
Beberapa hari setelah pengakuan Erick tentang pernikahannya yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, Riana tidak banyak bicara. Riana memilih kembali bekerja demi menghilangkan rasa bosan juga pikirannya yang tidak-tidak.
Steve cukup dekat dengan Novi membuat Riana sedikit lega. Novi sangat menyayangi Steve.
"Nyonya Erick, kenapa kau kembali? kau tidak puas dengan kerja suamimu hingga ...." Angela menghentikan ucapannya karena saat itu Riana menatapnya tajam.
"Kenapa, apa yang terjadi?" bisik Angela karena saat itu Erick fokus menatapnya dan Riana.
"Kerja Angel!" bentak Riana.
Angel pun kembali fokus ke berkas di depannya begitu juga dengan Riana.
Erick sendiri bingung dengan sikap Riana setelah pengakuannya beberapa hari lalu Riana tidak marah namun Ia juga tidak bicara apa-apa. Ia terus diam saat Erick berbicara dengannya.
Saat makan siang Riana menarik tangan Angela keluar dari ruangannya sementara mengabaikan Erick yang menatapnya bingung.
"Ajak Erick." Angela menepis cekalan tangan Riana.
"Ssttt. Diam!" Riana menutup mulut Angela lalu kembali menariknya pergi.
"Kita mau kemana?" Angela penasaran karena sudah lebih dari sepuluh menit melaju mobil Riana belum juga berhenti.
Mobil Riana akhirnya masuk ke parkiran rumah sakit.
"Mau apa, elo mau periksa kandungan?" tanya Angela.
"Ikut aja." Riana kembali menarik tangan Angela masuk ke lobby rumah sakit itu.
Entah kebetulan atau memang nasib baik Riana saat ia hendak menuju ruangan Agnes, wanita itu berjalan menuju arahnya.
"Oh jadi ini Dokter pelakor itu!" Riana berkata dengan suara yang keras membuat perhatian orang di sekitar mereka tertuju padanya.
"Apa maksudmu?" Agnes terlihat kesal karena semua orang kini menatap tajam ke arahnya.
"Cantik-cantik kok pelakor."
"Nggak nyangka Dokter Agnes berbuat sekeji itu."
"Jangan sampai berurutan dengan Dokter itu nanti suami kita digoda."
Cercaan dilontarkan beberapa orang membuat Agnes mengepal. Seketika ia ingin merobek mulut lancang wanita yang tersenyum puas di depannya.
"Apa maksudnya?" Angela berbisik di telinga Riana.
Namun tiba-tiba tubuh Riana di dorong dengan kasar oleh Agnes sampai Ia terhempas. Beruntung tangan pria menahan tubuhnya hingga tidak jatuh ke lantai.
"Erick." Riana terbelalak dengan adanya Erick yang tidak disangka-sangka.
"Kau keterlaluan Agnes, kau bisa saja melukai bayiku," sentak Erick. Nafasnya naik turun menahan amarahnya.
"Dia yang mulai duluan Erick, dia yang cari masalah.Kau memikirkan dia, lalu bagaimana dengan bayimu dalam kandunganku!" gerutu Agnes.
Mendengar pengakuan yang mengejutkan karena bukannya hanya menikah di belangnya namun suaminya itu malah sudah menanam benih di rahim wanita ****** itu. Riana menarik lengan Angela melangkah pergi meninggalkan Erick dan Agnes.
"Riana!" pekik Erick.
Riana tetap saja melangkah pergi tanpa menghiraukannya. Saat Erick ingin mengejarnya tangan Erick di tahan Agnes.
Riana terus saja menitikkan air matanya mengabaikan Angela yang terus bertanya.
"Sabar Na, mana mungkin Erick selingkuh, kau salah paham mungkin." Angela mencoba mendinginkan suasana hati Riana.
Angela tidak mempercayai Erick selingkuh karena Ia tahu betul pria itu sangat mencintainya sahabatnya itu jadi mustahil.
"Erick dia menikahi wanita itu, kau tadi juga dengan wanita itu sudah hamil," ucap Riana di sela isakan tangisnya.
"Mungkin saja Erick dijebak?" Angela kembali tidak yakin Erick bisa melakukannya.
"Erick sendiri yang mengatakannya!" pekik Riana emosi karena Angela terus membela Erick. Air mata Riana kembali tumpah. Ia tak menyangka pernikahannya baru seumur jagung sudah diterpa masalah sebesar ini.
"Erick kau, beraninya menduakan Riana." Angel berucap penuh emosi. Ia tidak akan tinggal diam dengan perbuatan Erick yang sudah sangat keterlaluan.
.
.
Sekitar pukul enam sore Erick pulang ke rumahnya namun langkahnya berhenti saat tinjuan melesat ke wajahnya.
"Bajingan kau, jadi selama ini kau hanya ingin menjadi benalu!" Cerca Riko kembali memukuli wajah Erick hingga babak belur. Erick hanya pasrah ketika tangan penuh amarah itu terus meninjaunya.
Mendengar suara berisik dari luar Riana dan Novi yang sedang duduk di sofa beranjak keluar.
"Kakak." Riana yang hendak memisahkan suami dan Kakaknya itu malah kena pukulan Riko.
"Riana kau tidak apa-apa?" cemas Riko.
Riana memegangi wajahnya yang sakit akibat pukulan Kakaknya itu.
Novi mengompres wajah Riana yang terlihat lebam akibat pukulan Riko.
"Au, sakit Bu," rintih Riana.
Sementara Riko menatap tajam ke arah Erick tanpa mau mengalihkannya.
"Pelan-pelan, Bu." Erick tidak tega dengan Riana yang terus merintih.
Akhirnya Novi pun selesai mengompres lalu mengoles salep ke wajah Riana.
"Cepat bereskan baju-bajumu!" perintah Riko membuat Erick dan Novi langsung tersentak.
"Kau maksudku Kakak mau bawa kemana istriku?" Erick tidak terima dengan perintah Riko.
"Kau masih bertanya, menyesal aku telah menjodohkan Riana dengan pria bajingan sepertimu. Kau berani-beraninya menikah dengan wanita lain saat sudah memiliki Riana," cerca Riko.
Steve yang melihat kedatangan Dad Riko langsung berhambur berlari memeluknya.
"Daddy." Steve memeluk Daddynya dengan erat.
"Daddy kecini mau kelja sama Daddy Elik?" Steve menatap Riko sekilas lalu berpindah ke Erick.Steve terkejut melihat Daddynya terluka di wajahnya.
"Daddy Elik kenapa?" Steve bangkit ingin memegang wajah Erick yang terluka namun dengan cepat Erick menahannya.
"Daddy jatuh tadi," kilah Erick.
"Nek, cepat obati Daddy Elik." Steve menarik Novi mendekat ke Erick karena saat itu kotak p3k di pangkuan Novi. Steve pun langsung pergi setelah itu.
"Kak kau pulang lah, aku bisa mengatasi masalahku. Aku tidak ingin memperkeruh suasana rumah ini," usir Riana secara halus.
"Tapi Riana?"
Riana menarik tangan Riko keluar dari rumahnya. Ia mendorong Riko masi ke dalam mobilnya.
"Percayalah Kak, Riana sudah dewasa hingga Kakak tidak perlu lagi mencampuri urusan rumah tanggaku." Riana kembali melangkah masuk meninggalkan Riko yang masih belum terima dengan ucapan Riana namun Ia tidak bisa berbuat banyak karena Riana punya kehidupan sendiri.