
"Mas Hen," panggil Fitri.
Rangga menoleh menatap wajah wanita itu, baru pertama kali dengar Fitri memanggil Hendri dengan selembut itu.
"Kamu sudah kembali?" Hendri menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu pulang sama siapa?" Meski tak dapat melihat, tapi Hendri dapat mendengar langkah kaki yang lebih dari satu orang sedang mendekat ke arahnya.
"Mas, aku pulang sama Mas Rangga, dia bilang ingin bicara empat mata denganmu, jadi aku membawanya ke sini agar kalian bisa bertemu." Sebenarnya Fitri takut kalau Hendri akan marah karena membawa Rangga pulang, tapi ia juga berharap agar mereka bisa berbaikan lagi, barulah bisa sedikit memberanikan diri.
Hendri diam saja, begitu pula dengan Rangga, hingga Fitri pun menatap dua lelaki itu bergantian. "Kalau begitu, aku keluar untuk menyiapkan makan malam bersama bibik, kalian berbincanglah di sini."
"Tetaplah di sini," ujar Hendri dengan cepat, ia tak ingin menutupi apapun, apa yang akan ia dengar dari Rangga dan apa yang akan ia ucapkan, Fitri juga harus mendengarnya.
Fitri menghentikan langkahnya dan lalu menatap Rangga, melihat pria itu menggeleng, ia pun mengerti. "Aku masih ada kerjaan, Mas. Sebaiknya kalian ngobrol berdua dulu saja, nanti aku akan bergabung jika sudah selesai di dapur."
Hendri tak lagi mencegahnya. Usai kepergian Fitri, Rangga pun duduk.
"Ada apa?" Tanpa basa basi, Hendri langsung bertanya pada intinya.
Rangga tersenyum cengegesan. "Kau masih begitu dendam padaku?"
Tak ada tanggapan dari Hendri, pria itu tetap berwajah datar tanpa mengatakan apapun. Ia tidak dendam, hanya saja sedikit kecewa atas sikap Rangga selama ini terhadapnya, selalu mencari masalah dan tak pernah menganggapnya sebagai saudara meski telah bersahabat bertahun-tahun lamanya.
"Aku minta maaf atas sikapku selama ini, aku salah telah membuatmu selalu merasa tersaingi dengan ambisiku yang selalu ingin merebut apa yang kau punya." Rangga tertegun sejenak.
"Jujur, aku iri padamu, aku selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang kau dapatkan," lanjutnya.
"Ya." Sembari mengangguk pelan.
Hendri memukul meja kesal. "Maksudmu, mendekati Fitri juga karena rasa irimu dan kau berusaha mendapatkannya hanya karena kau ingin memuaskan rasa irimu yang naif itu?" Wajahnya pun berubah merah.
"Fitri berbeda, aku tidak main-main dengannya," ujar Rangga sungguh-sungguh.
"Ck!" decak Hendri sembari tersenyum sinis.
"Kau boleh membenciku, apapun yang ingin kau katakan, kau ingin mencaci dan memakiku, aku terima. Aku datang dengan serius dan sungguh-sungguh minta maaf atas sikapku yang sudah-sudah. Aku tak ingin meninggalkan rasa penyesalan dalam hidupku." Wajah Rangga tampak sayu sendu, sangat berharap Hendri akan memaafkan sikapnya yang kekanakan.
"Menjijikkan." decih Hendri. Tak habis pikir sahabat yang paling ia percaya, malah menaruh rasa iri terhadapnya dan membuat hidup yang ia jalani berantakan.
"Apa aku tak termaafkan?" Pertanyaan yang jelas-jelas Rangga sendiri tahu bahwa itu sebuah pertanyaan yang konyol, tapi ia malah tetap menanyakannya.
"Kau seperti banci asal kau tahu itu," sinis Hendri yang semakin merasa geli dengan kelakuan Rangga yang menurutnya begitu bodoh.
Rangga tersenyum getir. Ya, dia tak bisa marah apalagi menyalahkan Hendri atas ucapannya barusan, karena ia tahu di sini dialah yang paling bersalah.
"Jadi kau mau apa sekarang?"
Hendri semakin melebarkan senyum miringnya. "Bodoh, tanyakan pada dirimu sendiri, untuk apa kau bertanya padaku." Ia pun beranjak dari tempatnya, Rangga dengan cepat mencegah hingga pada akhirnya.
Buk!
Hendri melayangkan kepalan tangan dengan asal, tapi malah benar-benar berhasil mengenai hidung Rangga hingga pria itu meringis kesakitan.