Please, Love Me

Please, Love Me
Berlutut



"Bisakah kamu berhenti membuat sebuah lelucon, Tuan Hendri Fransisko?" Sembari melempar tatapan tak habis pikir pada pria itu.


"Beri aku satu kesempatan lagi, Fitri," ujarnya dengan raut wajah memohon.


Fitri tergelak menatap penuh rasa kesal. "Aku menghormatimu sebagai orang yang lebih tua, tapi bisakah kamu juga tahu diri sedikit, Mas?"


"Lihat dirimu, bisakah kamu lihat baik-baik apa yang pernah kamu lakukan terhadapku? Semasa Mbak Dinda masih hidup, apa kamu pernah menjadi sosok suami yang adil?" Tatapannya nanar, berusaha menahan mata yang mulai berembun.


"Ketika Mbak Dinda meninggal, pernah kamu bersikap baik padaku, Mas? Pernah kamu memberikan sesuatu yang seharusnya kamu berikan sebagai seorang suami? Tidak, Mas. Kamu bahkan menganggapku seperti seorang pengemis yang selalu memohon belas kasihan."


"Aku selalu berusaha menjadi seorang istri yang patuh dan tidak membantah apapun. Apapun yang kamu perintahkan, aku turuti, lalu bagaimana balasanmu terhadapku? Hanya sikap dingin dan acuh yang memperlihatkan bahwa aku bukanlah siapa-siapa yang tak layak untuk diperhatikan."


"Tapi sekarang?"


"Sekarang kamu meminta untuk kembali dengan tanpa rasa bersalah." Ucapannya sedikit tersendat.


"Tidakkah kamu merasa malu pada diri kamu sendiri, Mas?" Sebisa dan seberusaha apapun ia menutupi. Namun, rasa sesak itu terus membuncah, mendobrak pintu pertahanan hatinya hingga memecah buliran air bening melalui kelopak mata.


Hati wanita mana yang tak terluka jika dipermainkan oleh seorang pria, terlebih pria itu pernah menjadi suaminya dan kini malah dengan mudahnya meminta kembali tanpa menebus segala kesalahan yang pernah ia lakukan.


Rasanya sulit, sulit bagi Fitri untuk menerima begitu saja tanpa melalui beberapa pertimbangan untuk masa depannya.


Ia menganggap, pernikahan sebelumnya adalah kesalahannya sendiri yang begitu polos, berpikir bahwa mengorbankan perasaan untuk orang lain itu mudah, tapi nyatanya? Sangat, sangat, dan sangat sulit.


Ia bukan malaikat, ia tetap wanita biasa yang juga memiliki rasa jenuh dan ingin bahagia, tak selamanya ia mampu menenggelamkan diri dan perasaan ke lubang hitam yang tak bisa melihat arah masa depan dan kebahagiaannya. Ia sungguh tidak sesuci itu.


"Jika kamu bertanya tidakkah aku malu? Ya, aku sangat malu pada diri sendiri, terlebih pada dirimu."


"Maka dari itu aku ingin meminta satu kali kesempatan lagi, agar bisa menebus kesalahan demi kesalahan yang selama ini pernah kulakukan terhadapmu." Tatapan sayu itu benar-benar menandakan sebuah ketulusan yang sangat dalam, ia menyesali perbuatannya yang selama ini selalu mengacuhkan Fitri, wanita yang 24 jam senantiasa rela melayaninya, mulai dari memperhatikan pola makannya, tidurnya, bahkan rela begadang menemani ia kerja, tapi saat itu ia malah tak pernah memperlihatkan kepekaannya dan mementingkan rasa egois di dalam diri, lupa bahwa ada satu wanita yang tersiksa batin dan pikirannya.


Tak mendapat jawaban dari Fitri, lantas Hendri kembali berkata, "Apa perlu aku meminta maaf sambil bersujud di kakimu untuk membuktikan bahwa aku tulus menyesali kesalahan itu? Apa dengan begitu bisa membuatmu percaya, Fitri?"


Fitri memalingkan wajah bersamaan jatuh berderainya air mata yang dari tadi tak dapat ia bendung. Namun, secepatnya ia mengusap air mata itu agar tak terlihat lemah di hadapan Hendri.


Hendri perlahan menurunkan kakinya dari ranjang pasien dan melepas infus yang masih melekat di punggung tanganya, berjalan perlahan mendekati Fitri.


Bruk!


Seketika Fitri terkejut bersamaan dengan suara jatuhnya lutut Hendri di atas lantai, pria berusia 30 tahun lebih itu sedang berlutut di hadapannya, terlebih ia semakin tak menyangka saat Hendri memeluk kedua kakinya dengan rasa penuh penyesalan.


"Apa yang kamu lakukan, Mas? Lepaskan aku, menjauhlah." Suaranya semakin bergetar hebat, ia ingin bergerak menjauh, tapi Hendri masih memeluk kakinya, jika ia lepas dengan paksa, takutnya Hendri terluka, secara pria itu saat ini kesehatannya masih belum stabil.


"Aku minta maaf."


"Jika dengan begini bisa membuatmu lebih tenang, maka seribu tahunpun aku akan tetap dalam posisi seperti ini agar kamu bisa selalu hidup tenang dan tidak terlukai lagi." Hendri dapat merasakan getaran pada kaki Fitri, wanita itu memang sangat terkejut hingga rasanya tulang di sekujur kakinya seakan tak mampu lagi menopang diri.


Di sana Fitri malah menangis sejadi-jadinya. Ia tak ingin menangis, tapi kenapa air mata itu selalu saja tak berhenti membanjiri wajahnya.


Apa yang ia tangisi?


Dan apa yang juga harus ia jawab? Bisakah ia memulai kembali lembaran baru kehidupannya bersama orang yang sama? Tidakkah ia akan terluka lagi? Apa yang harus ia katakan?