Please, Love Me

Please, Love Me
Tidak Bisa Menerima



"Sudah, cukup!" Andini segera memisahkan mereka berdua.


"Kalian berdua ini apa-apaan? Tidak malu di lihat orang?" Masih tak percaya dua pria yang sudah tidak muda lagi malah bertengkar di depan umum.


Hendri dengan kesal melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.


"Kau makin hari, semakin tak tahu malu, selalu merebut apa yang seharusnya kumiliki, dasar bedebah tengil," gerutu Hendri dengan menatap marah pada Rangga.


"Itu karena kau yang tak mampu menjaga milikmu dengan baik, sekarang ingin menyalahkan orang juga sudah terlambat, aku dan Fitri akan segera menikah, jadi kau cepatlah urus surat perceraian di pengadilan." Dengan bangganya Rangga merangkul tubuh Fitri dalam dekapannya, membuat sang pria perkasa itu tak berkutik seketika.


"Fitri," panggilnya sembari menatap Fitri penuh harap, berharap apa yang dikatakan oleh Rangga itu tidak benar.


Fitri belum menjawab apapun, tiba-tiba saja pemberitahuan penerbangan pesawat yang akan membawa Rangga, 10 menit lagi akan lepas landas.


"Mas, bergegaslah, kamu bisa ketinggalan." Fitri segera melepas diri dari rangkulan tersebut, akhirnya ia terselamatkan oleh pengumuman itu. Tak tahu betapa canggungnya saat Rangga tiba-tiba saja mendekap tubuhnya.


"Aku berangkat dulu, jaga dirimu saat aku jauh, jangan beri kesempatan para hidung belang itu untuk merusak semuanya." Rangga memeluk dan mengelus rambut Fitri penuh kehangatan, rasa tak ingin melepaskan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya.


"Aku akan segera kembali," ujarnya lagi sambil melangkah pergi, perlahan menjauh dari mereka.


"Fitri, boleh aku bicara denganmu?" Tak menunggu waktu lama setelah tubuh Rangga lenyap dari pandangan, Hendri dengan segera menegur Fitri kembali.


Ingin menolak, Fitri juga merasa tak enak hati, ia telah memutuskan untuk berdamai, hingga ia pun mengiyakan ajakan Hendri.


Hendri pun membawa Fitri berkeliling dengan mobilnya, cukup lama tidak ada pembahasan, keduanya sama-sama merasa canggung, ini adalah pertama kalinya mereka duduk berdua di dalam mobil semenjak Hendri mengucap kata talak pada Fitri.


"Emm ... Kamu sudah sarapan?" tanya Hendri ragu-ragu.


"Sudah," jawab wanita itu singkat tanpa menoleh.


Hendri mengangguk pelan sembari tangannya menggaruk kepala bagian belakang yang tak gatal, bingung harus memulai topik semacam apa agar hubungan mereka tidak begitu kaku seperti yang terjadi sekarang ini.


Tak lama Hendri menghentikan mobilnya di parkiran sebuah taman. "Kita ngobrol di sana saja, tak masalah, kan?" tanyanya.


Fitri membuka sabuk yang melekat di tubuhnya dan mengangguk pelan, lalu turun lebih dulu tanpa mengatakan apapun.


Sikap Fitri membuat Hendri semakin berdebar tak karuan, debaran yang menandakan sebuah rasa takut, takut jikalau Fitri sebenarnya masih menyimpan rasa marah terhadapnya.


Tak lupa Hendri membeli dua gelas minuman hangat karena cuaca pagi itu sedikit mendung.


"Ini untukmu. Minumlah selagi hangat." Memberikan satu gelas cappucino pada Fitri dan wanita itu pun menerimanya tanpa kata.


Taman itu terlihat sepi, mungkin karena masih pagi dan bukan waktu weekend, terlebih cuaca tidak mendukung untuk beberapa orang datang ke sana.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu." Setelah beberapa menit saling membisu, kalimat yang sama terucap bersamaan di bibir mereka masing-masing.


"Kamu duluan saja," kata Fitri sambil menunduk menatap gelas di tangannya.


"Tidak, kamu saja duluan," tolak Hendri.


