
Setelah pemakaman telah usai, Fitri kembali ke rumah, rumah yang menjadi tempat kejadian tragis yang menimpa ibunya.
Baru tiba di depan pintu, Fitri seakan tak mampu untuk melangkah lagi, rasanya seperti mimpi buruk yang nyata. Hanya bisa meratap pilu, tanpa bisa berbuat apapun.
Dalam keterdiamannya, berdiri tegak seperti patung, ada sebuah hati serta pikiran yang kacau balau, hancur lebur menjadi kepingan benalu di lubuk hati yang paling dalam.
Tubuh lemah itu mengembuskan napas berat, mencoba menahan serangan dada yang menyesakkan hingga meninggalkan sebuah bulir bening di kelopak mata, tanpa bicara dan tanpa suara.
Sore hari seketika Fitri teringat akan Hendri dan pernikahan mereka. Tubuh yang tadinya tidak ada secercah semangat dan lunglai di atas meja, kini seketika beranjak dari tempatnya dengan cepat.
"Mas Hendri, pernikahan kami," batinnya.
Fitri seketika dengan cepat berlari keluar dari rumah.
Tanpa ingin menunggu waktu lama, Fitri hanya memesan ojek untuk mengantarnya ke tempat di mana seharusnya pernikahan mereka berlangsung.
Setibanya di sana, dengan wajah pucat, ia masuk ke dalam, tapi yang terlihat hanya tim dekorasi yang sedang membenahi tempat itu dan merapikannya.
Tidak ada lagi tamu undangan, tidak ada sanak saudara, juga tidak ada calon suami yang sedang ia cari.
"Permisi, apakah pernikahan hari ini dibatalkan?"
"Apa kalian tahu ke mana perginya mempelai pria?" tanya Fitri pada salah satu pria yang ada di sana.
"Dibatalkan? Siapa bilang dibatalkan? Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Pasangan pengantin juga sudah pergi satu jam yang lalu."
"Mbak ini siapa?" tanya pria itu kebingungan sebab tak mengenali Fitri.
"Berjalan lancar?" Ia mulai tak mengerti, berpikir sejenak apakah benar ia memasuki tempat yang seharusnya menjadi pernikahannya bersama Hendri.
"Maaf kalau boleh saya tahu, apakah pengantin prianya bernama Hendri Fransisko?" tanyanya lagi.
"Iya."
Fitri pun semakin kebingungan, ia ingin menghubungi Hendri, tapi tidak tahu di mana ponselnya terjatuh.
"Kalau begitu terimakasih, saya pergi dulu." Fitri pun ambil diri dan keluar dari tempat itu.
Seperti biasa, saat ia tiba di sana satpam tersenyum ramah dan membukakan pagar untuknya.
Beberapa kali mengetuk pintu akhirnya ada yang membukakan.
"Bunda." Fitri tersenyum ketika melihat orang yang berada di ambang pintu adalah Bu Hajjah.
Bu Hajjah tidak mengatakan apapun, wajahnya datar dan memperhatikan penampilan Fitri yang berbeda.
Tidak ada lagi kebaya yang menempel di tubuhnya, hanya ada setelan pakaian serta selendang berwarna hitam yang melingkar di leher.
"Bunda, apa Mas Hendri ada di dalam? Aku ingin bicara dengannya," ucapnya gugup. Sebenarnya ia sedikit takut karena sadar akan kesalahannya yang pergi di acara pernikahan tanpa memberitahu terlebih dahulu, tapi ia benar-benar mendesak, tidak terpikirkan untuk memberitahu siapapun tentang kematian ibunya. Benar-benar panik saat itu.
Bu Hajjah tidak mengatakan apapun, ia hanya memberikan alamat di mana Hendri berada, tidak menjelaskan apapun yang telah terjadi di acara pernikahan tadi, lebih-lebih tidak menceritakan tentang keadaan Andini yang sedang hamil.
"Kalian selesaikanlah dengan baik-baik, biar Hendri yang menjelaskan padamu, Bunda tidak akan ikut campur lagi dengan apa yang terjadi diantara kalian." Usai mengatakan hal itu Bu Hajjah pun masuk ke dalam tanpa mempersilahkan Fitri masuk, membiarkan wanita itu mematung di teras rumah.
"Maksud Bunda barusan apa?" gumam Fitri sembari menatap potongan kertas yang diberikan Bu Hajjah berupa alamat Hendri saat ini.
"Mas," panggil Andini.
"Hmm." Tanpa membuka mulut, mata pun tertutup rapat, tak ingin membukanya dan menghadapi kenyataan yang begitu mempermainkan takdirnya.
Seharusnya saat ini dia telah menikmati masa pengantin baru bersama Fitri, bukan Andini.
"Sudah hampir satu jam kita di sini, tapi kamu tidak mengatakan sepatah kata pun apalagi menyapaku, menanyakan apa yang bisa membuat aku nyaman atau sekedar ngobrol basa basi denganku. Aku bosan, Mas." Andini tampak kecewa, menatap wajah Hendri yang terus berbaring di atas kasur tanpa beranjak.
Hendri perlahan membuka matanya, lalu berdiri sembari berkata, "Sudah sore, aku akan mandi. Kau bisa cari angin di luar jika merasa bosan." Dan ia pun berlalu menuju ke kamar mandi tanpa menghiraukan wajah lesu Andini yang meminta diperhatikan olehnya.
Tiba-tiba suara ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunan Andini.
"Mas Hen, apa kamu ada di dalam?"
Andini mengerutkan alisnya. "Suara itu ...?"
Ia melirik ke arah pintu kamar mandi sejenak, lalu dengan yakin melangkah keluar untuk membuka pintu karena ia tahu betul siapa yang sedang datang bertamu.