
"Kenapa dia lama sekali?" batin Hendri. Sembari terus menunggu kedatangan Fitri kembali ke ruangannya.
Hari itu, Fitri benar-benar tak kunjung datang, cemas dan gelisah terus menghantui Hendri, bahkan saat di mana waktunya ia telah diperbolehkan pulang, wanita yang ia harapkan tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Perawat yang bernama Fitri Maharani, kenapa tidak datang dari semalam?" tanyanya pada seorang perawat yang membantunya mengurus kepulangan.
"Saya juga kurang tau, Pak," jawab sang perawat tersebut.
Hendri hanya manggut dua kali dan terus berpikir ke mana sebenarnya Fitri pergi.
Tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah percakapan semalam.
"Apa kemarin aku benar-benar membuatnya tak nyaman? Ia sengaja menjauhiku, atau memiliki kesibukan lain?" batinnya sembari terus berpikir, kalau-kalau ada perkataan yang ia tak sadari telah menyinggung perasaan Fitri.
Tiba di rumah, Andini telah menyambut hangat kedatangannya. "Kamu sudah pulang, Mas?" Dengan senyum yang merekah, seakan adalah seorang istri yang begitu gembira melihat kepulangan suaminya.
Tidak sesuai dengan bayangan, Hendri malah menatapnya dengan penuh tanda tanya dan dahi yang mengernyit.
"Kenapa kamu masih ada di sini?" Sebuah pertanyaan yang membuat Andini menarik kembali senyumnya yang cerah.
"Lantas kenapa jika aku masih di sini? Bukankah kita juga akan segera menikah? Bukan masalah jika aku mengenali rumah yang akan kutempati kelak bersamamu." Andini balas menjawab.
"Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi," bantah Hendri acuh tak acuh, lalu berjalan masuk dengan mengabaikan Andini yang masih berdiri mematung menatap punggungnya yang berlalu pergi.
Ya, memang bisa diakui dengan sangat jelas, semenjak kejadian di rumah sakit itu, Hendri tidak lagi seroyal sebelumnya, yang di mana selalu bersikap baik dan tak pernah membantah apapun yang dirinya katakan, sekarang ia seakan menghadapi lelaki yang berbeda.
Dengan cepat Andini mengejar Hendri dari belakang. "Mas, tunggu aku." Ia berhasil mencegat langkah Hendri.
"Kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Kenapa tidak buka mata dan pikiran kamu lebar-lebar, aku adalah wanita yang lebih pantas bersanding denganmu, bukan wanita itu," desaknya, tak peduli apa yang sedang dipikirkan oleh Hendri saat ini.
"Pantas atau tidak, hanya aku yang berhak menilai. Lagipula apa aku pernah mengatakan bahwa menyukaimu dan ingin menjadi suamimu? Tidak, kan? Menjauh dari hadapanku!" tegasnya lagi memperingatkan.
"Jadi kamu benar-benar ingin mengejar wanita itu dan menghianati Dinda?" Andini melotot tajam.
"Seharusnya kamu yang buka mata lebar-lebar, mau semirip apapun wajahmu dengan Dinda, kamu tetaplah bukan Dinda. Dengan siapa aku bersanding, bukan urusanmu dan jangan pernah ikut campur, paham?!" Dengan tegas Hendri mengatakannya, lalu pergi meninggalkan Andini yang mematung untuk kedua kalinya.
"Baik, jika itu yang kamu inginkan, maka jangan salahkan aku jika melakukan sesuatu di luar batas pikiranmu." Andini mengepalkan tangan begitu geram atas penolakan Hendri yang berkali-kali mempermalukannya sebagai seorang wanita. Jika bukan dirinya yang mendapatkan pria itu, maka siapapun juga tidak bisa mendapatkannya. Entah dengan cara apapun, ia tak peduli lagi sekarang.
Beberapa jam kemudian, Andini kembali mengetuk pintu kamar Hendri, dengan secangkir teh hangat di tangannya.
"Mas, aku buatkan teh hangat untukmu, boleh aku masuk?"
Dari dalam tak terdengar suara apapun, membuat wanita modis ini pun dengan sendirinya membuka pintu yang memang tidak terkunci.
Baru saja masuk, ia telah mendapat tatapan tajam dari Hendri. "Apa aku memberimu izin masuk ke sini?" cetusnya dingin.
Andini tak peduli, ia tetap melangkah masuk dan meletakkan gelas teh tersebut di hadapan Hendri.
"Minum dulu, Mas. Bosan dengar kamu marah-marah terus dari tadi."
"Oke, aku minta maaf, bisakah kita berdamai saja?" Andini berusaha bersikap tenang dengan mengulurkan tangannya pada Hendri. Namun, tak digubris sama sekali oleh pria itu.
"Aku menyesal telah mengatakan banyak hal padamu tadi, bisakah kamu maafkan aku kali ini, teh itu adalah bentuk permintaan maafku, minumlah."
Hendri menatap Andini sejenak. "Lain kali aku tidak ingin mendengar kamu terus mendesakku untuk menikahimu," ujar Hendri serius.
"Iya, aku janji tidak mengulanginya lagi."
Hendri pun tampak lega setelah itu
Tapi ....
Kenapa tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing? Matanya seakan tak bisa ia pertahankan untuk tetap terbuka.
"Bagus, Mas. Tidurlah segera, tidur yang lelap, aku menunggumu dari tadi." Andini tersenyum penuh kelicikan. Dalam pikirannya, ia sungguh ingin mendapatkan Hendri sepenuhnya.