
Sepeninggalan Riko, Riana melangkah begitu saja melewati Erick badan Bundanya.
"Erick semua gara-gara Ayah dan Ibu, apa perlu Ibu menjelaskannya?" Novi meras bersalah dengan permasalahan ini karena semua berawal darinya.
"Tidak Bu. Biarkan Erick yang menjelaskannya." Erick menepuk bahu Ibunya lalu bangkit hendak menyusul Riana.Erick bergegas menyusul Riana yang naik ke lantai empat.
Erick membuka pintu nampak Riana duduk di tepi ranjang.Wajahnya menunduk menyembunyikan air matanya.
Erick duduk berjongkok di hadapan Riana. "Maafkan aku Riana, aku sudah berjanji untuk tidak membuatmu menangis tapi aku malah menjadi penyebab kau menangis." Erick menggenggam tangan Riana kemudian menyeka air matanya.
"Kau bisa pergi, aku bukan pria Nyang pantas mendampingimu," imbuh Erick.
Tidak ada yang terucap dari bibir Riana hanya air mata yang terus saja menitik.
"Aku akan mengantarmu kembali ke mansion." Erick menuju walk in closet hendak membereskan baju-baju Riana namun baru beberapa langkah tubuhnya di dekap dari belakang.
"Aku tidak ingin berpisah darimu Erick," ucap Riana terisak-isak.
Riana berusaha mengesampingkan egonya mesti sakit harus berbagi suami dengan wanita lain. Erick sudah cukup banyak berkorban untuknya dari menerima kekurangannya serta menerima kehamilannya yang jelas-jelas bukan darah dagingnya tapi Ia menolak anaknya yang jelas-jelas benihnya yang di kandung Agnes.
Keduanya saling memeluk.
"Aku janji setelah Agnes melahirkan aku akan menceraikannya karena yang terjadi antara aku dan Agnes hanya sebuah paksaan," ucap Erick mengecup kening Riana.
***
Beberapa hari kemudian.
Erick menginap di rumah Agnes sesuai permintaan Riana.
Melihat Agnes, Riana seperti melihat masa lalunya namun Agnes lebih beruntung karena memiliki suami meski tidak mencintainya.
Kandungan Riana sudah berusia empat bulan. Perutnya sudah nampak membuncit walau belum begitu terlihat. Ia juga mulai perlahan menyayangi dan menerima bayi dalam kandungannya seperti sebuah keajaiban.
"Kau masih belum tidur sayang," sapanya lembut mengusap perutnya.
"Mommy senang walaupun Daddy pergi ada kamu yang nemenin Mommy," kembali mengusap lembut. Air matanya yang sedari malu-malu akhirnya merembes keluar dengan tidak sopan.
"Mommy," pekik Steve memasuki kamar Riana.
"Maaf Nyonya, Tuan muda memaksa masuk," ucap Mira merasa tidak enak.
"Nggak pa pa, biar Steve tidur disini." Riana menyuruh Mira untuk pergi setelah Steve naik ke ranjangnya.
Steve memeluk mommy juga adiknya yang masih berada di perut Mommy nya.
"Tidur dek," ucap Steve.Ia bahkan sudah memejamkan matanya yang sudah cukup lengket.
Riana mengusap dua buah hatinya yang baginya sebuah anugerah walaupun mereka lahir dari sebuah kesalahan namun mereka tetaplah terlahir suci.
"Kenapa kau memberiku hidup seperti ini Niko.Seandainya kita bersama mungkin kedua buah hatimu ini akan bahagia mendapat kasih sayang tulus dari Ayah kandungnya bukan dari Ayah sambungnya," gumam Riana.
Entah malam ini karena malam pertama Erick meninggalkannya untuk bermalam dengan wanita lain atau apa tapi Riana benar-benar merasa sedih. Ia kembali merasakan kelamnya hidupnya, hidup yang mempermainkannya. Walau uangnya bertumpuk-tumpuk namun hidup bahagia itu tidak bisa dibelinya.
Sejatinya bahagia adalah perasaan senang bukan diukur dari harta dan kekayaan namun jiwa dan batin yang bahagia.
Sementara di tempat lain tepatnya di apartemen milik Agnes. Erick memejamkan matanya setelah terbebas dari Agnes. Agnes yang terus saja memaksanya untuk melakukan hubungan suami-istri di tolak Erick. Ia melakukan perintah Riana bukan untuk menunaikan kewajibannya namun sekedar menemani wanita hamil itu di kamar lain.
Mata Erick menatap langit-langit kamarnya. Ia tak menyangka hidupnya membawanya berada di pilihan yang sulit tapi hidup harus lah tetap berjalan. Ia akan menunggu Agnes melahirkan setelah itu menceraikannya.
"Au." Pekikan dari dalam kamar Agnes membuat Erick langsung bangkit dari ranjangnya.
"Ada apa?" tanya Erick cemas.
Saat itu Agnes memegangi perutnya sambil meringis.
"Erick perutku sakit sepertinya aku kram perut, au." Kembali Agnes berdecak kesakitan.
"Lalu harus bagaimana, kita ke Dokter?" Erick terlihat khawatir. Erick hendak membantu Agnes namun wanita itu menarik tangannya menuju perutnya yang masih rata.
"Kau hanya perlu mengusap seperti ini," ucap Agnes.
Erick pun akhirnya menuruti permintaan Agnes mengusap lembut perut Agnes. Agnes pun tersenyum penuh kemenangan.