
"Fitri, kamu tenang dulu, aku berjanji akan menemukan donor mata untukmu, cepat atau lambat kamu akan melihat kembali, tapi saat ini aku mohon kamu tenang, ya." Hendri masih berusaha untuk mebuatnya tenang, meski dengan dahi yang masih mengucurkan cairan merah segar.
Sembari terus mengajaknya berbicara, salah satu dokter mendekat diam-diam dengan disusul dua perawat yang bersiap untuk memegangi Fitri.
Rencana berhasil dan Fitri pun mendapat suntikan penenang dari sang dokter, tak lama setelah itu tubuhnya mulai lemah dan lunglai, hingga akhirnya tertidur kembali.
Setelah berhasil menangani Fitri, dokter kembali mengobati luka Hendri agar darah tidak terus mengucur.
"Dokter, apa yang terjadi padanya?" tanya Hendri dengan air muka yang tampak khawatir.
"Anak ini sepertinya mengalami depresan yang sangat berat, saat ini dia masih belum bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak dipercayainya. Saran saya, sebaiknya ajak anggota keluarga atau siapapun itu untuk datang dan berbicara dengannya, takutnya setelah bangun dia akan kembali mengamuk jika tidak mendapati orang-orang yang dia percaya berada di sampingnya," jelas dokter yang juga ikut prihatin akan kondisi Fitri, juga kasihan melihat Hendri yang siang malam setia menjaga, tapi tidak mendapat respon yang baik dari Fitri ketika sadar dari komanya.
Hendri tampak terdiam, berpikir sedikit lama akan saran yang diberikan oleh dokter tersebut.
"Kenapa? Apa ada kesulitan dengan hal ini?" tanya dokter yang menyadari raut wajah Hendri yang kebingungan.
Hendri kembali tersadar dan memandangi sang dokter. "Masalahnya saya sendiri pun tidak tahu siapa orang yang ia percaya, terakhir kali saat melihat hubungannya bersama ibunya, sepertinya ada jarak yang cukup jauh di antara mereka, Fitri seakan membenci ibunya."
"Lalu bagaimana dengan sahabat, atau kekasihnya?" tanya dokter lagi, membuat Hendri kembali berpikir dua orang yang berkemungkinan adalah orang yang dipercayai oleh wanita itu. Ya, siapa lagi jika bukan Angel dan Rangga.
Namun, kembali menjadi masalah baru, sebab dua orang ini seperti lenyap di makan bumi, tidak ada kabar sama sekali, beberapa kali ia mencoba menghubungi, tapi tidak dapat terhubung, sementara saat bertanya pada Niko, pria itupun tak ingin mengatakan apa-apa mengenai Rangga, membuatnya semakin geram.
"Pak Hendri, Apa Anda mendengar saya?" Suara itu kembali menyadarkan Hendri dari lamunan.
"Ada dua orang yang kemungkinan bisa, tapi dua orang ini tiba-tiba saja tak ada kabar dan tak bisa dihubungi, selain daripada itu, saya tidak tahu siapa yang lebih dekat dengannya." Tatapan mata Hendri tampak begitu lemah, seakan putus asa dengan masalah yang terjadi.
Dokter pun tampak diam, entah apa yang ia pikirkan dalam benaknya.
"Lantas, apa ada cara lain yang bisa saya lakukan, Dokter?" tanya Hendri lagi.
Dokter menggeleng pelan, jika mengenai masalah suatu penyakit, mungkin ia punya solusi, tapi mengenai pasien yang mengalami depresan, ia tidak bisa memberi solusi apapun karena itu bukanlah ranahnya.
"Lalu bagaimana jika dia mendapatkan donor mata? Bukankah setidaknya dia bisa jauh lebih tenang?" ujar Hendri memberi solusi sekaligus bertanya mengenai pendapat sang dokter.
"Anda sudah mendapatkan donornya?"
Hendri menggeleng lemah dan berkata, "Belum."
"Lantas di mana Anda akan mencari donor mata itu? Rumah sakit juga tidak memilikinya."
Lagi-lagi satu kalimat yang membuatnya semakin frustasi.
"Tapi saya akan berusaha untuk mendapatkannya," ucapnya serius.
"Yang kita bahas saat ini adalah jangka pendeknya, bagaimana cara untuk membuatnya tenang tanpa melukai siapapun saat bangun nanti, mendapatkan donor mata memang sangat efektif untuk mencegahnya agar tidak semakin depresi. Mungkin iya, cepat atau lambat donor mata itu pasti ada, tapi kemungkinan akan sulit untuk mendapatkannya, sementara yang kita pikirkan adalah yang saat ini, waktu yang sekarang ini yang kita pikirkan untuknya," jelas dokter. Benar juga, walau bagaimanapun jika tak bisa membuat Fitri tenang dengan cara baik-baik, maka wanita itu bisa saja kembali mengamuk dan melukai banyak orang.
"Jika sekarang saya mendapatkan donornya, apa dia sungguh bisa tenang?" tanya Hendri sekali lagi untuk memastikan.
"Itu tergantung apakah dia bisa percaya atau tidak. Setidaknya jika donor itu sudah ada saat ini, kita bisa segera mengambil tindakan dan membuatnya kembali melihat sebelum ia sadar, meski harus melalui beberapa tahap, setidaknya dia tahu bahwa pandangannya akan segera kembali setelah ia diperbolehkan membuka mata."
