
Riana langsung menghapus air matanya saat Niko duduk terlihat berjalan nek arahnya. Niko ikut duduk disamping Riana yang saat itu tengah duduk di sebuah kursi yang terletak di koridor rumah sakit itu.
"Maaf," ucap Niko penuh ketulusan.
Riana langsung menatap ke arah suara yang terdengar penuh penyesalan. Selama ini Ia tidak pernah mendengar Niko berbicara seperti ini. Pria ini sudah banyak berubah tidak seperti Niko yang dulu yang berbuat apapun semaunya dan tidak ada kata salah apalagi penyesalan.
"Mungkin aku terlambat tapi aku benar-benar menyesal dengan semua rasa sakit dan air matamu yang sudah terkuras karena diriku. Kau berhak tidak menerima maafku," sambung Niko.
Riana terdiam tidak merespon ucapan Niko karena bagaimanapun Ia butuh waktu untuk menerima permintaan maaf pria itu. Meski mereka saling bahu membahu memajukan kampung bukan berarti Riana sudah memaafkan serta melupakan masa lalunya begitu saja.
.
.
Setelah memberi selamat kepada Ibu yang tadi ditolongnya Riana dan Niko bergegas pulang karena hari sudah gelap sementara Steve dititipkan di rumah orang tua Niko.
Setelah perjalanan satu jam akhirnya mobil Niko berhenti tepat di halaman rumah orang tuanya.
"Mommy," sambut Steve sesaat Riana turun dari mobil.
Niko sendiri sudah menceritakan masa lalunya bersama Riana pada orang tuanya. Pak Toni, Bapaknya Niko bahkan memintanya untuk menikahi Riana namun Niko belum mengutarakan niatnya. Ia tahu Riana pasti akan menolaknya apalagi dengan semua kesalahannya di masa lalu.
Riana langsung mengangkat tubuh gempal Steve dengan susah payah.
"Ah, kau semakin berat saja Steve," keluh Riana kembali menurunkan tubuh Steve yang hampir naik ke perutnya.
"Steve dimasakin enak-enak sama Eyang putri Mommy," cerita Steve.
"Betulkah?"
"Mm." Steve mengangguk.
"Kita pulang." Riana menggandeng tangan Steve untuk pulang.
"Nak Delia," pekik Ibu Toni.
Riana langsung balik badan mendengar suara yang memanggil namanya.
"Makan dulu, kalian pasti lapar." Bu Toni menatap Riana sekilas lalu ke Niko yang tampak duduk di depan mobilnya.
"Steve anak yang manis dan tidak perlu sungkan Steve cucu Ibu juga kan?"
Riana hanya tersenyum getir saat Bu Toni mengatakan Steve cucunya.
"Kami pamit, Bu." Riana mencium tangan Bu Toni juga Steve yang melakukan hal yang sama tidak lupa Steve juga mencium tangan Niko.
Riana perlahan mengayunkan langkahnya menyusuri jalan desa yang sudah sangat sepi padahal waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Tampak seorang pria setengah berlari menyusulnya yang tak lain Niko yang dipaksa Ibunya untuk mengantar Riana.
"Kau tidak perlu mengantar kami, sudah ada Steve yang akan menjagaku," ucap Riana saat Niko mensejajarkan langkahnya.
"Berarti sudah tidak ada tempat lagi bagiku untuk berada disisi kalian." Niko langsung menarik tubuh Steve naik ke punggungnya.
"Bagaimana Steve, kau suka naik ke punggung Daddy?"
"Mm suka sekali Daddy, Steve ingin selalu naik ke punggung Daddy agar Steve tidak capek karena disini Steve nggak punya mobil," keluh Steve.
Beberapa bulan ini Steve bahkan tidak pernah mengeluh namun entah kenapa saat berada bersama Niko semua keluhannya keluar.
"Kau harus bersyukur Steve kau punya kaki yang kuat dan badan yang sehat selama kau punya kaki kau bisa kemanapun tempat yang kau suka tapi
jika kau tidak punya kaki dan badan yang sehat walaupun punya mobil itu tidak menyenangkan," jelas Niko penuh kebijaksanaan.
"Steve lebih suka punya kaki Daddy daripada punya mobil," ucap Steve polos.
Riana hanya menyimak percakapan keduanya tanpa ikut menyahut. Langkah mereka terhenti saat sudah berada di depan rumah Riana namun saat Niko hendak menurunkan Steve, ternyata Steve tertidur di punggung Niko.
"Aku akan menidurkan Steve dulu baru kau masuk." Niko menyuruh Riana menunggunya di teras.
Setelah lima menit Niko keluar.
"Aku pergi dulu," pamit Niko.
Riana langsung masuk tidak menggubris pamitan Niko. Niko hanya menghela nafas lalu beranjak pergi. Ia memang pantas mendapat perlakuan seperti itu dari Riana dengan semua perbuatannya di masa lalu.