
"Sebaiknya kamu pulang dulu saja, tenangkan pikiran," ujar Hendri di tengah keheningan yang melanda.
Ia pikir, mungkin Andini sedang lelah menjaganya di sana hingga kurang berkonsentrasi dan berbicara yang tidak-tidak.
Ia pun tak bisa terus memaksa seseorang untuk sejalan dengannya, apalagi Andini adalah saudara kembarnya Dinda. Ya, dia mungkin tak terima jika Hendri terpaut hati pada wanita lain.
Andini tetap diam, tatapan matanya menerawang jauh ke daratan lepas sana melalui jendela, entah apa yang dia pikirkan, sekarang memang bukan saatnya untuk berdebat, mengingat keadaan Hendri masih menjadi seorang pasien.
Melihat Andini tetap diam, Hendri berusaha meraih ponselnya dan menghubungi Nirma, seorang wanita yang menjadi asistennya di kantor.
"Temui aku di rumah sakit swasta yang ada di dekat rumah, aku butuh bantuan," ucapnya melalui sambungan telepon.
Mendengar Hendri berbicara, Andini sedikit mengalihkan perhatiannya.
"Kamu bisa katakan padaku jika membutuhkan bantuan, tidakkah kamu sadar bahwa aku di sini untuk membantu?" ujarnya dengan wajah datar.
"Ada sesuatu yang tidak semuanya harus dilakukan olehmu," jawab Hendri acuh tak acuh.
"Andini," panggilnya setelah beberapa detik kemudian.
"Aku berterimakasih karena kamu sudi membantuku kapan dan di manapun, tapi ada beberapa hal yang juga butuh perhatianmu di luar sana." Ia diam sejenak.
"Contohnya pekerjaanmu di Bandung yang sudah beberapa bulan tidak kamu pantau secara langsung, juga orang tuamu, mereka pasti merindukanmu, bukan?" lanjutnya lagi.
Seketika wanita modis itu tergelak mendengar ucapan Hendri. "Tidak tahu sadar atau tidak, sebenarnya kamu sedang mengusirku kan, Mas?" Wajahnya tersenyum dengan getir.
Hendri diam saja, ia sendiri tidak tahu apakah maksudnya adalah sungguh mengusir Andini atau tidak, yang ia mau sekarang hanya ingin memiliki waktu agar bisa bertemu Fitri kembali.
Ya, ia mulai sedikit tidak waras karena terus membayangkan wajah wanita muda itu, wanita yang dulu ia nikahi karena terpaksa, dan ia ceraikan tanpa rasa bersalah.
"Kamu tidak membutuhkan aku di sini lagi, Mas?" tanya Andini sekali lagi.
"Hanya tak ingin merepotkanmu saja," pungkas Hendri tanpa menoleh pada wanita itu.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara yang tak asing seiring dengan pintu yang terbuka.
Sosok wanita masuk ke ruangan itu. Ya, dia adalah orang tua Hendri.
"Wa'alaikum salam." Andini yang sangat kenal dengan suara itu, segera beranjak dari tempatnya dengan menjawab salam.
"Bunda?" Bukannya menjawab salam, Hendri malah mengerutkan alis melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba. Dari mana mereka tahu bahwa ia sedang dirawat? Pikirnya.
"Jawab salam Bunda apa begitu sulit?" tegur ibunya.
Helaan napas Hendri terasa berat dan lalu menjawab salam orang tuanya.
"Wa'alaikum salam."
"Siapa yang memberitahu Bunda aku di sini?" Hendri langsung bertanya.
"Kenapa? Kamu kelihatan tidak senang dengan kehadiran Bunda." Bu Hajjah mengerutkan alis merasa kecewa dengan reaksi Hendri yang tak sesuai dengan harapannya. Ia berniat memberi kejutan dengan datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, tapi anaknya itu malah memasang kerutan di dahi.
Hendri berbalik menatap Andini. "Kamu yang memberitahu Bunda?"
Andini sedikit ragu, menatap ke arah Bu Hajjah, terlihat wanita itu mengangguk pelan padanya, hingga ia berani untuk mengaku bahwa memang dirinyalah yang mengadu mengenai Hendri yang dirawat di rumah sakit.
"Aku sudah katakan jangan beritahu siapapun." Hendri benar-benar tak suka jika Andini selalu bertindak tanpa sepengetahuannya.
"Hen, jaga ucapan kamu, bisa bicara dengan suara yang pelan, kan?" sanggah ibunya memperingati.
Ia sudah terlanjur memberi perintah pada Mirna asistennya. Namun, ibunya juga sudah terlanjur datang. Apes sekali hidupnya.
"Permisi." Pintu terbuka bersamaan dengan ketukan dari arah luar, membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
Mirna sedikit menunduk dan tersenyum sopan pada mereka semua. "Maaf mengganggu, saya datang sesuai perintah Pak Hendri."
"Mbak ini siapa?" tanya Bu Hajjah.
"Saya asisten Pak Hendri di kantor, Bu," jawab Mirna sopan.
Namun, dibalik itu, ada Fitri yang berdiri ragu di luar kamar Hendri, ia tak menyangka, orang yang meyewa jasa perawat adalah Hendri, pantas saja hal itu sedikit membuatnya bingung dan ragu, ia hanya seorang asisten bidan yang bekerja hanya untuk mendampingi bidan profesional, sesekali hanya menggantikan beberapa perawat untuk mengerjakan tugasnya jika tak dapat hadir. Namun, kenapa ada pasien yang kekeh ingin jasa perawat diberikan padanya.
Ternyata semua terjawab setelah ia berada di depan pintu kamar pasien VIP yang sekarang dihuni oleh Hendri.
Mengingat bonus yang ditawarkan berjumlah tidak sedikit, barulah ia berani menerima jasa perawat tersebut. Jika saja ia tahu pasiennya adalah Hendri, ia mungkin tanpa pikir panjang akan menolak apapun tawaran yang diberikan.
Kenapa bisa ia begitu ceroboh tanpa bertanya siapa gerangan pasien yang akan ia urus tersebut, kenapa malah membuatnya menyesal telah menyetujuinya.
Kini ia mulai grasak-grusuk meremas jemarinya yang telah berkeringat dingin, rasa kesal dan gundah terus bersarang dalam hati dan pikirannya.
"Pak Hendri, orangnya sudah ada di sini," ujar Mirna, lalu membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Fitri untuk masuk.
"Ayo, masuk. Pak Hendri telah menunggu," panggilnya terhadap Fitri. Wanita berpakaian formal berwarna hitam itu mengulas senyum ramah padanya.
Jantung Fitri kembali berdebar tak karuan. Kenapa pria itu selalu saja berhasil memporak-porandakan hati dan jiwanya. Kapan ia baru bisa tenang hidup di dunia ini?
"Tuhan, semoga ada pertolongan darimu, aku benar-benar tak ingin terus bertatap muka dengannya," batin Fitri sembari memejamkan mata di tempatnya, tentu dengan lutut yang terasa lemas dan bergetar.
"Kenapa dia lagi?" sungut Andini dengan raut wajah yang tak bersahabat memandangi Fitri.