Please, Love Me

Please, Love Me
Marah Tanpa Alasan



"Di cari ke mana-mana ternyata bersenang-senang di sini."


"Mas Hen?"


Fitri menaikkan alisnya menatap bingung pada Hendri yang saat ini bicara dengan sinis di tempat umum.


"Kamu yang memintaku datang, bukan?"


"Aku sudah menyempatkan waktu untuk bisa datang, tapi apa?"


"Kamu sama sekali tak menghargaiku."


"Maksud kamu apa sih, Mas?"


Fitri semakin tak mengerti melihat Hendri yang terus menggerutu di hadapan teman-temannya dan juga Rangga.


Ya, begitulah sikap pria itu semenjak wanita yang bernama Andini masuk dalam kehidupannya.


Ia tak pernah bicara lembut pada Fitri seperti sebelum-sebelumnya, nadanya selalu lantang tak berperasaan, membuat wanita yang menyandang status sebagai istrinya itu pun kalang kabut menghadapi sikapnya yang terus berubah-ubah, tak dapat ditebak sama sekali.


"Ikut aku pulang sekarang," titah Hendri tanpa ingin dibantah.


"Mas Hen, aku baru saja tiba di sini bersama mereka."


"Tidak mungkin langsung pulang begitu saja," tolak Fitri.


"Aku bilang pulang, ya pulang, jangan membantah!" tegasnya.


"Tidak, aku tidak mau." Fitri semakin kokoh menolak.


"Fitri Maharani!" Semua orang menoleh mendengar suara lantang Hendri.


"Apa-apaan sih, Mas? Malu dilihat banyak orang." Fitri ikut kesal melihat tingkah Hendri.


"Kekanakan sekali," celetuknya lagi dengan tatapan yang semakin ilfeel.


"Jangan paksa aku berbuat kasar."


"Sekali aku katakan begini, kamu harus nurut, jangan membantah."


"Ayo, pulang sekarang."


"Hendri, lepaskan!" Rangga yang cukup sabar menahan diri, kini akhirnya goyah juga, ia mendorong tubuh pria itu agar melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Fitri.


"Dia istrimu, bukan binatang."


"Begitukah caramu memperlakukan seorang wanita, hah?" Rangga ikut tersulut.


"Kau jangan ikut campur." Hendri mengabaikan, lalu berusaha untuk kembali menarik Fitri yang kini dilindungi oleh Rangga.


"Mas Hendri, tidak bisakah bicara baik-baik saja di sini?"


"Bagaimana jika Mas duduk bergabung bersama kami dan ikut merayakan kelulusan Fitri?" Angel juga berusaha untuk menenangkan suasana, ia merasa tak enak jika mereka menjadi sorotan mata setiap pengunjung restoran tersebut.


"Kau bocah tengil tidak tahu apapun, lebih baik diam," sergah Hendri.


"Astaga." Angel seketika hanya bisa menghela napas dalam dan pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika menghadapi pria sekeras Hendri.


Baru pertama kali bertemu dengan pria itu, bahkan lebih menakutkan dari yang diceritakan oleh Fitri.


"Fitri, jika kamu tidak ingin ikut bersamanya, katakan saja, jangan takut. Aku akan membelamu." Rangga menatap Fitri dengan lembut, bahkan orang lain saja lebih peduli padanya ketimbang suaminya sendiri.


Fitri menatap Rangga dan tersenyum, lalu beralih memandangi Angel dan juga adiknya Rangga.


Fitri merasa kasihan pada mereka yang harus ikut menyaksikan betapa mengerikannya rumah tangga yang ia jalani bersama Hendri, seharusnya mereka tidak melihat semua ini, tapi Hendri tetaplah Hendri, sepertinya sifat dan watak aslinya sungguh benar-benar keluar saat ini.


"Mas Rangga, terimakasih sudah berpihak padaku. Namun, aku tidak ingin kamu terlibat."


"Kalian lanjutkanlah makan di sini, aku akan pergi bersama Mas Hendri." Fitri akhirnya mengalah demi kenyamanan mereka.


"Tapi bagaimana denganmu?" Rangga tampak khawatir.


"Tidak usah sok peduli," sela Hendri sinis, tapi Rangga sama sekali tak memedulikannya. Ia hanya dianggap angin lalu oleh Rangga.


"Mas Rangga tidak perlu pikirkan aku, yang paling penting perayaan adikmu harus tetap berlanjut, kasian jika semua ini berantakan karenaku."


"pasti akan ada lain kali lagi, saat itu tiba aku yang akan mentraktir kalian." Sekuat dan sebisanya Fitri berusaha untuk bisa tersenyum, meski hatinya perih teriris oleh sikap Hendri yang semaunya dia saja.


Hatinya benar-benar membuncah hebat ketika mata itu menangkap wajah Hendri yang saat ini bahkan tanpa merasa bersalah menunggunya untuk ikut pulang.