
"Bulshit lah dengan semua ceritamu, kau pasti mengikuti ku untuk kembali menyakitiku!" tukas Riana.
"Terserah tapi aku tidak ada niatan bahkan aku tidak mengira seorang ratu bisnis sepertimu terjebak di desa terpencil seperti ini.
Baik Riana maupun Niko sama-sama tidak terpikirkan akan bertemu secara kebetulan seperti ini.
***
Seminggu di rumah sakit akhirnya kondisi Steve membaik. Steve diizinkan pulang. Selama beberapa hari pun Niko ikut menemani Steve sebagai seorang ayah Niko juga merasa bertanggung jawab terlebih Ia sudah menelantarkan bahkan tidak mengakui Steve.
Hidup Niko tak lebih kelam dari Riana karena ternyata Ia hanyalah anak pungut. Itu Ia ketahui sebelum Papanya meninggal namun karena Niko masih terobsesi dengan kehidupannya di kota dan masih ingin mendirikan perusahaan Ia tidak ingin mengetahui siapa orang tua kandungnya. Setelah semua usahanya sia-sia terlebih tidak ada yang bisa di pertahankan, Niko memutuskan untuk mencari jati diri juga ingin berubah menjadi pribadi lebih baik lagi.
"Daddy kemana aja, Steve kangen sama Daddy. Jangan tinggalkan Steve lagi." Steve memeluk tubuh Niko dengan erat.
"Daddy tidak akan meninggalkan kamu lagi Steve." Niko mengelus kepala Steve dengan lembut. Momen itu berhasil membuat Riana yang ingin masuk ke kamar Steve tertahan langkahnya karena air matanya menitik dengan tidak sopan.
"Steve maafkan Mommy, Nak. Kau harus lahir dari rahim wanita sepertiku juga Ayah seperti Niko, sungguh sebuah kemalangan," gumam Riana.
Niko yang tidak sengaja memperhatikan Riana tiba-tiba terasa sesak melihat wanita yang sudah disakitinya berulang kali menitikkan air mata. Andai Ia bisa memutar waktu pasti Ia akan memperbaiki kesalahannya dulu semua penderitaan juga air mata mungkin tidak akan pernah menetes dari mata indah Riana. Karena perbuatannya juga ia harus menanggung ganjaran, hidupnya hancur karena perusahaannya ikut hancur tidak bersisa sedikit pun.
Niko menarik tangan Riana untuk keluar dari dalam rumah karena tidak ingin menimbulkan fitnah.
"Lepas Niko!" Riana meronta membuat Niko segera melepasnya.
"Aku ingin bicara tapi sebaiknya kita bicara di luar, disini kampung jadi aku tidak ingin menimbulkan fitnah karena terlalu lama di dalam rumah bersamamu." Niko pun berjalan lebih dulu namun setelah Niko di luar Riana segera menutup pintunya. Ia tidak memperdulikan pria itu karena apapun yang berkaitan dengannya baginya adalah masalah.
"Riana buka pintunya.Riana!" Niko mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan Niko pun melangkah pergi.
Riana yang masih berdiri di balik pintu merosot jatuh ke lantai dengan air mata yang terus mengalir. Ia merasa dunia begitu kejam. Susah payah Ia bangkit melupakan masa lalunya dan memulai hidup barunya dengan sebuah kesederhanaan namun lagi-lagi Ia harus bertemu pria di masa lalunya itu.
***
Hari-hari terus berlalu. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Kedekatan Riana dan Niko semakin intens. Selama itu Niko selalu menunjukkan perubahan dirinya. Ia juga aktif di kegiatan desa. Orang tuanya yang seorang RT membuatnya harus sigap membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya di bantu Riana. Riana juga mendedikasikan dirinya untuk membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya. Contohnya saat Niko membantu seorang wanita yang ingin melahirkan.
"Cepat Niko, Ibu ini sudah tidak bisa menahannya," sentak Riana karena mobil Niko berjalan sangat lambat membuat Riana tidak sabar akhirnya Ia yang menggantikan mengemudi. Niko yang kena serangan panik. Apalagi Ia belum pernah mengatasi wanita yang ingin melahirkan sebelumnya.
