
"Mas, sakit! Lepaskan!" Fitri mengibas tangannya dengan kuat hingga terlepas dari cengkraman suaminya.
Dengan puncak kemarahan yang semakin membara, Hendri tak peduli Fitri merasakan sakit ataupun tidak, ia kembali menarik Fitri dengan paksa dan memasuki kamar mandi yang ada di kamar Fitri.
"Masuk!" paksanya tanpa peduli Fitri hampir terjatuh karena lantai yang licin.
"Untuk apa kamu membawaku ke sini, Mas?" tanya Fitri yang mulai panik, apa tujuan Hendri sebenarnya.
Hendri menyalakan shower di kamar mandi, membiarkan Fitri terguyur air dingin di malam hari.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Mandi air dingin di tengah malam bisa membahayakan kesehatan!" teriak Fitri sambil berusaha menjauh dari guyuran air, tapi tenaga Hendri melampaui batasnya, ia tak dapat berkutik dan pada akhirnya pasrah meski merasa kedinginan.
"Aku tidak tahu dengan begini apakah bisa membersihkan tubuhmu yang terlanjur kotor."
"Lepaskan pakaianmu!" titah Hendri tanpa ingin dibantah.
"Tidak." Fitri menggeleng dengan cepat, mungkin iya, dia memang seharusnya tidak malu untuk membuka pakaiannya di depan Hendri karena pria itu telah menjadi suaminya, tapi jika dalam keadaan seperti ini, sepertinya sangat tidak layak, apalagi Hendri sedang salam paham terhadapnya. Alasan lainnya, ia tak terbiasa memperlihatkan tubuhnya pada lelaki manapun.
"Jangan paksa aku untuk membukanya dengan tanganku sendiri," bentak Hendri lagi. Fitri diam saja, menyilangkan kedua tangannya di depan dada tak ingin disentuh.
"Baik." Hendri mengangguk tipis.
"Aku yang akan melakukannya." Hendri pun memaksa Fitri agar tidak berontak, sambil berusaha untuk membuka resleting yang ditutupi oleh istrinya itu.
"Mas, lepas!"
Plak!
"Apa-apaan kamu, hah? Beraninya memaksaku seperti itu, memangnya kamu siapa?!" bentak Fitri dengan mata yang melotot tajam pada Hendri.
Dan detik itu juga wajah Hendri tampak semakin memerah, rahangnya juga mengeras menahan amarah yang tadinya belum reda, kini semakin memuncak.
"Kenapa? Kenapa aku tak berhak memaksamu? Apa cuma pria itu yang berhak menyentuhmu?"
Fitri diam saja, matanya terasa begitu perih terkena air yang tak henti-hentinya mengalir deras.
Hendri pun kembali melanjutkan paksaannya hingga pakaian Fitri terlepas secara tak wajar, pakaiannya dirobek hingga tak berbentuk lagi.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" Rasanya ingin bersembunyi saking malunya, setelah itu Hendri mematikan shower lalu membalut tubuh wanita mungil itu dan mengangkatnya keluar dari kamar mandi.
"Lepaskan aku, Mas. Apa yang kamu lakukan?" Fitri terus memberontak, Hendri mengangkatnya seperti sedang memikul sebuah barang, membuat kepalanya melayang-layang di udara.
"Katakan padaku bagaimana pria itu menikmati tubuhmu? Aku tak percaya bahwa kamu lebih memilih pria lain untuk memuaskan hasratmu ketimbang memintanya pada suamimu sendiri." Hendri membuka kancing bajunya satu persatu setelah menghempaskan tubuh Fitri di atas ranjang.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Mas?" Fitri tampak pucat, ia berusaha untuk bisa mundur agar Hendri tak menyentuhnya.
"Malam ini akan menjadi malam yang begitu panas, alangkah baiknya jika suhu ruangan menjadi lebih dingin." Hendri meraih remot AC, menyetelnya menjadi semakin dingin membuat Fitri seakan menggigil seketika.
"Kenapa? Kamu tidak usah sok polos, Fitri."
"Reaksimu ini ... seolah-olah kamu tidak pernah disentuh oleh pria manapun, padahal tanpa sepengetahuanku, kamu sudah bermain gila dengan yang lain, entah sudah berapa banyak lelaki yang menyentuh dan mencicipimu, aku tak percaya sebagai seorang suami bahkan aku tak berhak melakukannya juga." Hendri tampak menyeringai sinis dan perlahan mendekati Fitri, hal itu membuatnya semakin terlihat mengerikan dan Fitri seakan takut melihat ekspresinya, seperti bukan Hendri yang ia kenal.
"Siapapun itu, apakah bisa menolongku sekarang juga?" batin Fitri, semakin merasa ketakutan. Hendri benar-benar terlihat buas saat ini.