Please, Love Me

Please, Love Me
Berkecamuk



Suara ketukan pintu tiba-tiba menyadarkan Fitri dari lamunan, sekilas ia melihat Hendri dan pria itu pun melirik ke arahnya sejenak sebelum berdiri untuk membuka pintu.


Karena ruang tamu dan pintu utama berjarak tidak jauh, Fitri pun dapat melihat siapa gerangan yang datang bertamu.


Andini.


Ya, wanita itulah yang kini berdiri di hadapan Hendri dengan bibir yang tersenyum.


"Hari ini jadi, kan?" Fitri mendengar jelas pertanyaan Andini terhadap Hendri, dan diberi anggukan oleh pria itu plus sebuah senyuman.


Dia benar-benar mampu menutupi segalanya.


Hendri menoleh ke belakang sekali lagi memandang ke arah Fitri, lalu berkata, "Aku dan Andini akan pergi, setelah kamu bereskan barangmu dan ingin keluar, tolong pintunya dikunci."


Tanpa mendengar jawaban Fitri, ia langsung berpaling dan pergi begitu saja bersama wanita yang baru saja tiba di rumahnya.


Fitri menghela napas begitu dalam mendengar debaman pintu yang tertutup rapat.


Memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali. "Baiklah," gumamnya.


"Kenapa?"


"Kau kenapa, Fitri?" Ia pun mulai berbicara pada dirinya sendiri.


"Kau tidak perlu gugup, bukan?" Sembari terus menyadarkan dirinya bahwa apa yang terjadi barusan itu benar-benar nyata.


"Bukankah ini yang memang kamu inginkan? Sekarang kamu sudah terlepas dari belenggu pria itu, kamu bisa lebih bebas, kan?"


"Ya, kamu tidak perlu memikirkannya, apalagi menyesalinya." Sambil berusaha untuk tersenyum meski terlihat sangat dipaksakan.


"Sekarang yang harus kamu lakukan, langkahkan kaki menuju kamarmu, dan bereskan semua barang-barang, lalu pindah dari rumah ini." Sembari berjalan dengan langkah gontai dan pikiran yang berkecamuk.


"Mas Hendri, kamu baik-baik saja, kan?" tanya wanita di sampingnya.


"Ah, ya. Aku baik-baik saja." Hendri kembali tersadar dari lamunan.


Masih mencerna dengan baik mengenai apa yang terjadi barusan, apa yang ia ucapkan benar-benar diluar kendali.


Andai saja, jika ia sedikit bisa meredam perasaan kecewa itu, mungkin ia masih bisa mempertahankan rumah tangganya, tapi hanya saja hidup ini tidak ada yang namanya berandai-andai, itu hanya khayalan saja.


"Tidak, pasti ada sesuatu, kamu tidak seperti ini sebelumnya." Andini masih berusaha bertanya sampai Hendri ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Hendri memijit alisnya merasa pening, lalu menatap Andini dengan mata yang sayu. "Ini salahku," ujarnya, lalu kembali menenggelamkan wajah.


"Maksud Kamu apa, Mas?" Andini tak mengerti.


Ia pun kembali menggeleng lemah. "Baru saja aku menjatuhkan talak pada Fitri." Bahkan suaranya pun terdengar parau.


"Hah?"


Andini tercengang, sedikit terkejut, kenapa begitu tiba-tiba.


Namun, melihat wajah gusar Hendri, ia tak ingin banyak bertanya, biarkan urusan itu menjadi rahasia mereka saja, ia tak perlu tahu apapun alasan Hendri menceraikan Fitri.


"Aku yakin kamu tahu dengan perasaanmu sendiri, Mas. Jika memang dia tidak baik menurutmu, maka kamu berhak melepaskannya," ujar Andini.


"Toh hidup ini sebenarnya hanya mengikuti alurnya saja, ke mana kita membawanya, maka ke sanalah arah perginya," pungkasnya lagi.


"Aku percaya pada keputusanmu." Andini menepuk bahu Hendri memberi semangat.


"Terimakasih."


"Kamu tidak menyalahkanku saja, aku merasa sedikit dihargai." Hendri pun kembali tersenyum.


"Hah!"


Di lain sisi, kini Angel tampak begitu terkejut mendengar pernyataan Fitri yang diceraikan oleh suaminya.


"Apa semua lelaki di dunia ini sama saja? Marah sedikit, langsung kasih talak."


"Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan seorang wanita yang dicampakkan begitu saja?"


Tampak wajahnya benar-benar marah, seperti seekor harimau betina kehilangan anaknya, yang sewaktu-waktu siap menerkam kapan saja.