Niko yang duduk di kursi belakang terus diremas oleh wanita yang tengah kesakitan akibat kontraksi bahkan tangannya penuh cakaran juga rambutnya yang berkali-kali kena jambak.
"Aw," pekik Niko membuat Riana terus menahan tawa di sela mengemudinya.
Akhirnya dengan kecepatan tinggi mobil yang dikemudikan Riana telah sampai di kota. Tanpa membuang waktu Niko langsung membopong tubuh wanita itu masuk ke ruang UGD. Dokter dan perawat yang mengira Niko adalah suami si wanita langsung saja membawanya turut serta Niko ke ruang persalinan. Ya wanita yang tengah melahirkan itu, suaminya bekerja di kota. Tepatnya tidak jauh dari rumah sakit itu. Wanita itu melahirkan lebih cepat seminggu dari perkiraan lahir.
"Dokter saya-"
"Sudah Pak nggak pa pa, anda hanya perlu memberi semangat istri anda. Saya tahu anda takut darah," potong Dokter tidak memberi kesempatan Niko bicara.
"Dokter cepat, saya sudah tidak tahan!" bentak wanita itu saat melihat Dokter malah mengobrol di saat genting seperti ini.
"Sempurna Dokter buka sepuluh," ucap perawat yang baru selesai memeriksa bukaan jalan lahir.
"Ayo Bu, ikuti instruksi saya ya."
Akhirnya Dokter membimbing wanita itu mengejan sesuai arahannya. Lagi-lagi tangan Niko kena cakar oleh wanita itu.
"Ayo Bu sedikit lagi, gigit tangan suaminya kalau perlu." Arahan Dokter itu saat si wanita mulai melemah.
"Aaaaaaa," teriak wanita itu serentak dengan Niko yang ikut berteriak karena tangannya di gigit.
Tangis bayi pun pecah membuat senyum wanita itu langsung terlukis namun tidak dengan Niko yang lemas karena sakit menjadi pelampiasan wanita yang saat ini terlihat senang.
"Dokter saya suaminya," pekik seorang pria yang baru saja membuat Dokter dan perawat yang membantu persalinan itu melongo.
"Bapak suaminya, betul Bu ini suaminya?" Dokter itu menatap pria itu sekilas lalu berpindah ke Ibu yang baru saja melahirkan.
"Betul Dok." Wanita itu menjawab dengan enteng seolah tidak ada rasa bersalah.
"Kenapa nggak dari tadi si Pak, kan jadi saya yang kena imbasnya. Bapak yang seneng saya yang remuk!" protes Niko.
Pria itu meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dokter dan perawat pun tepuk jidat dengan kelakuan absurd wanita itu yang di dukung olehnya dan Perawat.
Dokter pun segera pergi karena tidak ingin menambah masalah bertambah lebar.
"Ini Bu putranya tampan sekali kayak Bapak yang membantu melahirkan." Perawat menyerahkan bayi yang sudah bersih dan di bedong itu kepada Ibunya.
Niko pun langsung bangkit ingin melihat bayi yang baru lahir itu.
"Wah tampan sekali putra Ayah." Suami wanita itu berdecak kagum.
"Mas aku pengen anak kita dinamai Niko, bagaimana?" Wanita itu melirik ke Niko yang tampak berantakan.
Suami wanita itu langsung mengangguk.
"Sekali lagi saya terima kasih Mas karena Mas sudah menyelamatkan istri dan anak pertama saya." Pria itu menunduk sebagai permintaan maaf juga rasa terima kasih nya.
"Sama-sama Mas mungkin ini karma untuk saya karena saat Ibu dari anakku melahirkan saya tidak berada di sampingnya," ucap Niko.
Saat itu Riana yang hendak masuk mendengar ucapan Niko membuatnya kembali membuka lembaran yang sudah kusut karena dimakan tahun. Namun masih kental dalam ingatan Riana rasa sakit karena melahirkan. Ia bahkan menggigit bantak sebagai pelampiasan rasa sakitnya.
Tiba-tiba air matanya meluncur dengan tidak sopan padahal saat itu Ia ingin melihat bayi yang baru lahir itu juga ingin mengucapkan selamat. Riana akhirnya kembali keluar, Niko yang melihatnya sekilas langsung pamit keluar.