
Melati membantu Riana memasak padahal Riana sudah melarang.
"Kau tahu Riana, dengan begini Mbak Mel mengingat masa lalu Mbak." Suara Melati perlahan menjadi pelan karena saat itu Ia terduduk lesu.
"Ada apa Mbak, Mbak baik-baik saja?" Riana mendekat mengecek keadaan Kakak iparnya itu.
"Mbak teringat almarhum Ibu Mbak," jelas Melati dengan suara menahan kesedihan.
"Mbak harus ikhlas Mbak, Tante Sari sudah tenang di sisi Allah." Mengusap punggung Kakak iparnya.
"Mbak istirahat aja, biar aku yang masak." Riana kembali melanjutkan masakannya. Tidak ingin berpangku tangan Melati bangkit membantu Riana memasak.
"Aku nggak nyangka kau tumbuh menjadi sedewasa ini Riana." Melati menatap kagum Riana. Wanita yang dulunya manja itu berubah menjadi sosok yang sangat dewasa hingga hidup susah pun mampu ia lalui menepis keraguan keluarganya yang berpikir Riana tidak akan mampu.
"Kebahagiaanku sudah habis saat aku muda Mbak dan saat seharusnya aku mendapat kebahagiaan hidupku malah kelam. Aku menuai semua yang sudah aku tanam di masa muda." Di sela-sela masak itu Riana kembali ke mengingat masa mudanya yang begitu memalukan jika diingat-ingat. Pergaulan bebas, mabuk-mabukan adalah hal biasa semua terjadi karena kekayaan. Uang yang sudah menjerumuskannya ke dalam lembah hitam.
"Suatu saat kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu Riana, yakinlah itu." Melati memberikan motivasi pada Riana.
Hidup seperti roda yang berputar terkadang diatas dan terkadang di bawah. Jadi istilah habis gelap terbitlah terang ada benarnya.
Setelah memasak selesai semua makanan sudah tersaji d meja makan. Keluarga itu sudah duduk melingkari meja makan.
"Apa ini hanya sayur, telor dadar, sambal," keluh Riko melihat menu sederhana terhidang di depan matanya.
"Maaf Kak hanya ini yang biasa Riana sajikan, Riana hanya mampu beli ini."
Riana melayani Nani.
"Ini sudah sangat spesial Riana karena kau yang memasaknya belum pernah Mommy makan masakanmu, ini kali pertama." Nani menikmati makanan sederhana itu karena makanan itu menurutnya sangat spesial.
"Makan Mas!" Melati melirik kearah suaminya karena sedari tadi belum menyentuh makanannya.
Sementara Juna, Nayya dan Steve makan dengan lahap. Walaupun Kaya raya tapi Melati selalu membiasakan putra putrinya mensyukuri semua makanan tanpa pilih-pilih.
.
.
Sore hari Riko sekeluarga pamit untuk kembali ke kota.
"Aku yakin nggak ikut kita pulang Riana?" tawar sekali lagi Riko padahal tadi sudah di tolak Riana.
"Tidak Kak, aku yakin. Aku senang tinggal disini dan yang terpenting aku bersyukur dengan hidupku," ucap Riana penuh keyakinan.
"Kau benar-benar hebat Riana." mengusap bahu Riana.
"Ambil ini!" Melati menyodorkan amplop berisi uang pada Riana.
"Tidak Mbak, aku juga sudah bekerja. Aku tidak membutuhkannya." Riana mengembalikan uang itu.
"Simpan jika sewaktu-waktu kau butuh," tolak Melati.
"Baiklah aku akan menyimpannya."
Riana memang tidak membawa uang yang banyak saat Ia pergi hanya beberapa lembar sebagai awal Ia memulai hidup barunya.
Akhirnya mobil Riko pun melaju pergi setelah berpamitan.
***
Memulai hidup awal tidak lah mudah apalagi bagi Riana yang terbiasa hidup serba ada bahkan berlimpah tapi ini pilihan hidup yang di pilihannya.
