tadi hampir melecehkannya.
"Apa-apaan ini, Fitri? Katakan apa yang sudah kamu lakukan di luar sana? Siapa pria ini?" Hendri dengan marah menunjukkan foto tersebut di depan wajah Fitri.
"Mas, kamu jangan percaya dengan apa yang kamu lihat di foto itu, semua itu tidak benar." Fitri mulai panik, sementara Hendri dengan puncak kemarahan seketika membanting ponsel tersebut hingga hancur.
"Lalu apa maksudnya? Jelaskan!" seru Hendri semakin tak sabaran, rahangnya tampak mengeras dengan wajah yang memerah.
"Semua ini rencana kamu, kan, Mbak?" Fitri melangkah menghampiri Andini dengan berani dan tegas.
"Kenapa malah jadi aku? Salahku di mana? Aku juga baru melihat foto itu yang dikirim oleh temanku yang memang mengenalmu, aku sempat cerita tentang kamu ke dia, tak menyangka dia malah menemukanmu bercinta dengan pria lain, lantas kamu punya hak apa memfitnahku, Fitri? Jika bukan karena soal pekerjaan, aku juga tidak akan keluar di tengah malam dengan keadaan hamil seperti ini," balas Andini dengan raut wajah yang merasa paling tersakiti.
"Pekerjaan? Cih, Pekerjaan yang menjual tubuh sendiri untuk menjebak orang lain, begitu?" sinis Fitri sambil menatap tajam Andini.
"Cukup! Jangan mencoba berdalih dengan melemparkan kesalahanmu pada orang lain. Sekarang kamu ikut aku." Hendri seketika mencengkram lengan Fitri dengan kuat dan menariknya, Fitri kalang kabut berusaha mengimbangi kecepatan langkah Hendri hingga ia terseret hampir jatuh ke lantai.