Please, Love Me

Please, Love Me
Jaga Ucapanmu!



"Kamu ini maunya apa sih, Mas? Berhenti menggangguku, sekarang masih jam kerja, jangan membuat masalah baru lagi!" tegas Fitri sedikit lantang.


"Aku haus, boleh minta tolong ambilkan air untukku?" pinta Hendri. Ya, dia sengaja melakukan itu agar Fitri tetap di sana.


Bola mata Fitri bergerak melirik segelas air di samping Hendri. "Tuan Hendri yang terhormat, segelas air berada tidak jauh di dekat Anda dan Anda masih bisa menjangkaunya, apa perlu pertolongan juga?"


"Nona Fitri Maharani, saya seorang pasien dan Anda seorang perawat bukan?" sarkasnya dengan wajah datar.


Fitri menggertakkan gigi dengan kesal, melihat Fitri yang tampak pasrah, Hendri pun mulai mengendurkan pegangannya terhadap wanita itu.


Fitri kembali berbalik arah dan meraih gelas berisi air lalu memberikannya pada Hendri, tapi apa yang dilakukan pria itu? Ia diam tanpa bereaksi apapun, membuat Fitri kembali mengerutkan alis, tak mengerti akan tingkahnya.


"Tanganku sedang dipasang infus, tolong bantu aku untuk minum."


"Ish!"


Sumpah demi apapun, Fitri ingin berteriak sekeras mungkin saat itu juga, kenapa ia harus melayani seorang pasien seperti Hendri? Pria itu seharusnya dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diperiksakan tingkat kewarasannya. Bagi Fitri, Hendri bagai orang gila yang terus mengacaukan hidupnya.


Kenapa sewaktu pria ini menjadi suaminya, ia tak semenjengkelkan sekarang? Kenapa ia berubah seperti anak-anak dan menganggap Fitri adalah ibunya, terus saja mengganggu dan merengek.


Dengan sangat amat terpaksa, karena tugas seorang perawat adalah melayani pasien, maka ia harus melakukan itu. Ya, memberi minum bayi dewasa.


Hendri tampak menahan senyumnya, merasa puas karena Fitri tak berkutik lagi.


Kriet


Pintu tiba-tiba dibuka oleh seseorang, Fitri menoleh dan melihat bahwa yang masuk adalah Andini, seketika tangannya refleks terkejut hingga air mengguyur hidung dan wajah Hendri.


Pria itu kini benar-benar tersedak hingga hampir mati rasa.


Uhuk!


Ia terus terbatuk sembari mengusap wajah dan hidung yang terkena guyuran air.


Fitri buru-buru meletakkan gelas serta meraih tissu, ia berikan pada Hendri dengan sedikit panik.


"Kenapa kamu di sini?" tanyanya lagi.


Entah kenapa, Fitri merasa raut wajah Andini kali ini seperti tidak menyukai kehadirannya, tidak seperti sebelumnya yang selalu ramah.


"A-aku bekerja di rumah sakit ini, kebetulan perawat yang seharusnya mengurus Mas Hendri sedang ada kesibukan darurat, jadi aku yang menggantikannya." Fitri menjelaskan dengan bibir yang tampak ragu.


"Sekarang sudah ada Mbak Andini, kalau begitu aku keluar dulu, jika ada yang harus dibantu, bisa langsung pencet bell yang ada di samping ranjang pasien." Fitri menunjuk ke arah bell berwarna merah yang ada di samping ranjang, lalu beringsut mundur meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu. Ya, hanya mereka berdua, tanpa ada siapapun lagi.


"Maaf aku sedikit lama, Mas." Andini segera mendekat usai Fitri meninggalkan ruangan.


"Apa kamu baik-baik saja? Wanita itu tidak melakukan hal jahat padamu, kan?"


Pertanyaan Andini berhasil membuat Hendri sedikit melotot lalu mengerutkan alisnya menatap wanita itu. "Maksud kamu apa? Kenapa berpikir bahwa Fitri akan melakukan hal jahat terhadapku?"


Entah kenapa, ada sedikit rasa tidak terima jika Fitri dituduh seperti itu, walau bagaimanapun, seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuknya, karena ialah orang jahat itu. Jahat karena berulang kali menyakiti Fitri lewat kata-katanya yang tak pernah ia saring sebelum diucapkan.


"Apa aku salah?" tanya Andini dengan wajah yang serius.


"Kamu tiba-tiba sakit begini karena apa? Karena semenjak bertemu dengannya kemarin sore, kan? Jika tidak, apa mungkin kamu akan tiba-tiba lesu seperti kekurangan tenaga semenjak pulang dari pantai? lantas tiba-tiba pingsan tanpa sebab hingga harus dirawat di rumah sakit ini."


"Siapa lagi penyebabnya jika bukan karena perempuan tengil itu?"


"Jaga ucapan kamu, Andini!" Kini Hendri tak main-main memperingati Andini dengan tegas.


"Dia bukan perempuan tengil," lanjutnya.


"Lalu apa?" cetus Andini sedikit bernada tinggi.


"Aku malas berdebat denganmu, jika kau masih menuduhnya yang bukan-bukan, lebih baik kau pulang ke Bandung sekarang," ucap Hendri kembali mempertegas.


"Cih!" Andini meletakkan kotak makan dan minuman yang ia bawa dengan kasar ke atas meja.


Diam dengan seribu bahasa lalu duduk di kursi yang berada di dekat jendela, tentu saja dengan perasaan yang menderu hebat akan kegusaran yang tak dapat diukur seberapa tinggi tingkatnya. Tak terima jika Hendri terus membela Fitri.