Tengah malam Riana terbangun saat Steve merengek. Badannya sangat panas hingga Ia harus segera membawa Steve ke rumah sakit. Sayangnya di desa terpencil itu rumah sakit berjarak kurang lebih satu jam yang terletak di kota.
"Mommy."
Steve terus merengek sambil menangis. Keringat sebiji jagung keluar dari tubuhnya membuat Riana semakin pusing.
"Tunggu ya Steve Mommy akan minta bantuan." Pamit Riana mengusap kepala Steve sekilas lalu segera pergi mencari bantuan.
Riana menuju ke tempat RT meminta bantuan karena satu-satunya pemilik mobil di kampung itu hanya Pak RT.
Dok ... Dok.
Riana mengetuk pintu setengah menggedor.
"Ada apa, Mbak?" tanya si empunya rumah saat pintu sudah terbuka. Sembari mengusap matanya memperjelas penglihatannya. Ya di pastikan penghuni rumah sudah dalam kondisi tidur mengingat sudah tengah malam.
"Pak tolong anak saya badannya panas banget," ucap Riana setengah memohon.
Pak RT pun sudah paham akan keadaan itu karena sering warganya meminta bantuan sejak Ia memiliki mobil tepatnya mobil punya keponakannya.
"Sebentar Mbak, duduk dulu. Saya bangunkan keponakan saya karena yang bisa bawa mobil dia." Pak RT itu melangkah masuk sementara Riana mondar-mandir di teras menunggu. Entah mengapa mereka begitu lama membuat Riana terus terpikirkan Steve yang berada di rumah sendirian.
"Ayo mbak, dimana rumahnya?" Seseorang keluar dari rumah itu. Riana yang menghadap ke arah lain tidak mengetahui wajah pria itu namun entah mengapa suaranya sangat tidak asing. Ia segera membalikkan badannya.
Deg
Keduanya saling menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kalian malah bengong-bengong cepat bawa anak itu ke rumah sakit!" sentak Pak RT akan tingkah aneh keduanya.
"Maaf Pak saya nggak jadi, sepertinya anak saya akan baik-baik saja!" tolak Riana melangkah pergi. Namum beberapa langkah lengannya di tahan Pria itu.
"Lepas!" Riana meronta. Tatapan tidak sukanya Ia perlihatkan pada pria itu.
"Dengarkan! Steve butuh segera pertolongan, abaikan semua yang terjadi diantara kita."
Pria yang tak lain Niko itu langsung menarik tangan Riana masuk ke mobil. Mobil pun melaju pergi menuju rumah Riana lalu segera membawa Steve ke rumah sakit.
.
.
Riana dan Niko menunggu di depan ruangan UGD. Niko duduk tenang di kursi tunggu sementara Riana mondar-mandir tidak tenang.
Dokter keluar dari ruangan itu, seketika di sergap Niko dan Riana.
"Bagaimana keadaan Steve, Dokter?" tanya Riana.
"Steve dia kena DBD untuk sementara Ia harus di rawat sampai kondisi stabil," jelas Dokter meninggalkan keduanya.
Baik Riana maupun Niko segera melihat kondisi Steve.
Sungguh melihat Steve selalu seperti melihat Niko. Benar-benar Steve mewarisi wajah Niko.
"Kau harus kuat, Nak. Mommy akan selalu bersamamu." Riana terisak saat memeluk Steve. Kali pertama Steve harus berurusan dengan rumah sakit karena sebelumnya putranya itu tidak pernah sakit separah ini.
"Sudahlah, Steve pasti sembuh. Dia anak yang kuat." Niko berusaha meyakinkan Riana.
Disaat Ia mulai menata hati lagi-lagi pria yang sudah menghancurkan hidupnya berulang-ulang kini hadir kembali.
"Sebaiknya kau pergi Niko, aku tidak ingin melihatmu lagi. Bukannya kau di penjara kenapa di tempat terpencil seperti itu aku masih bertemu denganmu!" sentak Riana.
"Aku bukan penjahat Riana. Polisi itu saja yang salah tangkap. Sejak kejadian waktu itu aku memutuskan untuk menata diriku di tempat aku dilahirkan," ungkap Niko.