
Andini yang tadinya cukup senang karena Hendri akan datang menemuinya, tiba-tiba mendengus malas ketika melihat pria itu membawa Fitri masuk ke ruangan.
"Kamu kenapa membawa wanita ini, Mas?" Lirikan matanya tampak mematikan. Namun, tak mempengaruhi perasaan Fitri, ia sekarang lebih tak peduli meski Andini ingin membencinya sebesar apapun.
"Aku kira Mbak Andini tidak akan merasa kesal jika aku datang untuk menjenguk, jadi maaf jika aku membuat Mbak tidak nyaman." Fitri berusaha sebisa mungkin untuk bersikap peduli, meski hatinya malas untuk menunjukkannya.
"Mas, perutku sungguh tak nyaman, tolong kamu jangan jauh-jauh dariku lagi, ya." Andini meraih tubuh Hendri yang berdiri di sampingnya dan merebahkan kepala di dada bidang pria itu. Fitri tampak mendelik kesal melihat tingkah manjanya yang terlihat jelas sangat dibuat-buat.
"Kurasa calon bayi di dalam perutku merindukan ayahnya," ucapnya lirih, masih dengan bergelayutan di tubuh Hendri, cukup membuat Hendri sedikit gerah dengan sikapnya, apalagi disaksikan oleh Fitri, membuatnya semakin tak enak hati.
"Dokter belum datang?" Fitri tiba-tiba bertanya, berusaha membuat dirinya sendiri agar tidak canggung melihat manjanya Andini terhadap pria yang seharusnya menjadi suaminya.
Namun, pertanyaan Fitri tak mendapat respon dari Andini, perempuan itu sibuk menempelkan diri di badan Hendri seperti ulat bulu.
Fitri mendengus sembari tersenyum sinis, lalu menarik tangan Andini hingga terlepas dari Hendri.
"Berbaringlah," ujarnya dingin.
"Kau mau apa?" tolak Andini dengan keras.
Fitri mendorong kedua bahu wanita itu agar merebahkan tubuhnya di ranjang. "Kebetulan aku seorang bidan, biar aku yang periksa sembari menunggu dokter datang." Fitri menyibakkan pakaian Andini hingga memperlihatkan perut wanita itu, ia mulai meraba dan memeriksanya.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Siapa yang tahu bahwa kamu mungkin bisa saja ingin membahayakan janinku, kamu sangat tidak suka kan dengan kahadiran anak ini? Terlebih yang kukandung adalah anaknya Mas Hendri, kamu ingin melenyapkan anakku, kan?" Andini dengan cepat menepis tangan Fitri setelah Fitri berhasil menyentuh perutnya, buru-buru ia duduk dan menurunkan pakaiannya yang terangkat.
Wajah Fitri mulai datar dan dingin, pikirannya terbang entah ke mana. "Meski masih sangat kecil, tapi aku dapat merasakan bahwa memang ada janin di rahimnya, tapi apa mungkin anak itu benar-benar anaknya Mas Hendri? Kapan sebenarnya mereka melakukan hal itu?" batinnya terus berkata-kata.
"Kamu yakin bahwa anak itu adalah anakmu, Mas?" tanya Fitri tiba-tiba usai ia sadar dari lamunan.
"Maksud kamu apa, hah?! Kamu pikir aku wanita macam apa? Aku bukan wanita murahan!" tegas Andini yang dengan cepat menyangkal pertanyaan Fitri.
"Bukan wanita murahan?" Fitri mengulangi ucapan Andini dengan menaikkan alis merasa lucu.
"Lantas sebutan apa yang cocok untuk wanita yang bersedia mengandung anak dari seorang lelaki yang bukan mahramnya? Apakah hamil di luar nikah dianggap sangat wajar sekarang?" celetuk Fitri dengan sinisnya.
"Sudah, kalian jangan ribut di rumah sakit, mengenai itu anak siapa, kita akan tahu nanti setelah dia lahir, aku berjanji akan melakukan tes DNA pada anak itu, untuk sekarang bisakah kalian berdamai?" ucap Hendri yang mencoba untuk menengahi.
Fitri dan Andini sama-sama berdecak kesal, lalu memilih diam hingga dokter pun datang untuk memeriksakan keadaan Andini.
Selang beberapa menit kemudian, dokter pun selesai dengan pemeriksaannya.
"Bu Andini baik-baik saja, rahim dan janinnya cukup kuat, tidak ada masalah apapun yang terjadi, tidak perlu khawatir, mungkin karena kehamilan pertama, jadi merasa sedikit asing dan tak nyaman dengan perubahan yang terjadi. Tenang saja, semua cukup baik dan tak perlu terlalu cemas," ujar sang dokter menjelaskan.
"Sudah kutebak, perempuan licik ini pasti hanya mengarang saja, sakit apanya, dia terlihat sangat baik dan sehat, dasar!" Fitri terus menggerutu kesal dalam hatinya.
"Tidak ada masalah apapun, jadi Mbak Andini sudah bisa pulang. Sementara aku dan Mas Hendri masih ada urusan, tidak bisa mengantar," sahut Fitri sembari berpindah tempat ke arah Hendri.
"Tidak bisa begitu, aku istrinya, Mas Hendri harus mengantarku!" protes Andini dengan cepat.
"Lagian kau itu siapa? Kau ingin merebut suamiku? Cih, sekarang sudah terlihat siapa sebenarnya yang murahan," decihnya sinis.
"Merebut? Kata-kata itu sepertinya masih harus dipertanyakan, yang merebut di sini bukankah kamu sendiri, Mbak?" Fitri tersenyum miring.
"Aku dan Mas Hendri akan segera menikah, jadi dalam beberapa waktu dekat ini kami akan sibuk mempersiapkannya, mohon pengertiannya Mbak Andini, lain kali tidak ada acara pura-pura sakit begini lagi, oke?" Fitri menampakkan senyum puasnya terhadap Andini.
Sementara wanita yang kini masih duduk di ranjang pasien itu pun tampak menatap mereka bingung. Menikah apanya, dirinya bahkan belum melewati malam pertama sebagai pengantin baru, bagaimana mungkin Hendri akan menikah lagi? Bahkan tanpa persetujuan darinya.
"Maksudnya apa ini, Mas?" tanya Andini sembari menatap Hendri penuh dengan tanda tanya, menuntut sebuah penjelasan.
"Maaf, Andini. Kamu setuju ataupun tidak, aku akan tetap menikahi Fitri. Dia wanita satu-satunya yang kuinginkan, harap kamu bisa mengerti." Hendri pun ikut menimpali.
Andini tampak tertawa kecil, tawa yang menandakan bahwa ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Tidak, kamu tidak bisa begitu, Mas. Kamu menikahinya, lalu bagaimana dengan aku, Mas? Aku sedang mengandung anakmu." Raut wajah Andini tampak memohon, tak ingin pernikahan di antara mereka terjadi, apa gunanya ia menikah dengan Hendri jika pada akhirnya pria itu tetap menikahi Fitri, wanita yang jelas-jelas Hendri cintai. Bukankah ia akan menjadi wanita dungu yang tak dipedulikan oleh suami sendiri?