
Riana langsung membawa Steve ke rumah sakit untuk mempertemukannya dengan Niko.
"Mommy, who's this?" Steve terlihat bingung ketika sudah berada di ruangan Niko dirawat.Tubuh Niko dipenuhi perban hanya wajahnya yang terlihat namun juga di penuhi luka.
"Your Daddy." Riana mengangkat tubuh Steve ke pangkuannya lalu menyatukan tangan Steve dengan tangan Niko namun seketika Steve menarik tangannya.
"Daddy Sev bukan dia tapi Daddy Liko!" pekik Steve.
Steve memperlihatkan raut wajah tidak sukanya dengan mengalihkan pandangannya.Riana hanya tersenyum dengan sikap Steve mengingat usianya baru tiga tahun.Steve hanya tahu Daddynya adalah Riko bukan pria di depannya itu hingga Riana tidak ingin memaksa putranya itu.
"Steve kau tidak ingin kan Daddy Niko pergi jadi bujuk dia agar cepat bangun," pinta Riana dengan sabar.
Perlahan Steve mulai menatap pria di depannya itu, saat itu terlihat Niko menitikkan air mata dari pelupuk matanya yang terpejam. "Mommy, om itu kenapa nangis, apa dia sakit?"
Riana pun mengangguk.
Steve pun menjadi iba. "Ya Tuhan, Sev mohon buat Om ini cepat cembuh bial nggak nangis lagi."
Steve mengangkat kedua tangannya berdoa.
"Aamiin," sambung Riana.
Riana lalu mengelus pucuk kepala Steve dan mengecupnya.
"Kau dengar!putramu berdoa untukmu, cepatlah bangun!apa kau tak ingin melihatnya.Steve seperti dirimu lihat kalian seperti anak kembar." Riana menatap Niko sesaat lalu beralih ke Steve.Wajah keduanya memang sangat mirip.Steve mewarisi semua ketampanan yang dimiliki Niko bahkan Steve jauh lebih tampan.
Sementara kebersamaan ketiganya menjadi perhatian Erick yang berada di luar ruangan itu.
"Selama ini kau selalu menolakku karena kau masih mencintai pria itu," gumam Erick.
Pria itu langsung mengalihkan perhatiannya karena tidak ingin hatinya semakin sakit.Selama ini Erick selalu menunggu Riana dan akhirnya kepiluan yang kini dirasakannya.
Tiba-tiba tangan Erick ditahan seorang pria yang tak lain adalah Riko atasannya.Erick menundukkan kepalanya memberi hormat pada atasannya itu.
"Apa kau akan membiarkan mereka begitu saja?jadilah pria keras kepala demi mendapatkan keinginanmu karena jika tidak, kau tidak akan mendapatkan keinginanmu karena hanya penyesalan yang akan kau dapat!" tegas Riko.
Pria itu hanya tertunduk tanpa mengatakan sesuatu batinnya juga ingin melakukan hal yang dikatakan atasannya itu namun dirinya tak seberani atasannya itu.
Riko sangat ingin melihat Riana bahagia bersama Erick karena pria di depannya itu tahu Erick adalah pria terbaik untuk Riana.Beberapa tahun Riana di Amerika bahkan pria itu selalu menjaga cinta untuk adiknya.Erick juga lah yang selalu menjaga Riana karena dari Erick lah, Riko mengetahui semua perlakuan buruk Niko.
Riana mulai aktif bekerja di kantornya. Beberapa hari menunggu Niko, pria itu tetap belum sadarkan diri membuatnya memutuskan untuk kembali bekerja.Beberapa hari lalu Riana memang sempat memutuskan untuk mundur namun akhirnya Ia berubah pikiran karena dengan bekerja ia akan melupakan masalahnya.
Riana bergegas pergi ke rumah sakit namun tiba-tiba Riko memasuki ruangannya.
"Tumben kesini Kak?"
"Kakak sengaja datang ke kantormu untuk mengajakmu pulang bersama." Riko berucap sambil tersenyum.
"Pulanglah dulu Kak, aku ingin ke rumah sakit."
Riana beranjak pergi melangkah kakinya namun baru beberapa langkah tangannya ditahan Riko. "Sudah cukup kau memperdulikan pria brengsek itu, kau bahkan disiksa olehnya!kau sudah lupa!" tegas Riko menatap tajam Riana.
Riko benar-benar tak habis pikir dengan sikap Riana.Selama ini bahkan pria itu membuatnya menderita tapi tetap saja memperdulikannya.
"Dia memang bersalah Kak namun Niko tetaplah daddy dari putraku.Aku tak ingin Steve menjadi yatim!" Riana menghempas tangan Riko lalu melangkahkan kakinya dengan raut wajah kecewanya.
"Riana!" pekik Riko
Namun Riana tetap melangkah pergi tanpa memperdulikannya.Langkah Riana mengayun menuju besment.fokusnya tertuju pada seorang pria yang berdiri menyender mobilnya.
"Erick, apa yang kau lakukan?" tanya Riana.
"Aku sedang menunggumu," jelas Erick.
"Aku harus pergi Erick kita bicara besok saja." Riana membuka mobilnya namun tangan kekar Erick menahannya.
Saat itu Erick langsung mendekap tubuh Riana dari belakang. "Bisakah kau melupakan pria itu, aku sangat ... men-cintaimu." Erick sedikit terbata-bata mengungkapkan perasaannya.
Erick memang bukanlah sosok pria romantis yang dapat dengan mudah mengungkapkan perasaannya apalagi mengobral cinta seperti pria diluaran sana baginya mengungkapkan cinta seperti ini adalah keberanian terbesarnya.
Sesaat Riana terbuai dengan kata cinta dari Erick namun itu hanya sesaat karena Riana segera mengurai dekapan Erick.
"Maaf Erick aku harus pergi." Riana masuk ke dalam mobilnya lalu melaju meninggalkan Erick yang masih terpaku di tempatnya.
Riana menatap wajah pria itu dari spion mobilnya.
"Maafkan aku, Erick," gumamnya.Mobilnya terus terpacu membelah jalanan di sore menjelang malam itu.