Please, Love Me

Please, Love Me
Kabar Rangga



Melihat wajah muram Fitri, Hendri seketika tersenyum kecil.


"Aku hanya tak bisa melihat wajahmu yang murung begitu," ujar Hendri sambil menyentil hidung Fitri karena gemas.


"Maksud kamu?" Fitri mengerutkan alisnya dan lalu menatap Hendri penuh selidik.


"Aku menipumu, sekarang wajah cemberutmu itu sangat jelas dalam bayangan mataku," Sembari tersenyum jahil.


"Mas Hen, beraninya kamu menipuku!" Fitri mencubit lengan Hendri kesal.


"Akhirnya bisa kembali melihat wajah wanitaku yang imut ini." Ia mencubit wajah Fitri gemas.


"Siapa bilang aku wanitamu, kamu harus ingat status kita sekarang." Fitri memalingkan wajahnya.


"Sekarang memang belum, tapi beberapa pekan lagi, kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Kuharap kamu tidak lupa pada saat itu ada seorang wanita yang minta dihalalkan olehku setelah aku dapat melihat." Hendri sedikit menyindir dengan raut wajah yang meledek.


"Mana ada, yang ada Mas Hen sendiri yang berkata bahwa akan menghalalkan seseorang jika sudah dapat melihat, aku rasa ingatanku ini masih sangat baik," balas Fitri, balik menyindir tak ingin mengalah.


Hendri tergelak. "Oke-oke, aku kalah dan kamu pemenangnya."


"Lantas, sang bidadari apakah mau menjadi ratuku?" Senyum Hendri tampak semakin sumringah.


Sementara Fitri malah mengulum senyumnya merasa malu, terlebih di sana masih ada dokter dan beberapa perawat yang mendengar pembicaraan mereka.


Si dokter hanya bisa senyum-senyum mendengar kedua insan itu yang saling melempar kata sindiran manja, juga beberapa perawat wanita tampak tersipu malu. Dalam hati, mereka sebenarnya juga menginginkan sosok pria seperti Hendri yang bijaksana, meski telah berumur, justru membuatnya semakin memesona.


"Baguslah jika transplantasinya berhasil, kalau tidak ada pertanyaan apa-apa lagi, saya pamit undur diri, masih ada pasien yang menunggu, juga jika Pak Hendri merasa sangat baik, besok sudah bisa pulang," ucap sang dokter masih dengan senyumnya yang merekah. Ikut terbawa kebahagiaan dari sepasang insan itu.


"Baik, Dokter. Terimakasih atas kerja kerasnya," jawab Hendri dengan senyum ramah.


Usai kepergian dokter, para perawat itu pun ikut keluar, tak ingin mengganggu sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.


Dua pekan telah berlalu, mereka sangat disibukkan oleh persiapan pernikahan yang sebentar lagi akan diselenggarakan dengan meriah, sembari mengucap rasa syukur atas kembalinya penglihatan Hendri.


"Aku turut senang dengan kebahagiaan kalian, berharap kalian juga tidak lupa pada sahabat kita yang satu itu," ujar Niko pada saat mereka berkumpul untuk merayakan hari kemenangan Hendri dan Fitri, tepatnya di sebuah cafe yang sering mereka datangi beberapa tahun silam.


Niko mengangguk pelan.


"Dia bahkan tidak ingin datang di acara perkumpulan kali ini, apa masih pantas dikatakan sebagai sahabat?" ketus Hendri.


"Orang yang sudah pergi untuk selamanya tidak akan bisa kembali lagi, mau kamu undang beratus kali pun, dia tetap akan berada di tempat peristirahatannya yang paling nyaman." Niko tampak merenung, ucapannya mengandung sebuah kegetiran yang mendalam.


"Tunggu, maksud Mas Niko apa?" Fitri langsung memotong.


Niko menatap mereka berdua begitu lekat dan dalam. "Rangga sudah tidak ada di sisi kita, Tuhan lebih menginginkannya." Tampak matanya mulai berkaca-kaca.


Fitri seketika menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena kaget tak percaya, sementara Hendri masih terdiam, berusaha mencerna ucapan Niko yang menurutnya tak masuk akal.


"Mas Rangga, Mas Rangga apakah dia?" gumam Fitri tak percaya.


"Ya, dia sudah meninggal dunia dua pekan lalu." Niko mengangguk mengiyakan.


Hendri sedikit tertawa sinis. "Apakah ini triknya untuk mendapat belas kasih? Apa dia berpikir aku akan percaya dengan bualan yang sangat tidak lucu ini?"


Niko menatap Hendri begitu tajam, sedikit kesal melihat Hendri yang tidak memiliki sedikit simpati atas kabar kepergian Rangga.


"Kau lihat wajahku baik-baik." Wajah Niko memerah.


"Apa aku terlihat sedang bercanda atau membual? Yang pantas mendapat belas kasih itu kau sendiri, Hen." Niko semakin tak bisa mengendalikan emosinya.


"Kau pikir tanpa Rangga, sekarang kau bisa melihat dan menikmati hari dengan pemandangan indah di bumi ini?" Lalu Niko tersenyum sinis.


"Bodoh sekali, kau bahkan masih tak menyadari bahwa matamu itu bisa melihat karena donor dari Rangga."


"Rangga memberikannya untukmu agar kau bisa segera menikahi Fitri, apa masih belum cukup juga, hah?!" bentak Niko semakin geram.


"Apa?!" batin Hendri berteriak.


"Bagaimana mungkin?" Tiba-tiba lututnya terasa lemas. Semakin tak percaya, tapi penegasan Niko membuatnya sulit untuk menganggap hal itu mustahil.