Please, Love Me

Please, Love Me
Jangan Pura-Pura Tegar



"Pergi kau sekarang, berani kau menyentuh Fitri, tamat riwayatmu!" ancam Hendri dengan tegas.


"Hen, tenang dulu." Sembari menyeka sudut bibirnya yang terasa perih, menjaga jarak agar Hendri tak lagi-lagi memukul ke arahnya.


"Kubilang pergi sekarang!" serunya semakin kesal.


"Oke-oke, aku pergi sekarang." Rangga tak lagi membujuk, ia menyerah dan memutuskan untuk menjauhi Hendri.


"Aku titip Fitri, jaga dia sebaik mungkin, jika kau tak menginginkannya, maka lepaskan, tapi jika kau menaruh rasa padanya, maka tolong jangan sia-siakan, jangan buat dia sedih. Jika tidak, bahkan aku tak akan bisa memaafkan diriku," ucapnya begitu lemah, sembari melangkah perlahan melewati Hendri dan keluar dari ruangan.


"Fit, aku harus kembali. Kamu jaga diri sebaik mungkin, jika kamu merasa tersiksa, maka kabur saja." Rangga masuk ke dapur untuk berpamitan. Sementara Niko dengan setia menunggunya di depan rumah.


"Lho, Mas. Kok pergi? Masakan bahkan belum jadi, tidak makan malam bersama dulu? Kapan lagi kalian bisa kumpul, bahkan ada Mas Niko juga di luar." Fitri tampak bingung melihat Rangga yang tiba-tiba pamit ingin pergi, lebih heran lagi ketika melihat sudut bibir Rangga yang memerah.


"Aku buru-buru, ada pekerjaan yang tertunda. Sudah melihatmu dalam keadaan baik-baik saja, aku sudah bisa tenang. Hiduplah bahagia, ya." Rangga mengelus rambut Fitri dengan lembut, begitu tak rela ingin meninggalkan, tapi mau bagaimana lagi, wanita itu telah menentukan pilihannya.


"Mas, kamu bertengkar sama Mas Hendri?" tanya Fitri penasaran.


Rangga tersenyum kecut. "Bahkan kamu dapat menebaknya."


"Tapi sudahlah, jangan dipikirkan, ini berawal dari kesalahanku. Jadi sangat wajar jika Hendri marah. Titipkan salam damaiku padanya. Semoga suatu saat dia ingin memaafkanku dengan sukarela." Ia berusaha untuk tetap tersenyum tegar meski hati begitu gelisah.


"Jadi ... benar-benar mau pergi sekarang? Tak ingin makan dulu?" tanya Fitri sekali lagi.


Rangga mengangguk. "Jaga diri baik-baik." Tersenyum, lalu berbalik arah dan keluar dari rumah, Fitri membuntutinya dari belakang untuk mengantar hingga ke teras.


"Sudah?" tanya Niko datar. Melihat raut wajah Rangga yang tak bersemangat, ia tak menuntut jawaban apapun lagi, meski tanpa dijelaskan pun, ia mengerti apa yang sudah terjadi.


"Sialan," celetuk Rangga sembari menyikut tubuh Niko.


"Nanti aku sampaikan. Kalian hati-hati di jalan, ya." Fitri membalasnya dengan senyuman.


"Pasti."


Fitri masih tetap berdiri di teras hingga mobil yang dua pria itu kendarai benar-benar lenyap dari pandangan.


Perlahan Fitri membuka pintu kamar Hendri dan melihat pria itu sedang duduk termenung di pinggiran ranjang.


"Mas Hen, boleh aku masuk?" tanyanya meminta izin.


"Masuklah," jawab Hendri.


"Kamu kenapa, Mas?" tanyanya sambil duduk di samping Hendri.


"Tidak apa-apa." Pria itu memalingkan wajahnya.


"Apa boleh kamu jangan tanya-tanya dulu tentang masalahku dan Rangga?" pintanya baik-baik. Kali ini sungguh moodnya begitu hancur, tak ingin ada pembahasan tentang kejadian tadi.


Fitri mengangguk mengerti. "Aku tidak bermaksud untuk menanyakan apapun. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa Mas Niko titip salam padamu. Dia minta maaf karena tak masuk untuk menjengukmu."


Hendri tampak diam saja, hingga pada akhirnya, ia menjatuhkan kepalanya di bahu Fitri, begitu lemah tiada tenaga. Ia ingin meminjam bahu wanita itu sekejap untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk tak tentu arah.


Fitri tampak iba pada pria yang dulu pernah menjadi suaminya itu, mengelus kepala Hendri dengan lembut dan hangat, ia tak berharap pria itu terus menunjukkan sisi tegarnya, hingga menekan batinnya sendiri. Dengan begitu, ia merasa berguna karena dapat menjadi sandaran bagi Hendri saat pria itu tak ingin mengadu tentang masalahnya, kadang kala pria tidak perlu terus menunjukkan sisi tegar yang sebenarnya adalah kerapuhan yang mendalam di lubuk hati.