Perfect Life

Perfect Life
Bab 56. Memulai Dari Awal



Sekitar pukul 8 pagi Riana dan Steve menuju sekolah. Kedatangannya sudah ditunggu dua guru lainnya.


"Bu Delia karena hari ini ada kegiatan di kecamatan jadi terpaksa kita harus meliburkan anak-anak," ucap kepala sekolah yang bernama Ibu Nita.


"Kalau libur kasian Bu, apalagi anak-anak kemarin kan sudah libur dua hari," protes Riana.


"Tapi Bu jika nggak diliburkan siapa yang akan mengurus mereka?" sahut guru lainnya bernama Citra.


Riana akhirnya menurut kata dua guru lainnya. Ia melangkah menuju dua kelas Kelas A dan Kelas B untuk memberitahu namun saat sampai di depan pintu kelas itu Riana tertegun. Anak-anak itu antusias bermain mainan yang disediakan di TK itu. Anak-anak yang kebanyakan dari kalangan bawah itu tentu saja tidak memiliki mainan di rumahnya jadi di sekolah lah mereka bisa bermain berbagai mainan. Riana melangkah kembali ke ruang Guru untuk memberi tahu.


"Bu, bagaimana kalau hari ini saya yang akan mengajar? Ibu Nita dan Ibu citra saja yang pergi." Riana berucap saat sudah berada di ruang guru.


"Tapi Bu, apa Ibu Delia bisa sendiri?" Risau Bu Citra. Terkadang anak-anak yang berumur 4 sampai 5 tahun itu bertengkar kadang juga hal-hal yang merepotkan.


"Tidak apa-apa Bu, saya bisa kok."


"Baiklah Bu, jika ada sesuatu Bu Delia bisa hubungi saya, " ucap Bu Citra.


Akhirnya kedua guru itu meninggalkan taman kanak-kanak itu meninggalkan Riana seorang diri mengurus dua kelas yang per kelas nya berisi 25 anak yang artinya Riana mengurus 50 anak.


Riana kesana kemari, baru 5 menit Ia harus pindah kelas sebelah saat terdengar suara tangisan.


"Sayang jangan bertengkar Nak, kalian harus main sama-sama." Riana menenangkan dua anak yang saling berebut mainan.


"Kalian harus sama-sama." Seorang Pria menenangkan anak yang satunya yang juga menangis kejer.


.


.


Riana mengunci pintu sekolah setelah anak-anak sudah meninggalkan sekolah. Akhirnya karena kedatangan Niko Ia bisa mengatasi anak-anak itu tanpa perlu menghubungi Bu Citra. Mengurus anak-anak seumuran itu tidak segampang yang dibayangkan karena nyatanya Riana kesulitan sendiri.


"Terima kasih Niko kau lagi-lagi membantuku." Entah berapa kali Niko selalu membantunya dalam kesulitan.


Pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Steve kau mau ice cream?" Niko yang menggandeng tangan Steve berhenti saat berada di depan sebuah warung.


"Mau Daddy." Steve antusias menarik tangan Niko masuk ke dalam warung itu. Lima menit kemudian Steve dan Niko kembali membawa kresek putih yang berisi ice cream.


"Steve kau ini, kenapa beli ice cream sebanyak itu. Daddy pasti mengeluarkan uang yang banyak untuk permintaanmu itu!" sentak Riana yang membuat Steve langsung menunduk.


"Sudah tidak apa-apa, bukan salah Steve tapi salahku." Niko berusaha menengahi kemarahan Riana.


"Tapi- ."


"Sudahlah," sergah Niko memotong ucapan Riana. Ia langsung menggandeng tangan Steve melanjutkan langkahnya.


Suasana rumah tamu Riana begitu mencekam saat Riko dan Niko bertatapan sengit. Walaupun keberadaannya tidak diinginkan Riko juga keluarga Riana lainnya namun Niko sudah memutuskan Ia akan tetap tinggal sesuai keinginannya yang ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu.


"Sebaiknya kau pergi Niko!" usir Riana dengan ketidaknyamanan suasana rumahnya saat ini.


"Riana, jelaskan! apa arti semua ini?" Riko bertanya dengan suara lantang karena seperti sebelum-sebelumnya Riana pasti kukuh dengan kelicikan Niko. Berulang kali Ia disakiti namun tidak membuat adiknya itu jera. Ia kembali percaya dengan kelicikan Niko.


"Seharusnya kau bertanya padaku Tuan Riko," sergah Niko.


"Kau, siapa kau berani ikut campur urusan keluargaku!" bentak Niko dengan suara keras membuat Steve menangis histeris.


Melati langsung membawa Steve, Nayya dan Juna masuk ke dalam kamar.


Kembali ke Riko dan Niko.


"Mungkin aku sudah terlambat Kak tapi aku ingin memperbaiki semua." Niko mendekat ke Riko, Ia langsung berlutut di kaki Riko. Riana hanya memeluk Mommy nya melihat perdebatan itu.


"Tidak! Aku tidak akan tertipu lagi untuk kesekian kalinya, kau pasti punya tujuan lain," tukas Riko.


"Bagaimana Riana, kau menerima pria ini?" Riko beralih ke Riana.


Tidak ada yang keluar dari mulut Riana hanya isakan tangis.


"Kau lihat, Riana sudah cukup kau sakiti. Sebaiknya kau tidak menganggu hidupnya lagi!" bentak Riko dengan keras membuat Niko perlahan bangkit karena tidak ada lagi yang bisa Ia lakukan. Kebaikannya, perubahannya selama ini tidak dianggap oleh Riana.


"Pergi!" bentak Riko lagi saat Niko berjalan dengan perlahan sambil terus menatap Riana.


Sesaat Riana kembali mengingat masa-masa bersama Niko. Saat dimana Ia hanya melakukan kebaikan tanpa merisaukan lainnya begitu juga dengan Niko. Ada saat-saat dimana rasa bahagia itu muncul ketika kita dihargai orang lain hanya karena bantuan tenaga yang mungkin itu tidak berharga bagi kalangan orang kaya.


Riana belajar menjadi sosok yang sederhana namun begitu kaya akan kebaikan itulah yang di dapatnya saat beberapa bulan hidup dengan keterbatasan. Ia dan Niko sama-sama belajar menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain tanpa memperdulikan status. Mungkin inilah kebahagiaan yang sempurna yang dicarinya saat ini.


"Niko." Riana menyeka air matanya mengejar Pria yang sudah semakin menjauh itu.


Riko yang hendak mengejar Riana ditahan Nani. "Biarkan adikmu bahagia Nak, Mommy melihat raut kebahagiaan itu dari wajahnya."


"Tapi Mom."


Nani mengelus punggung Riko mengajaknya kembali duduk dan memberi kesempatan pada Riana dan Niko bicara.


"Aku ikhlas jika kau bahagia, Riana." Niko menepis tangan Riana.


"Aku ingin memulainya denganmu, aku ingin memberimu kesempatan."


Seketika ucapan Riana membuat Niko langsung tersenyum senang. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Niko tidak ingin menyia-nyiakan waktunya lebih lama lagi membahagiakan wanita di depannya itu juga putra mereka.