
"Mas, lepas!"
"Kamu menyakiti aku!" Sembari memegangi tangannya yang terasa perih akibat cengkraman Hendri.
Dengan kesal pria itu mengempaskan tangan Andini kasar. "Di mana kau sembunyikan Fitri? Kembalikan dia!" Dengan setengah melotot ke arah wanita di hadapannya.
Andini mengerut. "Maksud kamu apa? Sembunyikan apa? Aku tidak menyembunyikan siapapun."
"Bohong!" bentak Hendri dengan suara yang keras membuat Andini sedikit terkejut.
"Kamu kenapa sih, Mas?" Andini benar-benar terlihat kebingungan.
"Ini kan yang kamu mau, pernikahanku sama Fitri hancur berantakan, kamu senang sekarang setelah mengacaukannya, hm?"
Sementara itu Andini terus menggeleng tak mengerti. "Berantakan bagaimana maksud kamu, Mas. Ngomong yang jelas, kasih tau aku kenapa kamu tiba-tiba marah dan menuduhku yang tidak-tidak."
"Kamu kan dari tadi juga lihat aku ada di sini, tidak ke mana-mana, kenapa tiba-tiba narik aku ke sini dan lalu menuduhku menyembunyikan Fitri?"
"Seharusnya kamu cari tahu dulu kebenarannya. Siapa yang tahu kalau mungkin sebenarnya Fitri memang tidak ingin menikah denganmu dan memilih pergi, kamu belum cek ke kamarnya, kan?" Andini masih tampak tenang, sama sekali tidak cemas meski Hendri terus menudingnya dengan berbagai kalimat kasar.
"Ck!" Hendri berbalik badan meremas rambutnya serta mengusap wajah dengan lemas.
Menengadah ke atap rumah, mencoba berpikir apakah benar Fitri sebenarnya belum siap untuk ia nikahi? Tapi kenapa tidak berterus terang? Acara sudah akan berlangsung dan semua tamu telah hadir, tidak mungkin Fitri tega mempermalukannya begitu saja.
"Sudahlah, Mas. Lupakan saja dia, sudah berapa kali kamu dibuat kecewa olehnya?" Andini mencoba mendekati Hendri yang tampak begitu frustasi.
"Mas, sebenarnya aku ada sesuatu yang harus kuberitahu padamu, tapi tolong kamu berjanji untuk tidak marah, apalagi menyalahkan sesuatu yang telah terlanjur terjadi." Andini tertunduk.
Mendengar ucapan Andini, Hendri sedikit menoleh dan menatap wanita itu dengan lekat.
Hendri mengerutkan alisnya, mengingat kembali kejadian waktu itu, ia juga sempat mengejar Andini sampai ke Bandara untuk menanyakan apa yang terjadi, tapi sayangnya tidak terkejar.
"Kenapa?" tanya Hendri penasaran.
"Sebenarnya ... sebenarnya kita telah melakukannya, Mas," lirihnya dengan suara yang terdengar begitu pelan.
"Melakukan apa maksud kamu?" Hendri melangkah mundur dengan cepat, tak mungkin melakukan hal terlarang itu, kan? Pikirnya.
"Iya, kita sudah melakukan hal yang salah pada malam itu. A-aku juga sudah berusaha untuk menolak, tapi kamu memaksaku hingga aku tak bisa bergerak."
"Kepulanganku yang mendadak, itu karena aku marah dan sedih, selain sudah menodai aku, kamu juga sangat menyakiti perasaanku, Mas. Kamu menyebut nama Fitri di saat kamu sedang menjamah tubuhku, aku ingin berontak, tapi tak bisa sebab kamu menahanku dengan kuat. Hatiku hancur, aku mencoba untuk melupakan kejadian itu dan merelakanmu bersama Fitri, tapi aku tak mampu. Aku tak mampu sebab sekarang benihmu sudah tertanam di rahimku." Andini terisak, ia tak kuasa membendung air matanya hingga tercurah deras begitu saja membasahi kedua belah pipinya.
Darah Hendri seketika berdesir hebat, jantungnya berpacu dengan cepat dan tak beraturan.
"Tidak, itu tidak mungkin." Ia terus menggeleng mencoba menepis ucapan Andini. Tak bisa menerima kenyataan seperti itu.
"Katakan bahwa kamu hanya sedang menipuku, kan, Andini. Kamu berbohong, bukan?" Tatapannya berubah nanar, bagaimana mungkin ia sampai melakukan hal terlarang itu hingga menyebabkan benihnya tertinggal di rahim wanita itu. Rasanya sangat ingin berteriak sekeras mungkin, tapi lidahnya benar-benar terasa kelu.
"Aku juga berharap semua ini hanya mimpi buruk semata, Mas. Aku tak siap menghadapi kenyataan dan melahirkan anak ini tanpa seorang ayah, tapi aku harus bagaimana? Katakan aku harus berbuat apa sekarang, Mas. Anak yang kukandung ini adalah anakmu. Ini hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Sebenarnya aku takut memberitahukan ini padamu, tapi aku juga tak siap menghadapinya sendirian, Mas." Andini tampak menyerahkan sebuah lipatan kertas putih di hadapan Hendri, membuat pria itu benar-benar kaku seperti sebuah patung bernyawa.
Ada perasaan takut dan tak berani untuk membacanya, tapi ia juga harus memastikan hal itu agar tak menyesal di kemudian hari.
Memang benar, di sana memang tertera bahwa Andini dinyatakan positif hamil.
Tubuh Hendri seakan begitu ringan, ia tak kuasa menopang tubuhnya sendiri seperti tak berpijak lagi pada bumi yang ia naungi selama 30 tahun lebih.
Napasnya semakin berkejar-kejaran, akhirnya ia pun berteriak keras demi meluapkan perasaannya yang tak menentu, sebuah tembokpun menjadi sasaran utamanya, ia terus memukul keras tembok dinding dan menghentakkan kepalanya beberapa kali. Ingin rasanya mati detik itu juga, bagaimana ia bisa menghadapi Fitri kelak jika wanita itu tahu bahwa ia sudah menghamili Andini.