Please, Love Me

Please, Love Me
Wisuda



"Fit, selamat, ya. Akhirnya setelah hampir 4 tahun, kita berhasil make baju toga ini."


"Iya, selamat juga untuk kamu ngel." Raut kebahagiaan itu benar-benar tak bisa tergambarkan dengan apapun.


Usaha dan lelahnya kali ini benar-benar terwujudkan, akhirnya ia berhasil wisuda S1.


Angel Pradita, dua bulan lalu mereka berteman bahkan jadi sahabat baik, meski tidak satu keyakinan. Namun, Fitri tak pernah mempermasalahkannya.


Baginya, memiliki seorang teman yang setia, adalah salah satu anugerah yang harus ia syukuri, toh sama-sama ciptaan Tuhan.


Semenjak berteman dengannya, Fitri kembali merasa hidup, tidak kesepian seperti sebelumnya.


"Suamimu tidak datang, Fit?"


"Ini hari spesial kamu, lho."


Pertanyaan Angel kembali mengingatkan Fitri pada Hendri, pria yang menjadi suaminya lima bulan yang lalu, juga perjanjian yang mereka buat sudah berjalan selama 4 bulan, itu artinya tinggal dua bulan terakhir, maka hubungan mereka bisa kembali dibicarakan. Ingin lanjut, atau bubar.


"Entahlah."


"Kurasa tidak akan datang, tahu sendiri dia adalah pria dewasa yang konon katanya begitu sibuk."


"Tak akan sempat untuk datang."


Fitri tak ingin memusingkan dirinya oleh masalah Hendri, mau datang ataupun tidak, toh rasanya sama saja.


Semenjak hari di mana mereka pulang dari rumah Bunda, Hendri bersikap lebih dingin dari biasanya, bicarapun seperlunya, bahkan tidak sama sekali, keras kepalanya pun semakin meningkat, tak ingin mendengarkan apa yang ia ucapkan dan bertingkah semaunya.


Fitri pun sangat ingat, saat Hendri menghadiri acara pembukaan cabang restaurant milik Andini, pria itu sama sekali tak berbasa basi untuk mengajaknya pergi bersama, ia hanya bagaikan wanita yang mengemis pada Hendri, benar-benar memalukan jika mengingat semuanya.


Hal itu membuatnya semakin malas untuk lebih peduli pada pria itu, lebih baik menyibukkan diri sendiri dengan hal yang lebih berguna.


Meski ia tahu Hendri adalah lelaki yang bertanggung jawab, tapi jika tak pernah diajak bicara meski berada di satu atap, ia yakin kepalanya lama-lama bisa pecah menghadapi pria berhati batu seperti Hendri.


"Kamu yang sabar, ya, Fit." Angel tampak memasang wajah prihatin dan tak tega melihat sahabatnya yang seakan dipermainkan oleh suami sendiri.


"Kamu tidak perlu sedih begitu." Fitri menepuk pundak Angel sembari terkekeh.


"Aku sudah kebal terhadap sikapnya."


"Lelaki yang bertanggung jawab saja tidak cukup. Daripada makan hati setiap hari." Mata Fitri sedikit menyipit, lalu sama-sama tertawa bahagia dan saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain, serta saling berbagi dikala yang satu butuh bantuan.


"Fitri."


Saat namanya dipanggil oleh seseorang, ia segera menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilnya.


"Anda?" Alisnya sedikit mengerut, berusaha mengingat siapa pria yang mengenalinya itu.


"Tidak ingat lagi?"


"Saya Rangga."


"Kita pernah bertemu sekali di restorannya Hendri waktu itu."


Bola mata Fitri memutar berusaha mengingat, dan membuka mulut setelahnya.


"Oh, temannya Mas Hendri, kan?" matanya membulat sempurna.


"Iya, betul sekali."


"Ngomong-ngomong, selamat, ya, sudah dapat gelar di usia yang masih muda begini, pasti kamu termasuk siswi yang pintar," pujinya sembari tersenyum ramah.


"Ah, biasa aja, Mas."


"Kalau boleh tau, Mas Rangga sendiri sedang apa?"


"Kebetulan adikku juga wisuda hari ini, jadi aku datang menggantikan orang tua."


Fitri mengangguk mengerti, juga tidak lupa memperkenalkan Angel pada Rangga.


"Bagaimana jika kutraktir kalian makan-makan? Sekalian merayakan wisuda adikku."


"Ide yang bagus," celetuk Angel begitu semangat.


"Tidak usahlah, Mas. Tidak enak pada adikmu jika kami orang asing ikut dalam perayaannya," sergah Fitri merasa tak enak.


"Sudah, tidak apa-apa, nanti biar kukenalkan pada adikku sekalian." Rangga tanpa ragu menarik kedua tangan wanita itu menuju ke arah mobilnya.