
Tak peduli Sekeras apapun Hendri berusaha meyakinkan wanita itu, tetap tidak mampu membuatnya kembali seperti dulu. Salahnya kenapa tidak menggunakan waktu bersama Fitri dengan bersikap baik sebagai seorang suami, hingga hati lemah itupun tak lagi mampu menerimanya.
"Aku terima apapun keputusan yang kamu ambil, dan maaf pernah melukaimu beberapa kali dengan kata kasarku," lirih Hendri dengan suara yang sedikit parau.
Meski bibir berucap rela, tapi tak dapat dipungkiri hatinya meronta, berontak, tak terima jika pada akhirnya Fitri tak mampu ia dapatkan kembali.
Menjadi sebuah pelajaran, bahwa seseorang yang pernah tulus, jika disakiti mereka juga sulit untuk kembali apalagi melupakan.
"Aku mau pulang," ujar Fitri sembari beranjak dari tempatnya.
"Aku antar kamu." Hendri buru-buru bangkit.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolaknya lagi. Dan tiba-tiba saja hujan dengan derasnya mengguyur bumi, seakan mengerti akan suasana yang menyedihkan yang dirasakan oleh dua insan yang saling terjebak pada rasa yang masing-masing tengah melanda. Membuat Hendri segera menarik lengan wanita itu untuk ikut bersamanya masuk ke mobil.
"Untuk kali ini saja aku mengantarmu, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, aku tak akan bisa tenang jika membiarkanmu mencari tumpangan untuk pulang dengan cuaca seperti ini," ucapnya setelah masuk ke mobil, sembari memasangkan sabuk pengaman untuk Fitri, membuat jantung Fitri sendiri berdetak cepat saat mendapati wajah Hendri yang terlalu dekat dengannya.
"Kontrol hatimu, Fitri. Tolong jangan goyah," batinnya sembari mencoba untuk tetap tenang.
Hendri lupa mengecek ramalan cuaca hari ini, saking terburu-burunya berangkat dari rumah hingga tak tahu bahwa akan turun hujan begitu derasnya.
Guyuran air membuat pandangan sedikit buram meski wiper kaca mobil terus bergerak menyapu air yang mengahalang.
"Mas Hen, awas!"
Seketika Hendri terkejut mendengar teriakan Fitri yang histeris, rupanya ada sebuah truk besar yang juga sedang melaju di kelokan tepat di samping Fitri, hingga hanya wanita itu saja yang dapat melihatnya.
Duakk!
Seketika detik itu juga, secara bersamaan mobil dan truk saling menyapa dengan sebuah tabrakan yang begitu hebat.
Mobil yang dikendarai Hendri seketika terseret hingga hampir memasuki jurang, jika tidak ada penghalang, mungkin dua insan itu akan ikut terjun dengan mobil sekaligus.
Cairan merah segar ikut mengguyur lantai aspal yang sudah menyatu dengan air hujan.
Fitri tak sadarkan diri di tempat, sementara Hendri, samar-samar masih dapat melihat meski sulit untuk membuka mata dengan sempurna.
"Fitri," lirihnya dengan suara yang begitu lemah.
"Bertahanlah." Ia masih dapat menjangkau tangan Fitri dan menggenggamnya dengan erat, takut terjadi sesuatu pada wanita itu meski keadaannya sendiri sangat memperihatinkan.
Saat itu juga aktifitas pengendara dihentikan sementara untuk daerah kawasan terjadinya kecelakaan tersebut, para pengendara ikut turun tangan untuk membantu menggotong korban agar segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Beberapa jam setelah ditangani oleh dokter, kedua orang tua Hendri datang dengan terburu-buru, wajah cemas sekaligus panik tak dapat di elakkan.
"Anak itu bodoh atau bagaimana? Dia baru pulang dari rumah sakit karena anemia, masih berani-beraninya dia tidak istirahat di rumah dan keluyuran di jalan tanpa sopir, dia pikir dirinya superhero yang bisa melakukan segalanya?" gerutu Pak Haji dengan geramnya.
"Sudahlah, Yah. Jangan memaki anakmu, saat ini dia hanya butuh doa dari kita, bukan celotehan yang tak jelas," tegur istrinya.
"Biar dia tahu rasa, sudah berkali-kali diberi nasihat bukannya didengar malah diabaikan, merasa diri paling benar hingga tak membutuhkan orang tua." Orang tua itu masih tersulut amarah, hingga istrinya pun tak dapat untuk mencegah.
Mata itu terasa begitu berat untuk dibuka, tapi pikirannya terus kacau hingga memaksakan diri untuk bisa sadar sepenuhnya.
"Hendri, kamu sudah bangun? Alhamdulillah ya Allah, akhirnya dia sadar juga." Bu Hajjah tampak begitu senang ketika melihat anak semata wayangnya itu akhirnya membuka mata.
"Bunda, sejak kapan kalian ada di sini?" Suaranya masih terdengar sayup, tenggorokannya benar-benar terasa kering hingga sang ibunda pun paham dan segera meraih segelas air dan memberikannya pada Hendri.
"Sudah dua hari semenjak kamu mengalami kecelakaan itu, Bunda kira kamu tak akan sadar lagi, tapi alhamdulillah Allah menjawab doa Bunda, kamu akhirnya sadar juga, Nak." Tak dapat dipungkiri betapa bahagianya seorang ibu ketika melihat sang anak tersayang akhirnya kembali dari tidurnya yang begitu panjang.
"Apa ada yang tidak enak? Katakan pada Bunda." Ia lagi-lagi cemas ketika Hendri diam saja.
"Bunda barusan bilang dua hari? Maksudnya aku tak sadarkan diri selama dua hari?" Hendri tampak terbelalak, terkejut kenapa ia bisa begitu terlambat sadar dari kecelakaan itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Bu Hajjah heran, sementara ayahnya saat ini tampak tak peduli, meski di dalam hati sebenarnya ia juga senang melihat anaknya yang telah terbebas dari masa kritis selama dua hari berlalu.
"Fitri," ucapnya cemas.
"Lalu Fitri bagaimana? Bagaimana keadaannya sekarang?" desak Hendri yang sangat ingin tahu mengenai kondisi wanita itu sekarang.
Bu Hajjah tampak diam saja, ia tak berani untuk mengatakan apapun mengenai Fitri, takut malah mempengaruhi proses penyembuhan anaknya.
"Jawab aku, Bun." Hendri tak berhenti, sebelum ia mendapatkan jawaban.
"Lupakan anak itu, Hen," ucap Bu Hajjah lirih, sungguh tak ingin Hendri terus terbebani dan takut anaknya itu merasakan frustasi untuk kedua kalinya dengan kejadian serupa.
Hendri semakin panik, tak tahu harus berbuat apa, sorot mata ibunya menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi, hingga ia seakan tak berani untuk menghadapi kenyataan jika itu benar-benar harus dirasakan kembali seperti sebelumnya.