
"Itu tergantung pada tingkat keseriusanmu dalam pengobatan, jika kau bahkan malas makan, bagaimana bisa mendukung kesembuhanmu?" sarkas Niko sembari berbalik badan dan menghampiri Rangga.
"Kau yakin menetapkan wanita itu sebagai masa depanmu?" tanya Niko lagi.
Rangga tampak merenung sejenak. "Entahlah, masa depanku saja tidak tahu akan seperti apa, tapi jika boleh meminta, aku menginginkan dia," lanjutnya sembari mendongak menatap wajah Niko yang sedang berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu, kau harus lebih semangat lagi menjalani perawatan ini." Ia meraih mangkok bubur di atas nakas dan meletakkannya di atas selimut Rangga.
Dengan sangat terpaksa, meski tak ada sedikitpun nafsu makan, ia tetap harus memakan makanan lembek itu yang sebenarnya tak ia sukai.
"Aku mendengar kabar bahwa beberapa bulan yang lalu, Fitri dan Hendri mengalami kecelakaan hebat dan menyebabkan kebutaan pada wanita itu." Akhirnya setelah beberapa bulan menyembunyikannya, Niko baru berani mengatakannya pada Rangga. Tak ingin mengganggu proses pengobatan, barulah ia menyembunyikan semua itu.
Rangga tak jadi menyuap bubur ke mulutnya dan menatap Niko seketika. "Dari mana kau mendapatkan informasi itu? Kau yakin itu benar?"
Rangga mengangguk lemah. "Aku sudah mengetahuinya beberapa hari setelah mereka kecelakaan, tapi baru mengatakannya sekarang karena tak ingin kau terganggu akan hal itu."
Rangga tak berkedip, ia menelan ludah yang terasa begitu pahit. "Brengsek," umpatnya.
"Kenapa baru katakan sekarang?" Rangga pun meletakkan kembali mangkok bubur ke atas nakas dan turun dari ranjang.
Membuka sendiri selang infus yang melekat di tangannya dan mengganti pakaian dengan cepat, meski terasa sempoyongan, ia tetap memaksakan diri untuk bisa menyiapkan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam tas ransel.
"Kau mau apa?" Niko tampak mengerutkan dahinya begitu dalam.
"Aku akan pulang. Fitri pasti sedang membutuhkanku." Tanpa menoleh, sibuk dengan baju-baju di tangannya.
"Kau gila? Lihat keadaanmu sekarang, kau yakin masih bisa tetap sadar sebelum kau tiba di sana?" sergah Niko tak habis pikir.
"Semua ini salahmu, seharusnya kau mengatakan hal ini lebih awal, bukan malah menutupinya hingga aku terlambat beberapa bulan untuk menemuinya," kata Rangga menyalahkan.
"Kau sudah berjanji untuk tidak terpengaruh oleh apapun setelah menjalani perawatan kanker otakmu."
"Ya, aku memang pernah berjanji, tapi kali ini aku akan mengingkarinya karena Fitri lebih membutuhkan perhatian." Rangga pun menjinjing tasnya keluar dari ruangan itu.
"Bedebah tengil," hardik Niko geram. Mau tak mau ia pun berlari menyusul Rangga dan menemani sahabatnya itu untuk pulang ke tanah air.
"Sudah dua bulan lamanya, tapi rumah sakit belum menemukan calon pendonor, apa yang harus kulakukan? Kita tidak bisa diam saja, Mas." Di sisi lain Fitri tampak gelisah.
"Fitri, apa kamu tak pernah berpikir akan masa depanmu? Sampai kapan mau tinggal bersamaku dan melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak kamu kerjakan?" tanya Hendri yang kini duduk dengan tenang, tidak secemas Fitri yang sedang memikirkan donor mata untuknya.
"Aku sungguh baik-baik saja dengan keadaanku sekarang, kamu tidak perlu mencemaskan hal ini. Ayah dan bunda juga sudah ikhlas dengan keadaanku yang seperti ini."
"Fitri beranjak dari tempatnya. "Sudahlah, mau bagaimanapun kamu membujukku agar pergi, aku tidak akan pergi, Mas. Semua ini karenaku, maka aku bertanggung jawab untuk merawatmu."
"Sudah sore, kata bibik bahan-bahan dapur banyak yang habis, aku akan keluar untuk belanja." Fitri pun pergi dari sana sebelum Hendri sempat menjawabnya.
"Itu bukankah Fitri?" Rangga buru-buru membuka kaca mobil untuk memastikan wanita yang baru saja keluar dari supermarket itu adalah Fitri.
"Benar, itu benar-benar Fitri." Ia tampak tersenyum sumringah, tak menyangka setelah beberapa menit tiba di tanah air, ia akhirnya bisa ketemu Fitri dengan cepat.
"Stop, Nik, stop," ucapnya sambil menepuk bahu Niko beberapa kali.
"Niko pun menghentikan mobil tepat di depan supermarket tersebut. Tak menunggu waktu lagi, ia segera keluar dari mobil dan sedikit berlari menghampiri Fitri.
"Fitri!" serunya memanggil.
Fitri menoleh mendengar suara panggilan itu, dahinya mengerut melihat seseorang seperti sedang mengejarnya, akhirnya ia pun ikut berlari sekencang mungkin.
"Astaga, kenapa dia ikut lari?" gumam Rangga semakin kebingungan.
"Apa dia menganggapku penjahat?"