
"Kamu sadar tidak sih, Mas? Apa yang kamu lakukan tadi itu sangat keterlaluan."
Sepanjang perjalanan mereka telah dilanda oleh kebisuan, hingga Fitri tak tahan untuk mendakwa suaminya dengan berbagai pertanyaan usai mereka tiba di rumah.
"Kamu yang keterlaluan," balas Hendri acuh tak acuh, entah kenapa dia tak ingin menatap istrinya. Mungkin takut, atau mungkin juga merasa bahwa kesalahan memang ada padanya.
Namun, hanya saja tak ingin mengakui.
Fitri menyunggingkan bibir dengan sinis menatap Hendri yang masih berpaling muka dengannya. "Coba kamu katakan di mana letak keterlaluannya aku, Mas Hen?"
Hendri diam saja, tak ingin menjawab.
"Begini sikap kamu setelah membawaku pulang dan mengusik kesenangan orang lain?"
"Di mana sikap keras kepalamu tadi? Ke mana perginya Mas Hendri yang tadinya marah-marah di tempat umum?"
"Sekarang malah diam seperti batu," gerutu Fitri semakin kesal.
"Kamu seharusnya tahu bahwa seorang istri tidak boleh bersuara lebih lantang di hadapan suaminya." Itulah jawaban Hendri setelah Fitri berbicara panjang lebar di hadapannya.
Fitri akhirnya memejamkan mata mencoba menenangkan diri, sembari berucap. "Astaghfirullahal'azim."
"Maafkan hambamu ini ya, Allah." Lalu mengelus dada dan menghempaskan diri di sofa.
Kini ia diam tanpa kata, menatap Hendri pun enggan.
"Seharuanya kamu izin terlebih dahulu padaku sebelum pergi meninggalkan kampus." Hendri mulai sedikit bersuara ketika melihat Fitri mulai tenang.
"Walau bagaimanapun aku adalah suamimu, aku berhak tau di mana dan dengan siapa kamu pergi." Sambil meneguk segelas air, cukup haus mendengarkan Fitri mengoceh di hadapannya.
"Sejak kapan kamu peduli ke mana dan dengan siapa aku pergi?" Fitri tersenyum getir.
"Bukankah kamu sangat sibuk, Mas Hen?"
"Yang bahkan aku sendiri tidak tahu kesibukan apa yang kamu lakukan setiap harinya bersama wanita itu," sinisnya.
"Maksud kamu Andini?"
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya," jelas Hendri.
"Oh, ya, aku hampir lupa, bukankah aku hanya wanita yang kamu nikahi secara terpaksa?"
"Tidak masalah jika Mas Hen ingin menceraikan aku detik ini juga."
"Aku anggap janjiku pada Mbak Dinda sudah lunas, lagipun ada kembarannya yang bisa menggantikan posisiku sekarang." Fitri kembali memalingkan wajahnya.
"Maksud kamu apa?" Hendri seketika menatap lekat ke arah Fitri.
"Jadi kamu meminta waktu selama 6 bulan itu hanya karena ingin menepati janji?"
"Lantas ada hal apa lagi yang membuatku bisa bertahan hidup di lingkungan pria sepertimu?" jawab Fitri dengan cepat.
Hendri mengangguk sembari tersenyum kaku.
Sekerang ia mengerti, setelah selama ini ia berpikir bahwa Fitri meminta waktu 6 bulan itu hanya karena bergantung padanya, tetapi ternyata cuma pikirannya saja yang terlalu berlebihan.
Lagi-lagi dalam hati ia menertawakan dirinya sendiri, betapa memalukannya telah berpikir ada seorang wanita yang ingin bergantung padanya.
Apalagi wanita yang setangguh Fitri, ternyata selama ini hanya dirinya yang berpikir terlalu jauh.
Fitri sedikit melirik ke arah Hendri, penasaran apa yang tengah dipikirkan pria itu hingga tak bersuara lagi.
"Baiklah jika itu yang kamu mau." Fitri segera menoleh dengan cepat mendengar Hendri kembali bersuara.
"Fitri Maharani, aku Hendri Fransisko, dengan disaksikan oleh Allah, kujatuhkan talak satu padamu."
"Mulai detik ini, kamu bukan lagi istriku dan aku bukan lagi suamimu."
Deg!
Napas wanita itu seketika tak beraturan mendengar ucapan pria di hadapannya.
Entah kenapa, mendengar kata talak itu, seakan darahnya berdesir hebat dalam tubuh, jantungnya pun tak hentinya berdetak dengan cepat.
Mulai berkeringat dingin melihat wajah kaku Hendri, yang hanya dalam waktu singkat bukan lagi suaminya.