
HAPPY READING 😊
...----------------...
Hari demi hari berlalu begitu saja. Setiap malam Erick pergi bermalam di rumah Agnes karena rengekan Agnes yang selalu mengatakan Ia sakit, lemah dan sebagainya. Riana mulai terbiasa dengan perlakuan tidak adil Erick. Riana sadar Agnes mengandung benih Erick sementara janin dalam kandungannya bukan milik Erick. Semakin lama Ia semakin kuat karena bayi dalam kandungannya mulai bergerak-gerak saat Ia menangis seakan memberinya kekuatan.
Riana sudah berbaring di ranjangnya hendak tidur namun tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar. Erick yang memasuki kamar itu. Melihat Erick yang masuk Riana tampak cuek.
"Kenapa kamu pulang?" ketus Riana.
"Kenapa kau bertanya, apa kau sudah lupa aku ini suamimu!"
"Seharusnya aku yang bertanya, apa kau melupakan aku sebagai istri." pernyataan Riana menyetak hati Erick beberapa hari ini Ia selalu mengurusi Agnes. Jadwalnya Agnes sebagai seorang Dokter yang cukup padat di rumah sakit membuatnya mengalami pendarahan ringan. Namun bukan itu masalahnya setiap malam Agnes merengek kesakitan tentang kandungannya membuat Erick tidak tega sehingga Ia terpaksa meninggalkan Riana.
"Maafkan aku, malam ini aku akan tidur dirumah. Kondisi Agnes yang jauh lebih baik juga aku sudah memperkerjakan pembantu di apartemennya," jelas Erick.
Riana memunggungi Erick yang berbaring di sebelahnya Ia tidak ingin mendengar apapun tentang Agnes.
"Sebaiknya kau tidak membahas dia saat dirumah ini!" tegas Riana masih dengan posisinya.
Tiba-tiba Erick mendekap tubuh Riana dengan erat.
"Percayalah,aku hanya mencintaimu hanya mencintaimu," lirihnya menyesapi tengkuk Riana penuh nafsu.
Semenjak Riana mengetahui pernikahannya dengan Agnes, Riana tidak memberi jatah pada Erick. Erick begitu merindukan wanitanya itu sementara Agnes yang kondisi rahimnya lemah juga tidak agresif seperti biasa.
"Aku tidak ingin melakukannya denganmu, lakukan dengan Agnes." Riana berusaha melepas dekapan Erick yang membuatnya sesak.
"Tidak aku tidak akan melepas mu sebelum kau memberikan hak ku!" tegas Erick.
Saat itu Riana terdiam tidak ada ronta-an darinya seperti tadi hanya isakan tangis yang semakin mengeras hingga terdengar oleh Erick. Entah mengapa sikap Erick saat ini begitu menyiksanya. Harapannya untuk hidup bahagia setelah mengalami hidup yang suram nyatanya sirna dengan perbuatan Erick yang menodai cintanya.
"Auu." Riana mengaduh saat perutnya terasa nyeri hebat. Bukan hanya Agnes tapi Riana juga beberapa hari ini mengalami pendarahan. Ia sudah meminum obat penguat dari Dokter namun kondisinya yang stress membuatnya tidak bisa istirahat dengan baik.
"Kau kenapa?" panik Erick membalikkan tubuh Riana. Ia benar-benar takut dekapannya itu yang menjadi penyebab sakit perut Riana.
"Perutku sakit," ucap Riana disela rintihannya.
Erick langsung mengangkat tubuh Riana untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Dua puluh menit akhirnya Erick sudah tiba di rumah sakit. Riana langsung ditangani Dokter sementara menunggu Riana di periksa Erick menghubungi Riko.
"Dimana Riana, Erick?" cemas Melati.
Dari kejauhan Riko yang masih melangkah nek arahnya menatapnya dengan tatapan menghujam bisa dipastikan pria itu sangat marah.
"Riana se-"
Plak ... plak.
Tamparan keras mendarat di wajah Erick saat ingin menjawab pertanyaan Kakak iparnya.
"Mas hentikan, jangan bertindak sok jagoan!" kesal Melati mendorong tubuh suaminya menjauhi Erick.
"Kau terus saja membela bajingan tak tahu di untung ini, sudah bagus aku merestui. Pria kere ini masih saja bertingkah," cerca Riko.
Deg
Ketakutan Erick akhirnya terjadi, dimana Ia tidak memiliki harga diri karena menikahi Riana yang merupakan orang kaya sedangkan dirinya hanya seorang Asisten bos saja yang tidak ada apa-apanya.