"Saya membutuhkan bantuan Dokter, nanti saat dia bangun, saya ingin dokter membantu saya untuk bicara, katakan padanya bahwa rumah sakit telah menemukan donor mata untuknya, beberapa minggu lagi dia pasti bisa melihat. Mungkin dia akan lebih percaya dengan ucapan Anda daripada saya yang hanya sebagai orang yang paling ia benci." Hendri tertunduk saat mengucapkan kalimat terakhir itu. Ya, orang yang paling dibenci oleh Fitri mungkin memang adalah dirinya. Jika ia yang bicara pada Fitri, wanita itu tidak akan pernah mau percaya dan kemungkinan terburuk bisa saja ia melukai dirinya sendiri.
"Hanya bisa seperti itu, kadangkala kebohongan juga dibutuhkan demi kebaikan." Dokter pun setuju dan mereka telah sepakat untuk mengatakan bahwa donor mata telah disiapkan dan Fitri akan segera melihat kembali.
"Apa Anda tidak berbohong? Bisakah saya mempercayai Anda?" tanya Fitri setelah dokter menjelaskan tentang donor mata untuknya. Wanita itu tampak pucat dan lemah, mungkin dia sudah mulai sadar sepenuhnya dan tidak sedang dihantui oleh rasa marah yang tadi sempat menyelemutinya.
"Kamu tenang saja dan bekerjasamalah, jaga kesehatanmu, makan yang banyak dan teratur, agar nanti saat waktunya tiba kamu akan melihat, jiwa dan ragamu juga sehat agar bisa segera beraktifitas dengan normal dan lebih semangat lagi dari sebelumnya," ujar sang dokter menyemangati.
"Tapi ... masalahnya saya tidak memiliki uang untuk bayar biayanya, Dok."
"Kamu tenang saja, ada orang yang bersedia melunasi semua tagihannya, kamu hanya butuh fokus dengan kesehatanmu agar kita bisa segera melakukan tindakan operasi selanjutnya." Dokter menatap Hendri yang kini berdiri di samping Fitri, wanita itu masih belum menyadari bahwa Hendri ada di dekatnya.
"Apakah orang itu bernama Hendri Fransisko?" tanya Fitri memastikan.
"Ya," jawab dokter.
Fitri diam sejenak dengan kepala tertunduk, lalu kembali mengangkat kepalanya dan berkata, "Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya padanya."
~~
Hari berikutnya, Hendri baru berani untuk bersuara dan berpura-pura baru datang kembali untuk menjenguk setelah kejadian kemarin.
"Assalamu'alaikum." Tentu mengucap salam terlebih dahulu.
Fitri mengarahkan pendengarannya ke arah sumber suara dan menjawab, "Wa'alaikum salam."
"Maaf baru datang lagi untuk mengunjungimu," tuturnya berbohong, karena dari kemarin ia selalu berada di rumah sakit itu dan memantau keadaan Fitri.
"Kamu tidak takut aku melukaimu lagi?" tanya Fitri.
"Kamu berhak melakukannya, aku yang sudah membuatmu seperti ini," pasrah Hendri sambil tersenyum kecil.
"Apa kamu sudah sarapan?" lanjutnya bertanya. Dan Fitri hanya menggeleng.
"Kenapa membiarkan perutmu kosong? Jangan memancing penyakit baru untuk datang menghampiri." Hendri meraih mangkuk berisi bubur dan menyuapi Fitri dengan hati-hati. Wanita itupun tak memberi penolakan, membuat Hendri cukup lega dengan respon baik itu.
Dari pagi hingga tengah malam, Hendri selalu ada dan terus membantu apa yang dibutuhkan Fitri walau Fitri belum mengatakan bahwa ia membutuhkan sesuatu, pria itu akan dengan sigap mengerti apa yang wanita itu mau.
Hingga pada malam hari di mana Fitri akan bersiap untuk tidur, ia berkata. "Mas." Panggilan itu benar-benar berhasil meluluhkan hati Hendri yang sempat terombang ambing. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar panggilan tersebut keluar dari bibir Fitri.
"Duduk di sini sebentar." Fitri menepuk kasur di sampingnya mengisyaratkan Hendri agar duduk di dekatnya.
Tentu saja dengan cepat dan senang hati Hendri menurut. "Ada apa?" katanya.
Fitri mengangkat tangannya dan meraba wajah Hendri, hingga jemari itu terhenti pada sebuah perban yang melekat di dahi. "Apakah ini sakit?" tanyanya dengan penuh rasa bersalah.
"Aku minta maaf, dengan sangat sadar aku telah melukaimu, tapi kamu masih begitu peduli di saat semua orang yang dekat denganku tidak ada di sini untuk menjenguk," ucapnya lirih dan pelan.
Hendri hanya tersenyum dan meraih tangan Fitri dengan lembut dan menggenggamnya. "Tidak perlu minta maaf, luka yang kudapatkan tidak sebanding dengan apa yang pernah kamu terima dariku. Akulah orang yang paling bersalah padamu atas semuanya yang terjadi. Kamu tidak membenciku, itu sudah sangat membuatku senang, walau kamu ingin menghukumku sekalipun, aku tak peduli akan hal itu, yang kuinginkan adalah melihatmu hidup sehat dan bahagia."
Dibawah langit yang bertabur bintang dan diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela, seakan sedang menjadi saksi akan percakapan mereka malam itu.
Fitri tak kuasa, ia sangat lemah hingga menjatuhkan kepalanya di bahu Hendri yang terasa sangat kokoh, seperti sebuah pondasi yang tak tergoyahkan oleh apapun.
Di sanalah ia memberanikan diri untuk meluapkan segalanya, dengan terisak ia berkata, "Aku takut, Mas." Terdengar begitu pilu.
Hendripun tak kuasa menahan diri, lantas memeluk tubuh mungil itu erat dalam dekapannya. "Jangan takut, aku ada bersamamu." Sembari memejamkan mata dan mengelus rambut wanita dalam pelukannya yang tergerai indah.