
Semua terdiam mendengar bentakan Hendri, Fitri menggenggam ujung bajunya dengan erat, bangkit dengan terburu-buru keluar dari ruangan sembari berkata, "Saya akan pergi urus obat Tuan Hendri dulu, maaf mengganggu." Dengan kepala yang terus tertunduk, secepat kilat menghilangkan diri dari lingkaran suasana yang begitu mencekam di ruangan tersebut.
Hendri terdiam menatap kepergian Fitri, ada rasa sedikit tak rela melihat wanita itu pergi membelakangi dirinya.
Sementara mata kebencian itu terus membara di ujung kelopak Andini ketika menatap Fitri.
"Nirma, antar Andini pulang terlebih dahulu." Hendri kembali bersuara, pikirannya benar-benar berkecamuk saat ini.
"Pulang ke Bandung, Pak?" tanya Nirma memastikan.
"Pulang ke rumah Hendri." Andini dengan cepat menyela, membuat Hendri menoleh dan mereka pun kembali bersitatap.
"Terserah." Ia pun memalingkan wajah tak ingin berdebat lagi, asal bisa menenangkan pikiran yang berkabut dengan kepergian wanita itu, tak masalah ke mana saja ia ingin pergi, asal jangan di ruangannya.
"Bunda antar Andini dulu." Bu Hajjah pun ikut keluar bersama Andini dan juga Nirma.
"Dini, maafkan sikap Hendri, ya. Kesehatannya sedang tidak baik, Bunda berharap kamu bisa maklum." Bu Hajjah tampak tak enak hati atas sikap anaknya, ia merasa sedikit gagal menjadi orang tua.
"Tidak apa-apa, Bunda. Lagian tidak sepenuhnya salah Mas Hendri, mungkin Andini yang perlu lebih banyak introspeksi diri kenapa Mas Hendri bisa bersikap seperti itu."
"Bunda tenang saja, Andini tidak marah, kok," lanjutnya sembari melempar senyum sopan.
Bunda meraih tangan Andini dan menggenggamnya. "Kamu selalu menjadi anak yang baik, semoga kelak Hendri bisa sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah terhadapmu."
"Bunda berharap, kamu tidak menyerah akan Hendri, ya, Nak." rasa penuh harapan yang terlihat jelas di ufuk matanya, berharap besar Hendri akan seceria dulu seperti sedia kala saat masih bersama Dinda.
"Aku tidak pernah menyerah, Bunda. Aku yakin Mas Hendri juga sebenarnya menerimaku, hanya saja tak ingin mengakuinya," ujarnya dengan yakin dan percaya diri.
"Bunda juga berharap seperti itu."
"Kalau begitu kamu hati-hati di jalan, jaga diri baik-baik, Hendri masih di sini, jadi Bunda minta maaf karena Hendri tak bisa menjagamu untuk sekarang." Senyuman tulus yang terlihat, membuat siapapun mungkin iri akan hubungan itu.
"Hubungan mereka benar-benar jauh lebih baik dari dugaanku, aku yang terlalu bodoh kenapa sempat menyetujui untuk menikah dengannya," batin Fitri. Ya, dari kejauhan sana, ia melihat dan menyaksikan betapa akrabnya kedua wanita itu, bahkan hubungan dengan ibu kandungnya saja tidak sehangat hubungan mereka. Membuat dirinya benar-benar iri pada seseorang yang mendapat perhatian lebih dari sosok ibu meski bukan ibu kandung.
"Jika memang karena wanita itu kamu bersikap kasar pada Andini, lalu kenapa kamu menceraikannya? Bunda ada di depan matamu dan kamu berani mengeluarkan suara yang lantang, apa begitu sikapmu setelah menikah dengannya?" Bu Hajjah menatap tajam pada Hendri yang saat ini tak ingin menatap balik.
"Urus dirimu sendiri jika memang tak membutuhkan Bunda lagi, maaf sudah mengganggu." Bu Hajjah berbalik badan membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Hendri seorang diri di sana, masih dengan posisi yang sama tak teralihkan.
Pria tersebut hanya bisa mengusap wajah dengan kasar bersamaan helaan napas yang berat, kenapa bisa menjadi lebih kacau.
Fitri yang dari tadi menunggu di depan pintu, sedikit terkejut ketika Bu Hajjah keluar dari ruangan tersebut, wanita paruh baya itu bahkan hanya menatapnya dan tanpa mengatakan apapun, lalu pergi begitu saja.
Wanita yang baru beberapa jam tadi bersikap ramah dan hangat terhadapnya, berubah menjadi begitu dingin dan acuh, bagaikan orang lain yang tak ia kenali.
Fitri mau tak mau terpaksa masuk ke dalam, ada sesuatu yang terus mengganjal dan ingin ia katakan sesegera mungkin pada Hendri.
Melihat Fitri masuk, Hendri merubah sikapnya dan tersenyum tipis.
"Maaf sebelumnya telah mericuhkan suasana kekeluargaanmu, bahkan mendengar bahwa Mas Hendri akan menikah dengan Mbak Andini, mungkin sebanarnya adalah privasi, tapi malah terdengar olehku." Fitri berusaha untuk tetap tenang mengatakannya.
Hendri masih diam menyimak ucapan demi ucapan yang dikatakan oleh Fitri.
"Demi kebaikan bersama, sebaiknya kamu segera urus surat perceraian kita di pengadilan agama, agar kamu juga bisa secepatnya menikahi Mbak Andini, aku tidak ingin terus menjadi duri di tengah pijakan orang," lanjutnya lagi dengan air muka yang serius, begitu memantapkan hati akan ucapannya.
"Siapa yang mengatakan bahwa kamu adalah duri di tengah pijakan? Jangan berasumsi dalam kehendak sendiri," jawab Hendri menegaskan.
Fitri menatap pria itu lekat. "Kamu jangan lupa, Mas. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku hanyalah bocah ingusan yang tak seharusnya kamu nikahi? Juga seharusnya kamu tidak lupa bahwa kamu sendirilah yang memutus jarak di antara kita dengan satu kata talak, jadi aku meminta perceraian yang diakui di mata hukum bukanlah sebuah kesalahan, kamu dan aku tidak memiliki keterikatan satu sama lain, jadi aku minta kamu jangan terus mengulur waktu hingga membuat diri masing-masing ikut terkekang." Fitri ikut memberi penegasan akan jawaban Hendri.
"Bagaimana jika kukatakan, aku ingin kembali bersamamu."
Jawaban Hendri benar-benar membuatnya semakin merasa bahwa pria itu seperti sedang merendahkannya, apa semua pria seperti itu? Senang mempermainkan wanita yang jelas-jelas tak bersalah, kenapa wanita selalu saja menjadi korban keegoisan? Bilang cerai, maka langsung cerai, bilang kembali, maka bisa langsung kembali, begitukah yang diinginkan para lelaki? Bermain-bermain dengan ucapan, yang mereka sebenarnya tidak tahu bahwa ada hati yang ikut berkabung di atas keegoisannya.
Kenapa semua pria selalu saja membuat Fitri muak? Seakan ia tak bisa untuk percaya lagi pada manusia yang berjenis kelamin lelaki.