
Beberapa hari berlalu Riana kembali ke rumahnya.Wanita itu terlihat ceria untuk menyembunyikan semua masalahnya karena Ia tidak ingin keluarganya cemas.
"Mommy." Steve memeluk Riana yang baru saja memasuki rumah itu juga disusul si kecil Juna yang tidak mau kalah.
Kecupan pun mendarat di kedua pipi gembul Steve dan Juna.Dua malaikat kecilnya itu pasti akan langsung menyambutnya ketika pulang.
"Dimana oleh-oleh Steve, Mommy?"
"Juna juga."
Kedua malaikat kecil itu menatapnya penuh harap membuat Riana yang saat itu tidak membawa apapun menjadi bingung.Tidak terpikirkan olehnya Steve dan Juna akan meminta oleh-oleh, nyatanya dia tidak sedang berpergian urusan bisnis melainkan menghilangkan jejak luka agar tidak membuat keluarganya cemas.
"Steve, Juna main dulu sama mbak Desi, kasian Mommy Riana capek.Oleh-olehnya masih di mobil." Melati mencoba mengalihkan perhatian keduanya.
Keduanya pun berlari menarik pengasuhnya untuk mengajaknya bermain.
"Riana masuk ke kamarmu dan istirahatlah!" perintah Melati.
Saat itu Melati fokus ke Erick yang menundukkan kepalanya saat ia menatap pria itu.
"Kembalilah ke kantor, terima kasih sudah menjaga Riana." Melati tersenyum lalu Erick pun segera pergi sesuai perintah istri atasannya.
***
Erick telah sampai di kantor saat itu Riko menatap foto-foto adiknya yang terlihat lebam di bagian wajahnya membuatnya mengepal penuh emosi.
Erick memberitahu Riko tanpa sepengetahuan Riana juga foto-foto yang diambilnya saat Riana tertidur.Erick tidak ingin pria itu kembali melakukan hal yang membahayakan nyawa wanita yang dicintainya itu hingga memutuskan untuk memberi tahu Riko.
"Bajingan kurang ajar!belum puas ku buat perusahaannya bangkrut lalu berulah lagi, cari mati!" Riko begitu emosi karena perlakuan Niko melewati batas.
Pria itu terus saja menganggu adiknya karena jelas-jelas sudah dipermalukan olehnya lalu membuatnya bangkrut.Kini muncul lagi dan malah menyiksa adik kesayangannya dengan kejam.
Riko semakin meyakinkan niatnya untuk membuat pria bernama Niko itu jera hingga tidak berani menganggu keluarganya lagi.
Lewat tengah malam ponsel Riko bergetar membuatnya menuju balkon untuk menerima telepon dari Erick.Riko tidak ingin rencananya untuk memberi pelajaran pada Niko gagal karena istrinya itu pasti akan melarangnya.
Riko mengendap-endap keluar dari kamarnya lalu menuju kamar Riana.Riana yang saat itu belum tidur di janjikan kakaknya untuk melihat sesuatu yang penting membuatnya menuruti permintaan kakaknya itu.
"Kemana kita akan pergi Kak?kenapa kita pergi malam-malam begini dan mbak Mel dia tidak mengetahuinya?" Riana terus bertanya apa tujuan kakaknya itu karena sepanjang perjalanan kakaknya itu terus membisu.
Tiba-tiba mobil terhenti di sebuah gudang besar yang tidak asing bagi Riana.Tempat itu adalah gudang dimana Riana disiksa.
"Tempat ini, kenapa kita kesini Kak?"
Seketika Riana terbelalak melihat sosok di depannya yang terikat di kursi.
Blam .... Blam .... Blam ....
Pukulan terus menuju ke seluruh tubuh Niko membuat pria itu babak belur.
Riana berlari dan mendorong beberapa orang yang memukuli pria yang sudah tak berdaya itu.
"Riana kau." Niko menitikkan air matanya karena Riana menghentikan siksaan yang terus dilakukan orang-orang suruhan kakaknya itu.
Riko tak tinggal diam memegangi adiknya agar tidak menganggu anak buahnya untuk memberi pelajaran bajingan itu.Anak buahnya kembali memukuli Niko tanpa ampun.
"Hentikan Kak!" Riana terus memohon namun kakaknya itu tidak mendengarkannya.Riana terus meronta-ronta hingga akhirnya Riko melepaskannya.
"Kak hentikan!kau ingin membunuh Daddy dari anakku!"
Riana tidak tahan walaupun berkali-kali berteriak kakaknya tidak mendengarkannya hingga keluarlah ucapan yang membuat Riko terbelalak namun tidak dengan Erick karena sedari awal pria itu tahu Niko adalah Daddy dari Steve.
Riko pun memberi kode untuk menghentikan siksaan anak buahnya kepada Niko.
"Apa maksudmu, bukannya mantan suamimu berada di Amerika." Riko masih tidak percaya dengan ucapan Riana yang mengada-ngada.
"Walaupun pria itu tidak bertanggung jawab, dia tetaplah Daddy dari Steve, Kak.Pria itu Daddy Steve!" Riana menekan ucapannya semakin memperjelas kebenaran Niko adalah Daddy dari Steve.
"Aku mohon hentikan semuanya sudah cukup kau memberinya pelajaran." Riana sampai bersujud di kaki kakaknya dengan air mata yang terus menitik.
"Pria itu seharusnya mati!"
Riko semakin emosi mengetahui kebenarannya, kembali menyuruh anak buahnya menghajar namun Riana semakin erat memegang pergelangan kaki kakaknya membuat Riko menyerah ditambah Niko sudah tidak sadarkan diri.
"Cukup!"
Riko menghentikan ana buahnya lalu menarik tangan Riana untuk pergi namun Riana malah berlari kearah Niko.
"Niko ... Niko!" Riana melepas ikatan Niko dan segera membantunya.
Mau tidak mau Riko juga ikut membantu segera membawa Niko menuju rumah sakit.
Luka Niko cukup parah dan keadaanya kritis saat itu Riana hanya bisa menangis.Belum lagi Steve tahu tentang siapa Daddynya kini keadaan Niko separah itu.
Riana terus menunggu Niko selama beberapa hari bahkan melupakan pekerjaannya di kantor demi menunggu Niko namun pria itu tetap tidak sadarkan diri.
"Untuk apa kau menunggu bajingan ini, pulanglah biar Erick yang menjaga." Riko menarik tangan Riana untuk pulang namun Riana tetap kukuh pada pendiriannya.
"Jangan lakukan apapun untuk membuatku menyesal seumur hidupku Kak karena Kakak sudah keterlaluan!" Riana keluar meninggalkan ruang ICU itu dengan kemarahannya.
Riko memang melakukan semua diluar batas hingga membuat pria itu kini tidak berdaya bahkan Dokter sudah memvonisnya tidak akan bertahan.Riana begitu marah karena kakaknya itu seperti seorang mafia berhati dingin bersikap semaunya dan menganggap nyawa seseorang hanya mainan.
Riana memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.Ya, saat itu terpikirkan olehnya untuk membawa Steve melihat Daddynya karena Riana tidak ingin Steve tidak akan pernah bertemu dengan Daddynya seumur hidupnya.
Riana yang terus menangis tidak mengatakan kemana akan membawa Steve pergi membuat Melati yang tidak mengetahui semuanya menjadi bingung.