
"Fit, sudah siap, belum?" teriak Angel dari ambang pintu.
"Ya, ya, sebentar!" Fitri balik berseru sembari berlari kecil keluar dari kontrakan, tangannya sibuk merapikan beberapa map di dalam tasnya.
"Banyak sekali bawaanmu, tanpa semua itu juga kita akan diterima." Angel menggeleng tak habis pikir melihat antusias dan semangat Fitri ingin melamar pekerjaan.
Fitri hanya membalasnya dengan senyuman.
"Bisa saja jika mau bekerja di sini, untuk tahap awal, kalian akan ditempatkan sebagai asisten bidan profesional."
"Pelajari apa yang kalian lihat."
"Ingat, saya terima kerja di sini bukan memandang kekeluargaan, jika kalian berdua malas-malasan, maka tidak ada alasan untuk saya mempertahankan kalian, mengerti?"
Seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit swasta itu menatap lekat pada dua wanita di hadapannya.
"Mengerti, Pak." Fitri tanpa ragu menjawab dengan cepat.
"Ayah galak sekali, dengan anak sendiri bahkan tak ada sedikit toleransi." Angel tampak cemberut.
"Justru karena anak sendiri harus dipertimbangkan dengan sangat matang, jika sampai ada rumor bahwa anak si pemilik rumah sakit adalah seorang bidan yang pemalas, maka akan dibawa ke mana arah rumah sakit ini? Bikin malu, asal kamu tahu itu."
Tatapannya benar terlihat tegas, bahkan Fitri tak berani untuk menatapnya. Angel hanya diam dan manggut-manggut.
"Baiklah, aku mengerti," imbuhnya sedikit lemas.
"Maaf, ya, Fit. Cuma dapat posisi ini." Angel terlihat lesu.
"Maaf untuk apa? Justru ini awal dari karier sukses kita, menjadi asisten juga tidak buruk, bisa sambil belajar dari yang lebih senior, sembari memperlihatkan bahwa kita tidak bekerja untuk main-main," jawab Fitri kembali menyemangati.
"Aku hanya merasa bersalah padamu."
"Sudahlah, yang harus kita lakukan adalah berusaha, bukan?" Fitri merangkul sahabatnya keluar dari rumah sakit tersebut.
Kali ini merencanakan liburan sebelum mereka akan mulai bekerja esok hari.
Semilir angin di sore hari pada satu pantai terhampar pasir yang sangat luas, Fitri dan Angel menikmati sore mereka dengan sedikit bersantai di sana.
Dengan adanya Angel, tidak ada lagi bayangan Hendri di benaknya, yang ia rasakan cukup menyenangkan, meski baru dicerai oleh pria itu.
Mungkin, dalam waktu dekat, ia juga akan dapat panggilan dari pengadilan agama untuk disidang bersama Hendri.
Namun, matanya tiba-tiba terbuka perlahan saat Angel beberapa kali menepuk lengannya saat ia berbaring dikursi rotan.
"Ada apa?"
"Bukannya itu Mas Hendri?"
Matanya mengikuti arah jari Angel yang menunjuk ke satu arah.
Ya, satu pria dan satu lagi seorang wanita, sedang duduk berdampingan di atas pasir dengan posisi saling menatap.
Ya, mereka seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia.
"Ayo, kita hampiri." Angel menarik tangan Fitri, tapi seketika Fitri balik menariknya.
"Jangan hiraukan, kita dan mereka beda pembahasan, jangan suka mengganggu orang," ucap Fitri, lalu kembali berbaring di tempatnya. Sementara Angel hanya bisa memasang raut kesal melihat kedua orang di kejauhan sana yang tampak begitu akrab.
Seakan tak rela melihat pria itu hidup dengan bahagia setelah menceraikan sahabat baiknya.
Bayangan itu masih terpampang sangat jelas dalam ingatan, mata yang baru saja tertuju pada pria yang pernah singgah dalam hidupnya, kini sedang bersama wanita lain yang entah apa sedang mereka bicarakan.
Mungkinkah, merencanakan pernikahan di masa mendatang setelah mereka bercerai secara hukum? Atau, sedang menata hati untuk menyambut kehidupan bersama anak-anak mereka kelak?
Ah.
Kenapa juga ia harus memikirkan tentang apa yang mereka bicarakan, kenapa tidak memikirkan tentang masa depannya sendiri?
Entahlah.
Saat ini yang memenuhi kepalanya cuma itu, tidak bisa menghalau perasaan tak menentu saat harus melihat mantan suaminya sudah membuka lembaran baru dengan wanita lain.
"Kedua Nona cantik, bolehkah ikut bergabung?"
Suara itu kembali berhasil membuyarkan mata yang tadinya masih terpejam.
Rangga dan Niko.
Ya, mereka saat ini memasang wajah tersenyum pada Fitri dan Angel, berharap kedua wanita itu tidak akan menolak.
"Mas Rangga?" Fitri nampak sedikit terkejut melihat kehadirannya.
"Kita berjumpa lagi." Rangga tersenyum sumringah.
"Halo, Nona cantik, aku Niko." Niko pun tak kalah antusias memperkenalkan diri pada Angel.
"Halo, gadis kecil. Kita pernah bertemu satu kali waktu itu, kan?" lanjutnya sembari menatap ke arah Fitri.
"Iya, Mas. Dulu ketemu tidak begitu memperhatikan Mas Niko, jadi sedikit lupa dengan wajahnya," jawab Fitri.
Dua pria berusia kepala tiga tersebut sungguh sangat senang menggoda kedua gadis itu.
"Oh, ya, suami kamu yang posesif itu mana, Fit?" tanya Rangga.
"Suami apanya, mereka sudah bercerai." Angel langsung menyergahnya.
"Dan lihatlah pria itu, dia bersenang-senang dengan wanita lain." Sembari menatap kesal ke arah Hendri yang berada di kejauhan sana.
"Gila juga tu anak," sinis Rangga menatap Hendri.
"Ikut aku, Fit." Rangga menarik lengan Fitri untuk ikut bersamanya. Angel dan Niko mengikuti dari belakang.
Siapa sangka, ternyata Rangga membawanya mendekat ke arah Hendri dan Andini.
"Mas, untuk apa kamu bawa aku ke sini?" Sambil berusaha menahan tarikan Rangga.
Benar-benar tak ingin bertemu Hendri di keadaan seperti ini.
"Apa kami boleh bergabung?" ujar Rangga, sontak kedua insan itu menoleh ke arah Rangga dan Fitri.
Kenapa?
Kenapa hati pria itu seketika bergejolak melihat gandengan tangan Rangga pada Fitri? Seakan ingin berada di tengah mereka untuk mengusik dua tangan yang sedang berpegangan di depan matanya.
Benar-benar berhasil membuatnya berdecih sinis, kepanasan secara tiba-tiba.