
"Lepaskan aku." Kini suara Fitri terdengar tak ada gairah sama sekali, ia lelah terus berteriak, ingin menenangkan pikirannya.
Hendri meraih pakaiannya yang tadi sempat ia lepas, lalu memakainya dan mendekati Fitri yang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Ia paham, sangat paham jika kali ini Fitri seperti wanita yang mati rasa terhadapnya, berulang kali ia menyakiti dan melukai perasaan wanita itu, ia tak ingin menuntut pemaafan darinya meski ia tahu Fitri pun mungkin tak sudi memberikan kata maaf itu.
Melihat Fitri tak bicara, ia kembali bangkit menuju ke lemari pakaian, memilih satu set pakaian tidur untuk istrinya. "Ini, kamu pakai dulu." Pakaian itu ia letakkan di samping Fitri. Namun, bahkan sekedar meliriknya pun tidak sama sekali, wanita itu diam seribu bahasa tak ingin menanggapi.
"Kamu sudah makan malam? Mau dibuatkan sup?" tanya Hendri lagi, ia terus mencoba untuk membujuk Fitri agar mau bicara. Sikap diam wanita itu sebenarnya adalah yang paling ia takuti ketimbang melihat Fitri marah besar dengan segala kata kasar yang keluar, jika diam seperti itu, ia sungguh tak mengerti ingin berbuat dan berkata apa untuk membujuknya.
"Aku bantu kamu keringkan rambut, ya." Lagi dan lagi, meski tak mendapat respon dari Fitri, Hendri tetap memutuskan untuk beranjak mengambil hair dryer di dalam laci, tapi sebelum ia menemukan apa yang ia cari, tiba-tiba saja sebuah kalimat tak mengenakkan keluar dari mulut Fitri.
"Aku akan mengalah."
Mendengar kata mengalah, Hendri sebenarnya cukup tahu tentang maksudnya, Fitri pasti ingin pergi.
Tatapan mata Hendri tampak nanar, ia tak mampu berucap apapun lagi.
"Biarkan aku pergi, Mas. Aku lelah berpura-pura kuat selama ini, aku juga berhak bahagia, bukan?" Sorot mata Fitri tak kalah sayu dan menyayat.
"Kamu mau pergi ke mana, Fitri?"
"Ke manapun itu, kamu tidak perlu tahu, Mas. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan berjodoh, hanya kita saja yang terlalu memaksakan diri untuk bersama, dan pada akhirnya tetap saja saling melukai." Fitri meraih piyama yang diberikan Hendri tadi dan memakainya perlahan.
Ucapan Hendri membuat Fitri menghentikan gerakannya, menoleh pada Hendri sejenak.
"Dengan menceraikannya, kamu yakin rumah tangga kita akan baik-baik saja?"
Hendri tampak diam, dan Fitri melanjutkan kata-katanya, "Yang dibutuhkan dalam rumah tangga adalah sebuah kepercayaan, mau kamu menceraikan Mbak Andini ataupun tidak, itu tidak akan memberi pengaruh apapun selama kamu sendiri tak bisa mempercayaiku, Mas."
"Aku sudah berusaha semampuku, tapi kamu tak bisa berjuang demi aku, Mas. Semenjak kamu memutuskan untuk tak mempercayai ucapanku, saat itu pula kamu juga menghancurkan hubungan kita, apa kamu belum juga sadar akan hal itu?" lanjutnya, tatapan Fitri sungguh membuat Hendri tak dapat berkutik.
"Mari akhiri semua ini, Mas. Hiduplah dengan rencanamu dan biar aku hidup dengan caraku."
"Tidak, Fitri. Ayo jalani sekali lagi! Aku siap mendapat ganjaran darimu jika sampai berani membuatmu terluka lagi." Hendri tak ingin mendengar kata perpisahan lagi, Fitrilah sendiri yang memintanya untuk menikahi, kali ini ia tak akan melepaskan begitu saja.
"Sebenarnya aku sudah tahu bahwa Andini tidak mengandung anakku," ujar Hendri dan itu berhasil membuat Fitri kembali menoleh dengan alis yang berkerut.
"Maksud kamu?"
"Andini mengandung anak orang lain, dan aku baru menyadarinya saat ini." Wajah Hendri tampak begitu serius, ia yakin dengan apa yang ia ucapkan barusan, telah bertekad untuk melepaskan salah satunya dan yang pasti bukan Fitri.