Please, Love Me

Please, Love Me
Berubah Haluan



Jantung Fitri berdegup begitu kencang ketika matanya menangkap genangan cairan merah segar di rumah yang begitu banyak kenangan bersama ayah dan ibunya.


Air matanya tak terbendung lagi saat melihat sesosok tubuh tak bernyawa tergeletak di lantai dengan ditutupi sebuah kain panjang.


Tangannya bergetar hebat, tapi tetap berusaha untuk menggapai kain yang menutupi tubuh tak bernyawa itu.


Perlahan ia membukanya dengan hati-hati, belum sempat menampakkan wajah di balik kain tersebut, ia seketika menghentikannya. Mencoba untuk mempersiapkan diri dan hatinya untuk melihat sosok itu untuk terakhir kali.


Hatinya mengucap doa sebelum ia benar-benar membuka kain yang menutupi. Dan tangisnya pun kian memecah suasana tegang di rumah itu, tangis yang benar-benar menyayat relung kalbu ketika terdengar oleh telinga setiap orang yang ada di sana.


Histeris melihat tubuh kaku wanita yang telah melahirkannya kini tak bernyawa dalam keadaan yang begitu mengenaskan.


"Bu, kenapa bisa sampai seperti ini, tolong jangan tinggalkan Fitri!" Ia terus mencoba menggoyangkan tubuh kaku ibunya, berharap mendapat jawaban, tapi berakhir sia-sia. Ya, orang yang sudah tiada tidak akan merespon apapun yang dikatakan oleh orang-orang di dunia ini.


Kebaya yang tadinya putih bersih, kini telah bercampur dengan corak merah akibat noda darah yang menempel.


"Nak Fitri, sudah cukup. Jangan digoyang lagi, kasian ibumu. Ikhlaskan kepergiannya." Wanita paruh baya sekaligus tetangga ibunya mencoba untuk mengusap pundak Fitri menenangkan anak malang itu.


Sementara pelaku yang telah berbuat jahan*m pada ibunya kini telah melarikan diri dan sekarang diburu oleh polisi.


Pelakunya tidak lain adalah ayah tirinya sendiri, entah sudah berapa banyak kejahatan yang telah ayah tirinya lakukan terhadap ibunya, hingga sekarang pria iblis itu mengakhirinya dengan menghabisi nyawa orang yang ia kasihi.


Fitri sendiri tak mengerti, kenapa ibunya itu sangat keras kepala dan terus mempertahankan pria yang tak bisa menjadi imam yang baik, sudah beribu kali Fitri mengingatkan untuk melepaskan pria tak berguna itu, tapi ibunya tak pernah ingin dengar dan mengabaikan nasihat darinya. Hingga pada satu kejadian itu, ia pun tak lagi ingin peduli pada ibunya, memilih untuk membiarkan ibunya begitu saja bersama pria iblis itu. Hingga hari ini pun menjadi saksi sebuah penyesalan mendalam untuk dirinya sendiri.


Ibunya telah tiada, seandainya ia nekat membawa kabur ibunya waktu itu, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi, tapi kata seandainya tidak akan pernah bisa merubah segala apa yang telah terjadi. Penyesalan, akan terus menjadi sebuah penyesalan. Dan akan menghantuinya setiap saat.




Di lain sisi, kini Hendri telah siap, duduk dan menunggu mempelai wanita keluar.



Tak berapa lama setelah itu, Andini yang telah dihias secantik mungkin, didampingi oleh ibunya untuk duduk di samping Hendri.




"Iya, saya juga merasa sepertinya calon pengantin wanita telah diganti," sahut temannya yang lain.



"Kenapa bisa begitu? Lalu wanita yang dari awal dipajang di undangan itu ke mana? Mau diapakan?" timpalnya lagi.



"Sudahlah. Mungkin kabur, jadi demi menutupi rasa malu, mereka terpaksa mengganti mempelai wanitanya."



Bu Hajjah yang menyadari banyak orang yang berbisik-bisik ketika melihat Andini keluar, merasa ikut menanggung malu sebab yang menikah adalah anaknya. Namun, ia bisa apa? Hanya dengan begitu baru tidak begitu malu dan menjadi bahan olok-olokkan.



Apalagi saat mendengar penjelasan dari Hendri, ia sebenarnya tak kuasa untuk menerima sesuatu yang mendadak, tapi harus apa? Yang sudah terlanjur ada, tidak mungkin untuk ditolak. Terlebih lagi Fitri pergi tanpa meninggalkan jejak apapun, ia juga merasa kecewa dan akhirnya mengusulkan pada anaknya untuk menikahi Andini saja.



"Saya terima nikah dan kawinnya Andini Binti Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Setelah sekian kalinya mengucap ijab kabul, akhirnya Hendri berhasil menyebutkan nama yang benar dalam satu kali tarikan napas.



"Bagaimana para saksi? Sah?"



"Sah!" seru para saksi dengan suara yang keras. Akhirnya mereka sah menjadi pasangan suami istri yang tak direncanakan.



Andini meraih tangan Hendri, menyalami dan menciumnya setelah bertukar cincin. Cincin yang seharusnya dipakai oleh Hendri dan Fitri, kini malah berubah haluan menjadi milik Andini.