Please, Love Me

Please, Love Me
Hendri Pingsan



"Kamu baik-baik saja, Fit?" Angel segera menghampiri ketika Fitri kembali.


Mengangguk pelan dan tersenyum. "Aku baik-baik saja."


"Ngel, aku mau pulang, kamu mau ikut atau tetap di sini?" tanya Fitri.


"Tentu saja aku ikut bersamamu, untuk apa aku di sini?" Dengan cepat Angel menjawab.


Fitri balik menatap Rangga. "Mas, maaf aku tidak bisa bergabung dengan kalian di sini, aku ingin pulang lebih dulu," ujarnya.


Rangga segera bangkit dari tempatnya dan menghampiri Fitri. "Apa Hendri melukaimu?" tanyanya dengan suara yang begitu hangat.


Fitri menggeleng lemah.


"Fitri, katakan saja jika memang dia berani berbuat yang tidak-tidak ataupun menyakitimu, aku ada di sini untuk membalaskannya untukmu." Rangga terus mendesak.


"Jaga ucapanmu, Hendri bukan tipe lelaki yang bisa kasar pada wanita, sekalipun ia membencinya, dia tak akan menyakiti seseorang apalagi seorang wanita." Mendengar pertanyaan Rangga, tentu saja Andini cepat menjawab, sedikit tak terima jika Hendri dipandang sebelah mata.


Mendengar hal itu, Fitri segera berkata pada Rangga. "Sudah, Mas. Aku baik-baik saja, tak ada yang terjadi. Aku hanya ingin pulang dan istirahat."


Hendri pun datang menyusul.


"Mas Hendri, kamu kembali?" Andini segera menghampiri.


"Katakan pada mereka bahwa kamu tidak menyakiti Fitri, biar tidak ada yang salah paham."


"Aku menyakitinya atau tidak, bukankah bisa tanya langsung pada Fitri? Dia akan memberikan jawabannya," jawab Hendri acuh tak acuh.


"Hendri, tidak peduli ada hubungan apa di antara kita di masa lalu, meski kau saudaraku sekalipun, jika kau berani menyakiti Fitri, maka aku tidak akan membiarkanmu begitu saja," ucap Rangga memperingati.


Hendri terkekeh sinis menatap Rangga. "Kau benar menyukainya?"


"Niko!" serunya sambil masih tergelak, entah apa yang ia anggap lucu di saat semua orang dalam kondisi yang tegang.


Niko yang dari tadi diam, sekarang berpindah menatap Hendri.


"Bukankah beberapa bulan yang lalu, ada pria yang marah besar padaku karena menikahi seorang gadis muda? Kau juga menyaksikannya waktu itu, kan?"


Niko tak menjawab, ia sendiri tidak ingin berpihak pada siapapun, Hendri dan Rangga adalah sahabatnya dan tak mungkin ia hanya berdiri di satu pihak.


"Sekarang malah menjilat ludahnya sendiri, benar-benar menjijikkan," sinis Hendri.


Fitri sedikit tak tahan mendengar ocehan Hendri, ia segera menarik tangan Angel untuk pergi dari sana.


"Kau akan menyesal jika berani menyakitinya." Rangga menunjuk ke arah wajah Hendri dan lalu berbalik badan mengejar Fitri.


Usai kepergian mereka semua, tubuh tegap dan kekar itu berubah menjadi begitu lemah, ia duduk terkulai tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat Andini menunggu akan reaksinya.


"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanyanya sedikit khawatir.


Sejenak Hendri tak menjawab.


"Aku sudah mengucapkan apa yang seharusnya tidak keluar dari mulutku," katanya tiba-tiba merasa menyesal, sebab tak mampu mengontrol ucapannya dan langsung berkata bahwa Fitri adalah wanita murahan.


Jika dipikir-pikir, ia memang benar sudah menyakiti wanita itu.


"Sudahlah, Mas. Tidak apa-apa, sekali-kali kamu juga harus membela dirimu sendiri, jika dia adalah sahabat sejati, maka dia tetap akan kembali dan meminta maaf padamu." Andini mengusap pundak Hendri mencoba menenangkan.


"Maaf, Din. Sepertinya tidak bisa lanjut menemani liburanmu kali ini."


"Aku pulang duluan." Hendri pun bangkit, lalu Andini segera menyusulnya.


"Aku ikut pulang saja, Mas."


Hendri mengangguk dan mereka pun pulang tanpa melanjutkan liburan itu untuk Andini, yang besok rencananya ingin pulang ke Bandung.


~~


"Mas Hendri, buka pintunya, Mas. Jadi antar aku pulang, gak?" pintu terus digedor oleh Andini. Namun, pria yang dipanggil tak kunjung menampakkan diri dari balik kamar.


Ya, malam tadi wanita itu tidur di rumah Hendri, bermaksud agar dia bisa langsung melakukan perjalanan ke Bandung karena Hendri mengatakan ingin mengantarnya. Namun, sudah tiga kali bolak balik mengetuk pintu kamar milik Hendri, pria itu tetap tidak memberi sinyal bahwa ia ada di dalam.


"Mas, kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya lagi sembari memasang telinga dengan benar, kalau-kalau dapat menangkap suara sekecil apapun di dalam sana, tapi nihil, tidak ada yang terdengar.


Andini pun berlari memanggil dua satpam yang berjaga di rumah Hendri. Mendengar penuturan wanita itu, kedua satpam segera berlari masuk dan mendobrak pintu kamar majikannya.


Brakk!


Pintu terbuka lebar dengan kasarnya, terlihat pria itu masih terbaring di atas ranjang dengan selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya.


"Mas Hendri, bangun, Mas." Andini berusaha mengguncang tubuh Hendri berharap pria itu akan bangun, tapi tetap saja, tidak ada gerakan sama sekali.


"Mbak, sepertinya Pak Hendri pingsan, lihat kulit dan wajahnya, itu terlihat pucat," salah satu satpam menyadarinya.


"Hah?" Andini terperangah sekaligus bingung.


"Bagaimana bisa pingsan?" Ia pun mulai panik, mengeceknya sekali lagi, Hendri benar-benar tak bergerak sedikitpun, hanya napasnya saja yang masih terasa di ujung jari saat ia meletakkan tangannya di ujung hidung Hendri.