
"Fitri ...." Hendri menatapnya semakin dalam. Tak habis pikir kenapa Fitri bisa mengatakan hal itu terhadapnya.
"Kenapa bicara seperti itu?" tanyanya mengulangi.
Fitri diam saja, kedua tangannya terlipat di depan dada sambil menatap langit gelap di luar sana. Hendri pun menghela napas, beranjak menghampiri wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
Tanpa mengatakan apapun, Hendri melingkarkan tangannya di pinggang Fitri dari belakang.
"Masih marah?" Hembusan napas Hendri menggelitik leher Fitri hingga wanita itu sedikit menjauh.
"Aku hanya tak habis pikir saja, Mas. Baik dulu maupun sekarang, aku tetap menjadi istri kedua, bahkan tak peduli kamu mencintaiku, tetap saja menjadi yang kedua dalam rumah tangga yang seharusnya hanya ada kamu dan aku, tapi sekarang? Ck, aku selalu menjadi bualan para ibu-ibu komplek, mereka pasti benar-benar mengira bahwa aku adalah seorang perebut suami orang." Fitri tampak mengulum senyum getir, masih tak ingin menoleh ke arah Hendri.
"Kenapa kamu memikirkan omongan orang-orang? Bukankah yang penting sekarang kita sudah menikah? Tak peduli mereka mau bilang apa, aku cuma menginginkanmu, tidak ada yang lain." Hendri mencoba menjelaskan, tangannya berusaha untuk meraih Fitri, tapi wanita itu terus menghindar.
"Kamu hanya menginginkanku, tapi kamu menikahi Mbak Andini, Mas. Itu artinya apa?" Fitri menaikkan alisnya berpaling menatap tajam ke arah Hendri.
"Dia mengandung anakku, Fitri," jawab Hendri memelas.
Fitri pun terkekeh merasa lucu. "Ya, itu artinya kamu tidak hanya menginginkanku, tapi juga menginginkan anak itu, Mas!" tegasnya.
Hendri mengusap wajahnya, helaan napas kasar yang terasa begitu berat dan frustasi.
"Lalu aku harus bagaimana, Fitri? Menceraikan Andini sekarang juga?" Hendri tampak semakin lelah.
Fitri diam, keheningan mulai menyelimuti ruangan tersebut.
"Kamu diam lagi, tolong jawab apa yang kamu inginkan." Mimik wajah Hendri tampak menuntut jawaban.
"Aku berjanji akan melakukan tes DNA pada anak itu setelah dia lahir nanti, bisakah kamu menunggu? Hanya tersisa beberapa bulan lagi." Hendri pun duduk di samping istrinya, masih bersikap begitu lembut, tak ingin Fitri terus terbebani oleh masalah pernikahannya dan Andini. Walau bagaimana pun juga ia tak mungkin menyentuh wanita yang tidak ia cintai meski Andini telah sah untuk ia sentuh.
"Terserah kamu saja, Mas. Aku mau istirahat, jangan ganggu." Fitri pun merebahkan diri dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Hendri melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam.
"Tidak makan dulu? Bibik sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Hendri menawarkan sembari menyentuh lembut selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Aku tidak lapar," jawab Fitri ketus.
"Aku bawakan makanan untukmu, ya." Hendri tak menyerah menawarkan demi bisa dapat berbaikan dengan Fitri. Namun, wanita itu tenggelam dalam diam, tak ada jawaban darinya.
Hendri hanya tersenyum pasrah saja, lalu bangkit dan keluar dari kamar itu.
Di meja makan sudah ada Andini menunggu untuk makan malam bersama.
"Mas, kebetulan sekali kamu sudah datang, ayo kita makan." Dengan cepat Andini berdiri menyambut kedatangan Hendri, tapi pria itu hanya memasang wajah datar tak menggubris Andini yang tersenyum cerah padanya.
Melihat Hendri yang menyajikan makanan dan beberapa lauk ke dalam satu piring tanpa duduk terlebih dahulu, ia pun tampak penasaran dan lantas bertanya, "Kamu mau makan di mana, Mas?"
"Bukan urusanmu," jawab Hendri ketus.
Andini tersenyum dengan menggertakkan giginya tampak geram, tak menyangka Hendri semakin bersikap dingin padanya setelah menikah dengan Fitri.
Usai mengambil nasi dan beberapa lauk, Hendri kembali pergi meninggalkan Andini, sementara wanita itu hanya bisa menatap kepergian Hendri dengan kesal, apalagi melihatnya masuk ke kamar Fitri, ia semakin menaruh dendam terhadap madunya tersebut.