
Di atas gundukan tanah yang bahkan masih belum sepenuhnya kering, Hendri berlutut di samping batu nisan bertuliskan Rangga Firnanda, rasa sulit untuk menerima, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang harus ia hadapi.
Kedua pundak Hendri bergetar hebat, sembari menggenggam tanah pemakaman dengan perasaan yang begitu menyesal. Namun, penyesalan akan tetap menjadi penyesalan, semua sudah terlambat.
Mungkin rasa iri yang dirasakan oleh Rangga terhadapnya, juga karena salah satu pelampiasan atas beban penyakit yang ia derita, ia menyesal kenapa tidak pernah peka terhadap Rangga, penyakit ganas itu bahkan ia tidak tahu bahwa sedang menyapa syaraf sahabatnya.
Fitri ikut berjongkok, ia sendiri kali ini tak bisa membendung air mata, entah seberapa banyak kebaikan yang ia terima dari pria yang kini telah mendahuluinya menghadap Sang Ilahi. Ia mencoba memberi rangkulan kokoh untuk Hendri, berusaha menguatkan meski ia sendiri sedang rapuh.
"Semenjak pulang dari rumahmu, dia terus mengurung dirinya selama tiga hari di dalam kamar, tak peduli seberapa keras aku membujuknya, ia tetap pada keinginannya." Mata Niko tampak meratap sedih.
"Selama satu bulan penuh, ia benar-benar memutuskan untuk menghentikan pengobatannya. Aku marah dan murka, tapi tetap tak bisa berbuat apa-apa."
"Hingga pada satu hari terakhir, kanker itu benar-benar mengganas dan menggerogoti organ tubuhnya yang lain, di situlah ia menghembuskan napas terakhirnya."
"Dia telah menrencanakan hal itu demi bisa membantumu agar dapat melihat kembali menggunakan pemberian darinya. Dan itu berhasil. Kau sudah dapat melihat sekarang, melihat tanah makamnya yang belum kering, batu nisan bertuliskan namanya, dan dia bahkan tak bisa bersuara lagi saat ini." Kelopak mata Niko mulai berkaca-kaca.
"Di detik terakhirnya, yang ia pikirkan bahkan hanya tentang kebahagiaan kalian berdua. Jadi aku berharap, kalian tidak mengecewakan harapan Rangga. Menikahlah dan memiliki anak. Dan kau Hendri, jangan sakiti Fitri jika kau tak ingin Rangga bersedih." Usai mengucapkan hal itu, Rangga pun berbalik badan pergi, setiap langkah kakinya yang terasa berat, bersamaan dengan air mata yang juga tak bisa tertahankan.
Mungkin sudah satu jam lamanya Hendri dan Fitri berjongkok di samping makam Rangga, hingga akhirnya Hendri menghirup udara dengan begitu panjang dan menghembuskannya perlahan. "Kau tenang saja, apa yang menjadi pemberianmu, baik itu Fitri atau kedua kornea matamu, aku akan menjaga semuanya dengan baik."
"Terimakasih dan maafkan aku yang naif ini. Aku berjanji, akan sering datang mengunjungimu dalam setiap tahunnya, bahkan jika kami kelak telah memiliki satu, dua, atau tiga orang anak, aku akan membawa mereka semua ke sini untuk mengunjungimu, dan memperkenalkan mereka tentang seorang paman hebat yang telah berjuang demi kebahagiaan orang lain."
"Sekali lagi terimakasih, dan maafkan aku," lirihnya dengan suara yang semakin pelan.
Satu minggu kemudian.
Fitri tampak cantik menggunakan kebaya putih yang dihiasi oleh pernak pernik indah di tubuhnya, serta mahkota pengantin yang ia pakai di kepalanya menambah kesempurnaan statusnya sebagai mempelai wanita.
"Kau sungguh yakin ingin menikahinya, Mas?" Di lain sisi, Andini terus mendesak Hendri dengan pertanyaan itu, masih berharap Hendri akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahan, meski sangatlah tidak mungkin, tapi ia tetap menggantungkan harapannya pada Hendri.
Melihat Andini yang tak beranjak pergi, ia sendiri yang memutuskan untuk keluar meninggalkan wanita itu, berhubung acara juga akan segera berlangsung.
Tepat pada pukul 09:30, Hendri telah bersiap di meja penghulu. Namun, wanita yang ia sangat nantikan, tak kunjung ada di depan matanya.
"Bunda, Fitri mana? Bisakah Bunda mengeceknya sekali lagi?" bisik Hendri pada ibunya.
Bu Hajjah mengangguk mengerti. "Bunda akan mengeceknya lagi."
"Fitri, apa kamu sudah siap, Nak? Semua orang sudah menunggu!" seru Bu Hajjah sambil mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Fitri.
Tak mendengar jawaban apa-apa, ia pun mencoba membuka pintu dan memanggil nama Fitri berulang.
Tapi ketika masuk ke dalam, tidak ada siapapun, tidak ada jejak apapun dari wanita yang sedang dicari.
"Ke mana perginya anak itu?" batin Bu Hajjah.
"Fitri!" Ia terus memanggil dan mencari ke setiap sudut ruangan, tapi tak juga menemukan keberadaan Fitri.
Bu Hajjah segera berlari keluar dan menghampiri Hendri. "Fitri tak ada di kamarnya," bisik wanita paruh baya itu tepat di telinga anaknya.
Hendri segera menatap lekat ke arah ibunya, terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Bagaimana mungkin dia tidak di kamar?" tanya Hendri panik.
"Andini, Andini di mana?" Matanya segera menelusuri barisan para tamu, setelah menemukan keberadaan Andini, ia segera bangkit dan melangkah cepat, menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Mas, ada apa?" tanya Andini dengan wajah pucat menahan malu ketika dirinya diseret di tengah keramaian orang yang sedang menatap ke arah meraka berdua.