
Hari kedua, ketiga, dan seterusnya.
Fitri tak kunjung sadar dari masa komanya, bahkan tanda-tanda fital satupun tidak menunjukkan bahwa ia akan segera sadar.
Hingga satu bulan berlalu, Hendri masih setia menemani wanita itu terbaring di atas ranjang pasien dengan balutan luka yang masih belum mengering.
"Kapan kamu akan segera sadar?" Sembari mengusap dahi fitri menggunakan handuk kecil yang sudah ia basahi. Rutin setiap hari ia lakukan agar wajah wanita itu tetap bersih.
Hingga di beberapa menit berlalu, tiba-tiba saja satu gerakan terlihat jelas di salah satu jari Fitri. Dan tak lama kemudian, monitor yang mendeteksi irama detak jantungnya setiap saat tiba-tiba mengeluarkan suara penanda bahwa ada sesuatu yang tak normal sedang terjadi pada pasien.
"Fitri, kamu kenapa?" Hendri segera meletakkan handuk yang ditangannya dan segera mengecek semua alat yang melekat di beberapa bagian tubuh, mungkin saja ada yang terlepas, setelah memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan alat itu, Hendri mengecek suhu tubuh Fitri dengan punggung tangannya, sangat dingin hingga Hendri tak menunda waktu lagi untuk ia memencet tombol pemanggil yang ada di bagian samping ranjang.
Tak lama para suster serta dokter bergegas masuk ke ruangan dan mengecek apa yang terjadi.
"Bapak tolong tunggu di luar, Dokter akan melakukan penanganan lebih lanjut pada pasien," ujar salah satu suster yang bertugas.
Dengan sangat tak tega Hendri harus keluar meninggalkan Fitri di dalam bersama para suster dan dokter untuk diperiksa, meski sebenarnya ia ingin tetap di sana walau tak dibutuhkan sama sekali oleh Fitri.
"Siapkan defribrilator," titah sang dokter, berharap dapat membantu pasien untuk mengontrol kembali ritme jantung yang tak normal.
Dan untungnya Fitri segera ditangani dengan cepat hingga dua kali percobaan dapat mengembalikan ritme jantungnya ke fase yang lebih normal.
"Pasien kembali," ujar dokter dan kembali memberikan alat tersebut pada suster pendamping.
Cukup lega setelah dokter mengatakan bahwa pasien dapat diselamatkan kembali, meski belum bisa sadar, itu sudah cukup membuat Hendri bernapas lega dan memiliki harapan lagi untuk melihat Fitri tetap bertahan hidup di dunia ini.
Hingga tiga hari setelah kejadian itu, saat adzan subuh berkumandang, Hendri bergegas bangun dari tidurnya dan menghampiri Fitri yang masih tak bergerak.
"Aku pamit keluar ke mushola dulu, ya. Kamu sendirian di sini tidak apa, kan?" kata Hendri dengan suara yang pelan, meski ia sendiri tahu Fitri tak mungkin bisa mendengarnya. Sebelum benar-benar pergi, tak lupa ia melempar senyum hangat pada wanita itu, berharap setelah kembali, dapat melihat Fitri sadar dari komanya.
~~
Hendri yang baru saja kembali dari menunaikan kewajiban pada sang ilahi, segera mempercepat langkahnya dengan perasaan yang mulai panik, menerobos kerumunan dengan paksa agar ia bisa masuk ke dalam dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Kalian jangan berani-beraninya mendekat, atau aku akan membunuh kalian semua!" teriak seorang pasien wanita yang sedang mengangkat tiang infus yang bahkan selangnya masih melekat di tangan, hingga darah pun tampak keluar melalui selang tersebut. Wanita itu tak lain adalah Fitri.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa kutinggal sebentar tiba-tiba terjadi hal seperti ini?" tanya Hendri dengan kesalnya, kesal karena mereka membiarkan Fitri bersikap menyakiti dirinya sendiri dan tak ada yang ingin menolong.
"Maaf, Pak. Pasien beberapa menit yang lalu sadar dari komanya, dan saat kami masuk untuk pemeriksaan rutin, beliau sudah mengamuk dengan keadaan ruangan yang sudah berantakan, beliau bilang ingin meminta matanya kembali. Sepertinya beliau tidak terima dengan kebutaannya," jawab salah seorang perawat dengan suara yang gemetar, tampak ketakutan dan bahkan terlihat luka memar di dahinya akibat pukulan yang ia dapatkan dari Fitri menggunakan tiang besi tersebut.
Mereka bahkan tak ada yang menyangka ada pasien yang baru sadar dari koma bisa sekuat itu melawan dan bahkan membuat kekacauan hingga menggemparkan beberapa petugas medis.
Hendri mengepalkan tangan merasa tak tega melihat Fitri yang mengamuk dengan mata yang tanpa bisa melihat.
"Fitri, ini aku," ujarnya dengan hati-hati, mencoba mendekati.
Fitri yang mendengar suara Hendri, segera mengayun tiang besi di tangannya secara asal sebab hanya bisa mendengar tanpa mengetahui dengan jelas letak keberadaan Hendri.
Namun, tiba-tiba saja.
Bruk!
Itu berhasil mengenai kepala Hendri hingga darah segar pun mengalir di dahinya. Rasa perih di dahinya tak membuat ia menyerah untuk mendekati Fitri, mau berapa kalipun ia mendapatkan pukulan, ia akan tetap ada untuk wanita itu.
"Pria brengsek, semua ini karenamu, aku buta karena kesalahanmu!" teriak Fitri histeris, kenapa harus dirinya yang mengalami kebutaan, sementara lelaki yang menjadi penyebab malah sehat dan hidup dalam keadaan baik-baik saja. Sebenarnya dosa apa yang pernah ia lakukan hingga dirinya selalu saja mendapat musibah tiada henti.
"Fitri, maafkan aku," lirihnya.
"Pergi kau! Dasar pria naif!" jerit Fitri dengan geramnya. Entah kenapa kata-kata itu seperti sebuah benalu yang menusuk. Sebenci itukah Fitri padanya? Langkah Hendri terhenti sembari menatap sendu ke arah wanita itu, ia seperti tak ada gunanya berada di sana, ia bukanlah orang yang diharapkan dan dipercayai oleh Fitri, lantas siapa yang diharapkan Fitri, siapa orang kepercayaan Fitri yang dapat datang untuk menenangkan hati wanita itu?