Please, Love Me

Please, Love Me
Hanya Ingin Bertemu



"Dokter, kenapa dari awal Anda tidak mengatakan bahwa pendonor itu adalah Hendri sendiri? Kenapa tidak minta persetujuan dari saya dulu sebelum melakukan operasi?" Fitri tampak kesal dengan wajah yang memerah.


"Ini kemauan beliau sendiri, saya hanya melakukan apa yang diminta olehnya," jawab dokter yang ikut prihatin, tapi juga tak dapat berbuat banyak. Ia sudah berusaha untuk menutupi, tapi tetap saja kebohongan itu tercium oleh Fitri.


Meski belum pulih total, Fitri memutuskan untuk keluar dari rumah sakit, ia menjinjing tas pakaiannya meninggalkan sang dokter di ruangan itu tanpa mengatakan apapun lagi.


"Ini benar-benar gila, kenapa kamu harus melakukan semua ini, Mas?" Matanya terus menerawang jauh pada barisan bangunan yang menjulang tinggi sepanjang perjalanan menggunakan taksi, ia hanya diam membatu di kursi belakang, sesekali mengamati beberapa mobil yang mendahului mobil taksi yang ia tumpangi.


"Aku berharap kamu masih di sana," gumamnya dengan suara tipis.


Sopir taksi pun mendengar dan mengamatinya melalui kaca spion. "Mbak baik-baik saja?" tanyanya.


"Tidak apa, Pak. Lanjut fokus saja ke tujuan," jawab Fitri datar.


"Wajah Mbaknya pucat begitu, apa mungkin belum makan? Mau singgah untuk makan terlebih dahulu tidak? Saya takutnya Mbak malah gak kuat jika dipaksakan tetap jalan." Sopir tampak tak tega melihat raut wajah Fitri yang tak bersemangat.


"Saya baik-baik saja, Pak. Lanjut saja, saya tidak akan kenapa-napa." Memang terlihat lemah, bukan hanya diluar, sesungguhnya di hatipun memang begitu, ia lemah setelah mengetahui kenyataan yang menguntungkannya, tapi malah begitu merugikan orang lain.


Jika boleh memilih, ia ingin tetap tak melihat daripada harus Hendri yang menggantikan posisi itu. Apa ia yang terlalu egois selama ini? Pria itu berulang kali meminta maaf padanya, tapi ia selalu saja memberikan kata-kata yang menyakiti hati, selalu mengungkit kesalahan Hendri sementara ia lupa akan kesalahannya sendiri terhadap pria itu, yang mungkin dengan tanpa sadar sering ia lakukan.


Tak terasa air mata itu menetes, tak menyangka, orang pertama yang peduli padanya adalah orang yang selama ini selalu ia cekam akan masalalu yang seolah dirinya paling tersiksa, hingga lupa seberapa tersiksnya orang lain akan sikapnya yang kekanakan.


"Mbak menangis?" tanya sopir itu lagi, masih terus memantau Fitri di belakang.


Segera dengan cepat wanita itu mengusap air matanya dan menghela napas berat. "Saya baik-baik saja, jangan pedulikan saya, Pak."


Tak lama, mobil berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua, dengan pagar besi yang menjulang tinggi.


Satpam yang mengenali Fitri, segera membukakan pagar tersebut agar wanita itu bisa masuk ke dalam.


"Terimakasih, Mang," ucap Fitri sembari tersenyum ramah.


"Sama-sama, Non."


Fitri kembali menatap rumah tersebut, ia ragu apakah bisa bertemu Hendri atau tidak, takutnya malah diusir oleh keluarga Hendri.


"Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam sambil memencet bel yang ada di samping pintu.


Tak lama pintu terbuka, terlihat pelayan rumah tersenyum padanya.


"Mau cari siapa, Mbak?" tanyanya yang memang tak mengenali Fitri karena baru dua minggu bekerja di sana.


"Saya mau cari Mas Hendri, apa beliau ada di sini?" tanya Fitri sopan.


"Tuan Hendri, ya? Mm ...." Pelayan itu tampak menggaruk tengkuknya dengan ragu.


"Siapa, Bik?" Terdengar suara yang tak asing dari dalam.


"Ini, Non. Mbaknya cari Tuan Hendri."


Lagi-lagi mereka kembali bertatap muka, kali ini Andini tampak lebih dapat menahan emosinya ketika melihat wanita yang datang.


"Mau apa lagi kau datang ke sini, hah? Masih belum puas? Apa lagi yang mau kau ambil, kau menginginkan jantung Hendri? Kau menginginkan dia mati, kan, sebenarnya?" Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Fitri sinis dan jijik.