Fitri menghela napas. "Sebenarnya kamu tahu sesuatu tentang masalalu aku, kan?"


"Iya," jawab Hendri dengan suara yang lemah.


Fitri tampak tersenyum getir sambil memalingkan wajahnya merasa lucu dan malu.


"Jadi kamu yang sudah menceritakan masalaluku pada Mbak Andini?" tanyanya lagi.


"Iya," jawab Hendri lagi.


Fitri lagi-lagi menyunggingkan bibir tersenyum sinis.


Pantas saja kemarin ada pesan yang menerornya, untung saja Rangga mau membantunya untuk melacak pemilik nomor itu, dan ternyata memang Andini yang mengiriminya pesan tersebut, ia masih bertanya-tanya mengenai perihal di mana Andini mengetahui masalalunya yang kelam itu, ternyata yang memberitahunya tidak lain adalah mantan suaminya sendiri.


"Ck, mungkin baginya, itu adalah sebuah lelucon yang patut untuk diceritakan ke mana-mana," batin Fitri yang masih tak habis pikir kenapa Hendri tega menceritakan masalalu yang buruk itu pada orang lain.


"Sekarang tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan." Fitri tak lagi membahas soal itu, langsung segera bertanya apa yang ingin diketahui oleh Hendri.


"Kamu dan Rangga, apa benar?"


"Ya, itu benar." Dengan cepat Fitri menjawabnya. Tak peduli apa tanggapan Hendri, saat ini hanya itu yang harus ia katakan, agar dirinya tidak lagi diganggu oleh siapapun mengenai masalu tersebut.


"Mengapa kamu menerima lamarannya tanpa mempertimbangkan aku terlebih dahulu." Hendri mengerutkan alisnya.


"Beri aku alasan kenapa aku harus mempertimbangkanmu, Mas?"


"Kamu bukan lagi suamiku, kita sudah bercerai, apa kamu lupa, hm?"


"Tapi aku sudah memintamu berkali-kali untuk kembali menjadi istriku, Fitri. Namun, kamu?"


"Kenapa tidak dari awal kamu mengatakan masalah hubunganmu dengan Rangga?"


"Kamu senang melihatku mempermalukan diri dengan mengemis seperti orang gila di hadapanmu?"


"Kamu seharusnya bisa melihat bahwa aku serius dengan ucapanku, masih belum bisa kamu melihat bahwa aku tulus mengharapkan kamu kembali, Fitri?" Sorot mata yang mengandung sebuah permohonan dan harapan, harapan yang besar terhadap keputusan Fitri agar mau memberinya satu kali kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang dulu sempat ia lakukan terhadap wanita itu.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa menerimamu kembali."


Satu kalimat penolakan yang benar-benar membuat pria itu seketika lemah lunglai, dirinya yang biasanya kuat menghadapi apapun, bisa mengatasi segala permasalahan apapun dalam hidupnya, tapi kenapa?


Kenapa malah tak bisa mengatasi masalah perasaannya terhadap Fitri, sebegitu dalamkah luka yang ia torehkan pada hati wanita itu sehingga tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya?


Ia hanya ingin kembali menjadi suami yang bertanggung jawab, suami yang memberikan kasih sayang dan cinta yang penuh untuk istri dan anak-anaknya kelak bersama Fitri.


Namun, sepertinya harapan dan impian itu hanya akan berhenti di angan-angannya saja, Fitri tak lagi ingin meliriknya, hingga penyesalan pun rasanya sudah sangat terlambat untuk saat ini.


Fitri dapat melihat perubahan raut wajah Hendri yang begitu drastis, dan satu lagi yang tak pernah ia lihat dari pria itu. Sebuah air mata untuknya. Ya, mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Namun, ia berusaha menutupinya sebisa mungkin meski tetap dapat terlihat oleh Fitri sekilas.


Pada akhirnya, apakah mereka benar-benar tak lagi dapat bersama untuk memperbaiki hubungan yang tak sempurna dulu? Apakah hanya bisa semakin hancur dengan hubungan yang terlanjur retak?


Hargai pasanganmu selagi masih bersama, karena yang telah pergi dengan membawa luka tidak akan mampu lagi menghargaimu.