
"Kamu mau ke mana, Fitri?" tanya Hendri segera ketika melihat istrinya keluar dari kamar dengan pakaian rapi serta membawa tas tangan kecil.
"Aku ingin bertemu Angel, dia baru saja mendarat dari Jepang," jawab Fitri acuh tak acuh.
"Kenapa tidak suruh dia datang ke sini, jadi kamu tidak perlu keluar, ini sudah malam," timpal Hendri lagi.
"Menurutmu apa yang akan Angel lakukan pada Mbak Andini jika mereka bertemu? Takutnya Angel bisa-bisa membuat Mbak Andini keguguran, kamu tahu sendiri dari awal dia tidak suka, memangnya kamu mau itu terjadi?" kata Fitri dengan mimik wajah santai.
Hendri tak dapat berkutik, ia terdiam dan Fitri pun mengerti akan diamnya, lantas tersenyum sembari menghela napas panjang.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Mas. Mengenai jam berapa aku pulang, masih belum pasti, jadi jika kamu mengantuk, tidur saja duluan." Fitri mendekati Hendri dan mengulurkan tangannya untuk menyalami, tak bisa dipungkiri bahwa Hendri tetap suaminya, dan ia harus tetap menghormati sebagai seorang istri.
"Aku akan menunggu kepulanganmu. Ingat, jika terjadi suatu masalah, langsung hubungi aku." Mau tak mau Hendri pun harus mengizinkan, meski merasa takut, tapi ia juga tak ingin terlalu mengekang agar supaya Fitri juga merasa nyaman.
Fitri mengitari pandangannya ke setiap sisi rumah, tidak melihat adanya Andini di sana.
Sudahlah, lagian untuk apa ia mencari wanita itu, justru bagus jika mereka jarang bertemu, setidaknya tak ada rasa canggung dan pertengkaran yang terjadi karena tidak sepaham.
Usai kepergian Fitri, Hendri masuk ke kamar, ternyata makanan yang tadi dibawakan olehnya tidak disentuh sama sekali oleh Fitri, semua masih utuh bahkan air minum di gelas pun tidak tergerak sedikit pun.
Hendri hanya bisa menghela napas kasar dan memanggil pembantu rumah untuk membawa makanan itu keluar, dibiarkan di sana bisa-bisa makanan itu membusuk tidak ada yang makan.
Sekarang ia sendirian, tetap merasa sepi meski di malam pertamanya menikah dengan Fitri. Bayangan masa-masa indah di malam pengantin baru seketika lenyap begitu saja, ia malah ditinggal keluar oleh istri yang dicintainya.
"Sampai kapan kamu ingin mengacuhkanku seperti ini, Fitri?" gumamnya sedikit mendengus lesu, lalu memutuskan untuk membuka laptopnya dan melakukan pekerjaan kantor yang tertunda beberapa hari.
Di bawah keremangan lampu kerlap-kerlip di sebuah klub malam, ditambah suara bising dari suara musik di dalam sana, membuat Fitri merasa tak terbiasa, belum lagi hiruk pikuk muda-mudi yang berlenggak-lenggok dengan pakaian setengah terbuka, ada yang berpasangan, ada pula perorangan.
Baginya, tempat itu adalah sumber kebisingan yang paling dahsyat yang pernah ia datangi, bahkan pasar tradisional pun kalah bising. Bau alkohol yang menyengat serta asing di penciumannya, membuat perut jadi mual serta pusing.
"Ngel, kenapa harus bertemu di sini, sih?" ujarnya dengan berteriak sekeras mungkin, karena di sana hanya bisa seperti itu baru bisa terdengar oleh lawan bicara.
"Sstth." Angel menyipitkan matanya dan meletakkan jari telunjuk di depan bibir Fitri.
Awalnya mereka memang sudah bertemu di sebuah cafe, di sana Fitri malah menceritakan tentang kehidupannya selama ini serta pernikahannya bersama Hendri, juga tentang Andini. Lantas, Angel pun mengajaknya ke tempat itu, tempat yang menjadi kali pertama ia datangi selama hidupnya. Ternyata seperti ini kehidupan dunia malam bagi orang-orang yang mencintai tempat itu.
Angel juga tampak menikmati suasana klub tersebut, beberapa kali ikut memesan minuman keras dan menghabiskannya sendiri.
Meski begitu, tapi Angel juga tahu batasan, ia tidak menawarkan sedikit pun pada Fitri karena tahu bahwa agama Fitri melarang mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Dan Fitri pun tidak mungkin ingin meminumnya meski ditawari Angel sekalipun.
Setelah setengah jam di sana, Fitri berpamitan untuk ke toilet, bau yang menyengat itu benar-benar membuatnya tak tahan.
"Jangan lama-lama, oke? Tidak mengantar, aku tunggu di sini saja, ya," ujar Angel masih dengan kesadaran yang stabil, ia memang cukup mampu dalam meminum minuman seperti itu, mungkin juga karena terbiasa.
Fitri memasuki toilet umum di klub tersebut, yang di mana di dalam sana terdapat beberapa toilet yang hanya disekat dinding tipis. Berbeda dengan toilet yang disediakan untuk tamu VIP, yang fasilitasnya lengkap.
Fitri mulai mencari satu toilet yang tak ada orang di dalamnya, ia pun mendapatkannya dengan cepat.
Namun, baru juga masuk ke dalam, ia malah mendengar suara yang tak mengenakkan. Ya, suara ******* pria dan wanita, membuat bulu kudunya merinding seketika.
Ia pun dapat merasakan goyangan pada dindingnya. "Apa yang orang sebelah lakukan? Bisa-bisanya bercinta di toilet umum," batin Fitri sembari menyunggingkan bibir tak habis pikir dengan kelakuan penduduk bumi yang berada di luar batas.
"Aku mencintaimu, Baby." Terdengar suara gumaman seorang pria di balik dinding, tapi hanya dibalas ******* dari sang wanita.
Fitri seketika mengurungkan niat awalnya, ia hanya berdiri tegak seperti patung, rasanya tubuh itu mulai kaku.
Beberapa detik kemudian, suara itu tidak lagi terdengar, setelah sunyi, ia pun memutuskan keluar, tapi baru saja membuka pintu, ia malah menangkap wajah seorang wanita yang tak asing lagi.
"Mbak Andini? Sedang apa dia di sini?" Segera ia menutup kembali pintu dan tak jadi keluar.
"Barusan yang terjadi di sebelah, apakah itu dia?" gumamnya lagi, lalu berusaha menepis pikiran buruknya, kembali membuka sedikit pintu membiarkan ada celah untuk ia mengintip, dan tak menyangka ia malah menangkap sebuah pemandangan yang luar biasa.
Andini dan seorang pria melakukan pertukaran saliva sebelum mereka benar-benar berpisah di sana. Ya, dengan bahasa lain, mereka berc*mbu mesra seperti sepasang kekasih, lantas Andini pun melambaikan tangan manja dan pergi meninggalkan pria itu.
"Apa-apaan ini? Dia selingkuh?" batin Fitri lagi sambil berusaha menyejukkan pikirannya dari pemandangan menjijikkan tersebut.