Please, Love Me

Please, Love Me
Berdalih



Sebenarnya Hendri hanya menyadari satu hal yang membuatnya yakin bahwa janin yang dikandung Andini bukanlah anaknya.


Diperkirakan tepat pada hari di mana saat itu ia pulang dari rumah sakit dan kepulangan Andini ke Bandung secara mendadak, itu telah berlalu selama empat bulan lebih, sementara usia kandungan Andini baru ingin memasuki delapan minggu, sudah sangat jelas jika anak itu bukanlah berasal dari benihnya, apalagi ia sama sekali tak memiliki ingatan apakah ia benar menyentuh Andini atau tidak, juga hal yang membuatnya yakin bahwa Andini sengaja melakukan itu hanya untuk menjeratnya, teh yang diberikan saat itu membuatnya mengantuk seketika.


Setelah memikirkannya kepala Hendri terasa pusing dan tak dapat tidur, hingga kedua wanita itu pulang bersamaan dan ia disuguhi dengan foto Fitri bersama pria lain, pikirannya sungguh kacau hingga tak bisa berpikir jernih, Fitri menjadi korban dari kemarahannya. Ia sungguh sangat menyesal.


"Itu urusan kalian berdua, sebaiknya kamu selesaikan sendiri." Fitri kini telah merasa muak, mengingat perlakuan Hendri yang barusan begitu kasar padanya, ia tak ingin lagi menatap pria itu.


Kata maaf sudah sering ia ucapkan, tapi apa yang ia lakukan? Selalu dan selalu mengulangi kesalahan yang sama, ia seperti wanita rendahan yang tak pernah ada artinya, selalu menjadi incaran kemarahan Hendri.


Melihat ketidak pedulian Fitri mengenai keputusannya terhadap Andini, Hendri semakin merasa bersalah.


"Kamu bersedia tetap bersamaku?" tanyanya untuk memastikan.


"Sudah dulu, ya, Mas. Aku lelah mau istirahat." Fitri merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi membelakangi Hendri. Saat ini lebih baik bersikap begitu, setidaknya untuk berjaga-jaga jikalau suatu saat ia mendapat perlakuan seperti itu lagi, maka ia tidak akan terlalu sakit.


Hendri tampak menghela napas berat, ia mengusap wajahnya dan memutuskan untuk tidur di sofa, memberi peluang pada Fitri untuk tenang tanpa gangguan.


Keesokan harinya, rutinitas Hendri semakin terasa canggung saat Fitri tak menegurnya, bahkan menatap wajahnya pun tidak sama sekali.


"Andini, bisa bicara sebentar?" panggil Hendri ketika melihat Andini sibuk dengan ponselnya di ruang tamu.


Andini menyimpan ponselnya menatap Hendri, Fitri juga tampak berada di sampingnya.


Wanita modis itu mencebikkan bibir dengan sinis melihat mereka berdua.


"Cih, bisa-bisanya berbaikan begitu cepat setelah bertengkar hebat, wanita ini sangat pandai merayu dengan tubuhnya," benaknya dengan sorot mata yang memandang geli ke arah Fitri.


Hendri dan Fitri pun berjalan mendekat dan duduk di hadapannya.


"Sebaiknya kamu jujur mengenai janin yang ada di kandunganmu, itu bukan anakku, kan?" Hendri langsung pada intinya.


Wajah Andini berubah dengan sekejap, muram dan pucat, ia tak pernah menyangka Hendri akan mempertanyakan tentang kandungannya.


Andini meluruskan tubuhnya duduk dengan tegap. "Maksud kamu apa, Mas?"


Fitri tampak mendengus malas melihat kepura-puraan Andini. "Sudah ketangkap basah masih berdalih," gumamnya.


"Apa katamu? Katakan sekali lagi!" Suara Andini pun mulai meninggi.


"Jika telinga Mbak normal, pasti mendengar dengan jelas apa yang kukatakan barusan," cibir Fitri meledek.


"Kau!" Amarah Andini tertahan ketika melihat Hendri melotot tajam.


"Sebaiknya katakan yang sebenarnya atau kupulangkan kau ke tempat orang tuamu," ancam Hendri dengan serius.


"Apa sih maksud kamu, Mas? Janin ini jelas adalah anakmu, kenapa kamu malah mempertanyakannya?"


"Ini semua pasti karena perempuan ini, kan? Dia yang sudah mencuci otakmu agar percaya dengan semua ucapannya yang jelas-jelas tidak terbukti kebenarannya." Andini balik menyerang Fitri dengan melimpahkan tuduhannya terhadap madunya tersebut.


"Ck." Fitri berdecak sinis, rasanya ia ingin sekali menertawakan Andini yang tanpa sadar sudah menjadikan dirinya sendiri menjadi sebuah lelucon yang jelas-jelas Hendri sudah tahu tentang kebenarannya.