"Hentikan Mas!"
"Bagaimana keadaan Riana, Dokter?" Melati bertanya antusias.
"Mohon maaf kandungan Ibu Riana tidak bisa kami selamatkan," jelas Dokter itu.
Melati, Erick dan Riko langsung menganga dengan penjelasan Dokter. Kandungan Riana yang sudah memasuki bulan kelima itu akhirnya harus berakhir dengan keguguran.
Memasuki ruang UGD Isak tangis begitu memilukan terdengar menyayat hati.
"Riana." Melati langsung memeluk adik iparnya itu.
"Kau harus kuat, mungkin ini jalan yang terbaik. Kau pasti akan segera hamil lagi dan setelah itu kau harus menjaga kandunganmu lebih baik lagi." Melati mengucapkan kata-kata motivasi untuk menghibur kesedihan Riana.
"Semua gara-gara bajingan ini!" Riko yang sedari tadi menahan amarahnya menarik kerah baju Erick hendak menghajarnya.
"Kak hentikan, aku tidak ingin terjadi keributan. Aku sedih, apa kau mengerti," teriak Riana dengan sikap arogan Kakaknya yang membuatnya semakin sedih.
Riko langsung melepas tangannya dari keras baju Erick. Erick langsung mendekat dan menggenggam tangan Riana.
"Kau baik-baik saja?" cemasnya.
Namun bukan mendapat balasan yang positif, Riana malah memunggungi Erick.
"Kak keluarkan Erick dari sini, aku tidak ingin melihatnya!" perintah Riana dengan ekspresi datar lalu terlihat memejamkan mata.
"Riana maafkan aku.Riana," pekik Erick di sela tarikan paksa Riko.
"Lebih baik kau urus istri keduamu!" ketus Riko setelah Erick keluar dari ruangan itu. Riko kembali masuk meninggalkan Erick yang merasa sedih dengan penolakan Riana.
"Kenapa jadi seperti ini, aku benar-benar tidak menyangka semua berakhir seperti ini?" gumam Erick memukul dinding meluapkan kemarahannya akan nasib rumah tangganya.
Erick langsung menuju mobilnya bergegas pulang. Dengan perasaan marah yang membara Erick masuk ke dalam rumahnya. Saat itu Novi duduk di ruang tamu menunggu teleponnya namun bukan telepon dari Erick tapi tatapan tajam dari Erick yang menghujam ke arahnya.
"Ibu ini yang Ibu inginkan, apa ini yang ingin Ibu lihat!" teriak Erick dengan suara lantang namun perlahan merendah karena pria itu tersungkur di lantai menangis.
"Erick apa yang terjadi, bagaimana Riana?" tanya Novi lembut sambil mengusap kepala putranya.
"Untuk apa Bu, untuk apa Ibu bertanya. Semua sudah hancur, Riana dia sudah tidak menginginkan Erick lagi!" ucap Erick dengan tangisnya. Novi ternganga dengan penuturan Erick. Semua adalah karena dirinya dan suaminya yang menyebabkan keretakan rumah tangga Erick dan Riana.
"Ibu akan bicara dengan Riana Erick, Riana anak baik dia pasti mengerti," bujuk Novi.
"Riana terlalu baik Bu sehingga Ia masih bertahan dengan luka pernikahanku tapi mau sampai kapan. Nasi sudah menjadi bubur."
"Tidak Nak, Ibu janji akan memperbaiki rumah tanggamu. Antar Ibu untuk melihat Riana." Novi menyeka air mata Erick lalu membantunya bangkit dari lantai.
Erick dan Novi menuju ke rumah sakit. Saat itu sudah ada dua pengawal di depan ruang perawatan Riana.
"Maaf Tuan, Tuan Riko melarang anda untuk masuk." Dua pengawal itu menahan Erick dan Novi yang ingin masuk.
"Minggir!" hardik Erick.
Namun dua pengawal itu semakin rapat menghalangi jalannya.
"Kau memaksaku melakukan kekerasan!" Erick dan dua pengawal itu akhirnya beradu jotos membuat Erick yang seorang diri kewalahan. Beberapa kali wajah Erick kena jotos dari dua pengawal itu hingga akhirnya tersungkur di lantai. Melihat Erick yang tidak berdaya dua pengawal itu kembali ke tempatnya. Baru beberapa langkah kembali, Erick melesatkan pukulannya membuat keduanya langsung tersungkur ke lantai.
"Ayo Bu."
"Kau baik-baik saja, Nak." Novi menatap nanar wajah Erick yang terlihat babak belur.