
1 bulan kemudian.
"Mas, Mas Hen!" teriak Fitri dari arah ruang tamu, berlari cepat menghampiri Hendri di kamar, pria ini memang lebih sering menghabiskan waktunya di kamar semenjak mengalami kebutaan pada matanya.
Hendri buru-buru berdiri dan mencoba mencari pintu, panik ketika mendengar teriakan Fitri.
"Mas."
"Kamu kenapa, ada apa?" tanyanya cemas.
Masih berjarak dua langkah, Fitri tiba-tiba melompat memeluk Hendri, pria itu kehilangan keseimbangan karena tak menyangka Fitri akan memeluknya dengan tiba-tiba.
Bruk!
Mereka jatuh bersamaan di lantai, bukannya merasa sakit, Fitri masih terus memeluk Hendri dengan tertawa senang.
Hendri yang tadinya panik, seketika tersenyum lucu. "Kamu kenapa, hm?" tanyanya merasa gemas terhadap wanita itu.
"Aku sangat senang, Mas. Sangat senang," jawab Fitri dengan senyum yang semakin lebar.
"Iya-iya, kita bangun dulu, bagaimana caranya berbicara dengan keadaan seperti ini."
Fitri seketika tersadar bahwa tubuhnya menindih tubuh Hendri, dan dia bahkan dengan gembiranya mencekik Hendri dengan tangan yang melingkar di leher pria itu, membuat Hendri sendiri terasa sesak dengan pelukannya, tapi ia juga cukup senang.
Bergegas Fitri bangkit dan membantu Hendri bangun. "Maafkan aku, Mas. Aku sangat senang hingga lupa segalanya."
"Tidak apa-apa. Memangnya kamu senang kenapa?"
"Benarkah?" Hendri ikut tersenyum, ada rasa lega mendengarnya, dengan begitu ia bisa segera melihat kembali.
"Ayo-ayo, kita siapkan barang-barangmu yang akan dibawa ke rumah sakit." Fitri kembali menggandeng tangan Hendri masuk ke kamar, mendudukkan pria itu di tepi ranjang sementara ia sibuk memilah beberapa pakaian Hendri untuk dibawa.
"Kamu tampaknya lebih bersemangat dariku," sahut Hendri ketika mendengar tapak kaki Fitri yang bersahut-sahutan ke sana kemari.
"Tentu saja, aku tidak sabar menjadi orang pertama yang menyaksikanmu dapat melihat kembali," jawabnya penuh semangat dan percaya diri.
Hendri hanya bisa tersenyum samar, ia juga berharap operasi bisa berjalan lancar hingga tidak membuat kecewa wanita yang sedang menunggunya.
Setengah bulan yang lalu, entah kenapa ia tak pernah menyangka bahwa Fitri mengatakan perasaan yang ia rasakan, tentu saja ia sangat senang mendengar hal itu, ternyata cintanya kali ini tidak bertepuk sebelah tangan, tapi di lain sisi, ia juga merasa kecewa karena tak bisa langsung memperistri wanita yang ia cinta dalam keadaannya yang tidak sempurna, takut Fitri akan hidup menderita melayani suami buta sepertinya, sementara ia sendiri tidak tahu kapan kebutaannya itu akan berakhir.
Beberapa hari setelah operasi.
Jantung Fitri semakin berdegup kencang saat dokter mulai membuka balutan perban di mata Hendri, harap cemas terus menyelimuti, rasa takut pemulihannya tidak sesuai dugaan dan membuat Hendri tetap dapat melihat, tapi ia segera menepis perasaan itu dengan cepat, merubahnya menjadi hal yang positif, yakin bahwa semua akan berjalan lancar.
Setelah mata Hendri terbuka sempurna, Fitri dengan cepat bertanya, "Bagaimana, Mas? Kamu bisa melihatku?"
Melihat raut wajah Hendri yang tak mendukung rasa senangnya, Fitri kembali menarik senyum di bibir.
"Kamu kenapa, Mas?" Wajahnya berubah tak sedap.
"Kamu tidak bisa melihatku?" tanyanya lagi ketika Hendri diam saja.
Hendri menggeleng pelan. Hal itu membuat dada Fitri terasa sesak, sulit mengatur napasnya meski telah berusaha untuk tetap tenang.