
Pagi itu, pagi menjelang siang, Andini berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
Kamar yang tadinya bersih, kini terlihat berantakan dengan berseraknya pakaian yang dikenakan oleh Hendri.
Dahi pria itu mengernyit, beberapa kali mengusap matanya yang masih terasa kabur, kepala juga terasa teramat sakit.
Setelah pandangan benar-benar pulih kembali, ia mengamati sekitar ruangan, bingung dengan apa yang terjadi di sana.
Mana pakaiannya? Kenapa semua terlepas dari tubuhnya?
Hendri terus mencoba untuk mengingat apa yang terjadi. Namun, nihil. Tidak ada yang dapat ditangkap oleh memorinya mengenai pakaian yang terlepas dari tubuhnya itu.
Lalu ia kembali teringat akan Andini, ia segera memakai kembali pakaiannya dan berlari keluar.
"Andini!" panggilnya sambil tergesa-gesa berlari ke kamar tamu.
"Andini, apa kau di dalam?" Hendri terus mengetuk daun pintu kamar dengan cepat.
Tidak ada jawaban dari dalam, ia memberanikan diri untuk membukanya perlahan, setelah terlihat, tidak ada siapapun di sana.
"Kemana perginya dia?" gumam Hendri dengan sambil meremas rambutnya frustasi.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Ia terduduk lemas di pinggir ranjang, matanya seketika menangkap sebuah kertas putih di atas meja rias.
Dengan terburu-buru hendri bangkit dan meraih Kertas tersebut.
(Mas, aku pulang ke Bandung hari ini, Mama sakit, jangan susul aku dan jangan tanyakan apapun tentang apa yang terjadi, semoga kau bahagia)
Membaca tulisan tangan itu, jantungnya semakin berdetak tak karuan, lebih-lebih ia takut jika apa yang seharusnya tidak terjadi, malah terjadi di antara mereka.
Tak menunggu waktu lama, Hendri segera berlari keluar dan mengemudikan mobilnya sendiri, menerobos jalan raya dengan kecepetan tinggi. Harap-harap bisa menyusul Andini ke bandara, ia berharap wanita itu masih ada di sana.
Tiba di bandara, ia mengecek penerbangan Jakarta-Bandung, ternyata ia terlambat, pesawat telah lepas landas 10 menit yang lalu.
Tentu saja hal itu semakin membuatnya depresi, ingin menyusul ke Bandung, tapi takutnya ia malah tak mendapatkan apapun.
Belum juga keluar dari bandara, matanya menangkap sepasang manusia yang tak asing.
Segera ia mempercepat langkahnya untuk menghampiri. "Fitri!" serunya.
"Kamu sedang apa di sini?"
"Mas Hen?" Fitri mengernyit, tak menyangka malah ketemu Hendri lagi.
"Aku menunggumu dari kemarin, tapi kau tak kunjung datang."
"Sedang apa di sini?" tanyanya sekali lagi.
"Aku di sini untuk mengantar Mas Rangga, dia akan berangkat ke Amerika sebentar lagi, Mas Hen sendiri sedang apa?" Fitri balik bertanya.
Hendri tampak berpikir, tidak mungkin ia mengatakan bahwa sedang mencari Andini untuk menanyakan suatu hal.
"Mmm ... Aku, sedang menunggu klien, dia akan datang hari ini untuk membahas kerjasama," ucapnya berbohong.
"Dengan pakaian yang seperti ini?" Rangga mengerutkan dahi sambil menunjuk pakaian Hendri yang begitu santai.
"Tidak sopan, kan?" lalu tersenyum miring.
"Kebetulan dia temanku, jadi tidak masalah," jawab Hendri lagi.
"Kau yakin hanya teman? Jangan-jangan temanmu itu seorang wanita, ya? Banyak juga cadanganmu," celetuk Rangga sambil senyum sinis.
"Kau jangan memancingku." Hendri menatap tajam ke netra Rangga.
"Kenapa? Kau terlihat panik. Jangan bilang aku tak mengerti watakmu setelah kau kehilangan Dinda," cibirnya lagi.
Seketika Hendri menarik kerah kemeja Rangga dengan keras, wajahnya memerah mendengar Rangga yang masih berani mengungkit soal mendiang istrinya.
"Jaga ucapanmu, brengsek!"