"Melihat keadaannya? Hng, dengan kata lain kau ingin menertawakannya, kan? Kau senang jika melihat dia tak mampu melihat lagi, ini yang kau mau, kan, perempuan murahan?" cibir Andini dengan tersulut marah.


"Mbak, tolonglah. Tak peduli Mbak mau berpikiran apapun tentang saya, saya ingin bertemu Mas Hendri sebentar, itu saja," pintanya dengan raut yang tampak begitu sedih.


"Selama aku ada di sini, tak akan kubiarkan kau bertemu dengannya."


"Kau itu wanita pembawa sial!" hardiknya lagi tanpa memedulikan perasaan Fitri.


"Mbak, tolong izinkan aku." Fitri meraih tangan Andini benar-benar memohon agar diperbolehkan untuk bertemu Hendri.


"Lepaskan!" Andini menepis tangannya sembari mendorong tubuh Fitri hingga tubuh wanita itu jatuh dan terbentur ke lantai.


"Pak Satpam!" teriak Andini dengan marahnya.


Satpam berlari terbirit-birit menghampiri, terlambat sedikit saja, ia bisa dipecat detik itu juga.


"Bawa pergi wanita gila ini, kamu akan saya pecat jika dia sampai lolos masuk ke sini lagi!" titahnya begitu geram.


"Baik, Non."


"Nona Fitri, maafkan saya." Pria paruh baya itu tampak tak tega, tapi jika tidak melakukan apa yang diperintahkan, ia takut akan benar-benar dipecat dan lantas tak bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.


"Saya bisa bangun sendiri, Mang." Dengan tergopoh-gopoh, Fitri berusaha untuk bangun sendiri tanpa bantuan.


Ia pasrah, keluar dari halaman rumah hingga dikuncikan pagar oleh satpam tanpa boleh masuk lagi.


Namun, itu tak membuatnya menyerah, ia ingin tetap menunggu, meski tak tahu sampai kapan, setidaknya ia masih memiliki harapan bahwa bisa bertemu Hendri lagi asal memiliki cukup kesabaran untuk menunggu.


Fitri berjongkok dan menyenderkan punggung di pagar besi, hari tampak mendung dan sepertinya akan turun hujan, tapi tak membuatnya menyerah atas penantiannya, ia masih yakin bisa bertemu Hendri lagi.


"Non, sebaiknya Anda pulang saja, sudah sore dan langitpun tampak mendung, Anda tidak dapat berteduh di sini jika hujan turun." Pria paruh baya itu merasa tak tega melihat Fitri yang terus menunggu bahkan berjam-jam lamanya, udara terasa semakin sejuk, ia ingin memberi Fitri masuk, tapi takut manakala teringat wajah sangar Andini yang terus mengancam pekerjaannya.


"Saya tidak apa-apa, Pak. Tolong jangan usir saya, saya hanya ingin menunggu di sini dan bertemu dengan Mas Hendri."


"Tapi, Non. Pak Hendri juga tidak akan turun menemui Anda, Mbak Andini tidak akan memberitahu keberadaan Anda di sini."


"Tidak apa-apa, saya yakin dia akan menyadari keberadaan saya." Fitri tetap kekeh dengan keyakinannya.


Pak satpam hanya bisa pasrah dan membiarkan Fitri melakukan apa saja yang dia mau, setidaknya dia sudah memberi nasihat untuk pulang saja, jika wanita itu tetap ingin menunggu, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Benar saja, malam hari setelah usai sholat maghrib, hujan pun turun dengan derasnya, hingga tubuh mungil itu pun mulai menggigil setelah satu jam terguyur hujan tanpa berteduh.


"Aih, sampai kapan dia bisa bertahan di bawah curahan hujan yang begitu deras hanya dengan tubuh kecilnya itu?" gumam pak satpam sambil mengamati Fitri dari tempat posnya berjaga.


"Tuan, gadis kecil itu masih di sana menunggu Anda," ujar sang pelayan saat membawakan menu makan malam ke kamar Hendri.


"Apa? Hujan deras begini dia bahkan masih menunggu?" Hendri benar-benar tak menyangka Fitri bisa senekat itu hanya untuk ingin bertemu dengannya.


"Apa dia sedang kehilangan otak? Bagaimana mungkin membiarkan tubuh lemahnya kehujanan hingga berjam-berjam?" batin Hendri tak habis pikir. Tangannya terkepal kuat merasa kesal kenapa ia tak bisa berbuat apa-apa.