
"Kamu mau ke mana, Mas?" seru Andini ketika melihat Hendri membuka pintu dengan payung di tangannya.
"Aku akan menemui Fitri," jawab Hendri tanpa menoleh.
"Buat apa lagi sih, Mas? Apa lagi yang ingin kamu berikan padanya? Kamu sudah buta, dia tidak menginginkanmu lagi," larangnya dengan keras.
"Di luar hujan, menunggu hingga berjam-jam kurasa dia memiliki sesuatu untuk dikatakan, kamu tenang saja, aku juga tahu di mana harus menempatkan diri." Hendri berlalu pergi dengan mengiring tongkat kecil di tangannya agar tidak tersandung saat berjalan.
Dengan langkah yang sangat lambat, akhirnya Hendri berhasil menemukan pagar rumahnya dan berteriak pada satpam. "Pak, tolong buka pagar!"
Mendengar suara itu, Fitri segera berbalik badan dan melihat Hendri sudah berada di belakangnya dengan hanya terhalang sebuah pagar.
"Mas Hen!" teriaknya tampak begitu senang.
"Fitri," gumam Hendri sembari meraba pagar tersebut mencari keberadaan wanita yang barusan memanggil namanya.
"Aku di sini, Mas Hen." Fitri pun segera meraih tangan kokoh pria itu dan menggenggamnya. Tak kuasa membendung air mata hingga tercurah dan menyatu dengan air hujan yang membasahi pipi, tak tega melihat keadaan Hendri yang memprihatinkan disebabkan oleh dirinya.
Satpam buru-buru membuka kuncinya dan membiarkan Fitri masuk. Wanita itu pun menuntun Hendri untuk berteduh di pos ronda milik satpam. Tak ingin pria itu sakit karena udara yang begitu dingin.
Dari kejauhan, Andini mengepalkan tangan menyaksikan mereka yang bertemu tanpa bisa ia cegah.
Fitri semakin tak bisa menahan tangisnya melihat pria di hadapannya itu. "Mas Hen, kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini?"
Hendri yang mendengar isak tangis Fitri, berusaha untuk mengusap wajah wanita itu. "Jangan menangis, kuberikan untukmu agar aku juga dapat merasakan apa yang pernah kamu rasakan, lebih baik seperti ini, aku rela asal bukan kamu yang menderita," ucapnya dengan tulus.
Kedua bahu Fitri semakin bergetar hebat, matanya tak berhenti menumpahkan bulir bening yang menyayat.
Fitri menggenggam erat kemeja Hendri dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. "Aku tidak ingin seperti ini, Mas," lirihnya dengan suara yang tersendat.
Hendri memeluk tubuh mungil itu dengan kelembutan. "Kedepannya, berjanjilah padaku."
"Janji untuk hidup lebih baik dan bahagia dengan siapapun kelak kamu bersanding, jangan pedulikan aku."
"Aku baik-baik saja asal melihatmu bahagia," lanjutnya.
Fitri segera menggeleng, tak setuju dengan ucapan Hendri. "Aku ingin kembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, tak boleh membiarkanmu hidup tanpa melihat seperti ini, bagaimana kamu bisa pergi bekerja dan menafkahi istrimu kelak?"
"Aku tak masalah hidup tanpa melihat, tidak akan menyalahkanmu lagi, aku ingin kamu hidup normal seperti biasanya, Mas. Bukan begini caranya."
"Tidak, Mas. Aku tak ingin seperti ini." Fitri semakin mengeraskan tangisnya dan memeluk pria itu sangat erat. Benar-benar merasa bersalah.
"Bagaimana kabar Fitri sekarang, Nik?" Suara lemah dan wajah yang pucat menatap Niko yang berdiri dengan setia di depan jendela rumah sakit.
"Fikirkan masalah kesehatanmu terlebih dahulu sebelum memikirkan orang lain," jawab Niko ketus tanpa menoleh.
"Fitri bukan orang lain bagiku, dia orang penting yang harus kuperhatikan," balasnya lagi.
"Kalau begitu, cepat lawan penyakitmu dan temui dia secara langsung," ujar Niko ketus.
Ya, ia sebenarnya tak ingin bersikap terlalu acuh pada sahabatnya itu, tapi ia tak tahan jika Rangga setiap hari terus memikirkan Fitri tanpa peduli dengan kesehatannya.
Rangga kali ini pergi meninggalkan tanah air bukan karena mengurus bisnis, tapi sedang berjuang melawan penyakit yang ia derita dalam waktu singkat tiba-tiba menyerang sarafnya.
Tidak ingin orang lain tahu mengenai kanker otak yang ia derita, hingga memilih berobat di negara asing.
"Kapan aku bisa sembuh, Nik?" tanya Rangga tiba-tiba.