Perfect Life

Perfect Life
Bab 17. Erick Mengunjungi Riana



Erick duduk termenung di ruangannya.Ia akhirnya harus mengerjakan proyek itu sendiri dibantu Angela karena semenjak Riana pergi dari mansion nya, wanita itu tidak muncul dikantornya.


"Kau terus melamun, Erick." Angela menepuk bahu Erick karena pria itu tidak menyahutnya walaupun sudah berkali-kali memanggil saat masuk ke ruangannya.


"Tidak Angel, aku hanya-"


"Kau pasti memikirkan Riana, dia memang aneh seharusnya ia lebih memilihmu daripada pria brengsek itu." Angela terlihat emosi dengan ucapannya.Angela menaruh map yang berisi laporan yang Erick minta.Pria itu langsung membuka laporan itu sembari mendengar ocehan Angela.


"Aku tidak habis pikir dia begitu mencintaimu tapi kenapa malah bersama pria itu," sambung Angela.


Deg


Erick tertegun mendengar ucapan Angela yang menyatakan Riana mencintainya.


"Riana mencintaiku?" Erick mengulang ucapan Angela karena baru pertama kali ia mendengar hal itu.


Angela mengangguk dengan pertanyaan Erick. "Kau tidak tahu itu?"


Erick menggeleng karena tidak pernah sekalipun Riana mengatakan mencintainya yang ada penolakan yang selalu Ia dapat.


"Kau memang kurang peka Erick, jelas terlihat di mata Riana cinta yang begitu besar saat menatapmu.Ah Riana memang bodoh."


Tiba-tiba Erick bangkit dari duduknya beranjak pergi.


"Kau mau kemana Erick?" tanya Angela karena tiba-tiba pria itu akan pergi padahal Ia belum selesai bicara.


"Aku ada urusan sebentar!" Erick berlalu meninggalkan ruangannya.


Mobil Erick memacu di jalanan itu dengan kecepatan tinggi.Setelah sampai ia langsung bergegas masuk ke lobby apartemen itu dan naik ke apartemen Riana.


Erick segera menekan bel saat berada di depan apartemen Riana.Beberapa detik kemudian pintu terbuka.


"Kau Ni-" Riana menahan ucapannya saat menyadari yang datang ke apartemennya bukan Niko melainkan Erick.Riana kembali menutup pintu saat orang yang tidak diinginkannya datang ke apartemennya namun tangan kekar Erick langsung menahan pintu itu langsung menerobos masuk.


"Apa yang kau lakukan." Riana memunggungi Erick karena tidak ingin melihat wajah pria itu.


"Aku yang harusnya bertanya, apa yang kau lakukan disini.Tempat ini bukan tempatmu."


"Siapa kau, mencampuri urusanku!" pekik Riana menatap lekat wajah Erick.Erick tidak membuang kesempatan itu ditatapnya dua bola mata itu dan mencari apa yang diinginkannya.Riana langsung mengalihkan pandangannya saat menyadari pria itu menatapnya penuh.


"Kau harusnya belajar mengendalikan matamu karena ucapannya tidak sesuai dengan tatapan matamu." Erick seakan menyadari kebodohannya selama ini tidak menyadari cinta yang begitu besar dari wanita di depannya itu.


"Kau!" Riana mendorong tubuh Erick menjauhinya namun Erick mencengkram tubuhnya hingga keduanya terhempas bersamaan.Keduanya saling menatap hingga keduanya begitu dekat membuat Erick langsung mengulum bibir lembut Riana.Riana terus mendorong tubuh Erick namun pria itu semakin era mencengkram tubuhnya hingga ciuman menutut itu terus berlangsung.


Setelah beberapa lama Erick melepaskan ciumannya namun terlihat mata Riana menitikkan buliran bening.


"Ayo kita pergi." Erick menarik tangan Riana namun Riana segera menghempas tangan Erick membuat Erick menatap tidak mengerti.


"Kau tidak ingin bersamaku?"


"Pergilah Erick!"


"Aku tidak akan pergi jika tidak bersamamu, apa lagi yang kau inginkan?kita saling mencintai itu sudah cukup." Erick membuka jasnya membuat Riana memekik.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya kepanasan," jelasnya.


Pria itu membaringkan tubuhnya di sofa, Riana hanya menatap kelakuan konyol erick yang tidak seperti biasanya itu.Pria itu melempar senyum ke arah Riana membuat Riana bergegas ke kamarnya.


.


.


"Kau masih belum pergi juga, cepatlah pergi sebelum Steve melihatmu disini!"


"Aku tidak aka pergi, aku akan tinggal disini.Anak buahku sedang dalam perjalanan membawa barang-barangku kesini!"tegas Erick.


"Kau!"


Tiba-tiba bel rumah Erick berbunyi dengan cepat Riana membuka pintu.


"Mommy." Steve langsung memeluk Riana.


"Kalian sudah pulang?" Riana menarik tangan Steve masuk diikuti Niko yang mengekor di belakangnya.


Namun Niko terbelalak saat mendapati pria lain di apartemen Riana hanya dengan memakai kaos dalam memperlihatkan tubuh atletis juga perut sixpack nya.


"Apa yang kalian lakukan saat aku pergi?" telisik Niko menatap tajam Riana.


Riana menatap tajam Erick, entah kapan pria itu membuka bajunya ditambah rambut Riana yang nampak berantakan membuat Niko berpikiran yang tidak-tidak tentang keduanya.


"Apa yang kami lakukan ketika sedang berduaan tentu saja-"


Riana langsung mendorong Erick karena merangkul tubuhnya tiba-tiba.


"Om Elik, kau main kesini." Steve langsung menarik tangan Erick masuk ke dalam kamar meninggalkan Niko dan Riana.


"Kau menolakku karena pria itu, dasar wanita murahan!" umpat Niko.


"Niko kau!" Riana menatap tajam kearah pria itu.


Niko malah tertawa sinis dengan ekspresi Riana."Kau pikir aku peduli perempuan sepertimu, Steve adalah alat bagiku untuk mendapatkan semua keinginanku." Pria itu berlalu begitu saja tanpa menjelaskan lebih lanjut apa maksudnya.Namun Riana menyadari nada bicara Niko seperti Niko yang dulu.


Riana melangkah masuk ke dalam kamar bermain Steve.Riana melongok hingga terlihat Steve antusias bermain dengan Erick.Pria itu dengan sabar menemani Steve bermain membuat Riana berlalu tanpa menganggu keduanya.


.


.


Cukup lama Riana membiarkan keduanya bermain hingga semua masakan yang dimasaknya terhidang di meja.Riana segera menuju kamar bermain Steve untuk menyuruh keduanya makan.


"Steve are you hungry." Mendengar ucapan Mommy nya Steve segera berlari keluar menuju ruang makan.


Riana menatap Erick yang terlihat membereskan mainan Steve. "Makanlah dulu, kau pasti lelah jika membereskan semua itu karena Steve pasti akan membuatnya berantakan lagi." Riana berlalu pergi setelah mengatakan itu.Erick pun mengekor di belakangnya.


Ketiganya kini sudah berada di meja makan.Steve makan dengan lahap begitu juga dengan Erick.Erick bahkan tidak menyangka Riana ternyata bisa masak makanan seenak ini walaupun sebenarnya dia tidak pernah masak.


"Kau ternyata pandai memasak," puji Erick.


Riana memang banyak berubah setelah pulang dari Amerika.Hidup sendiri di negeri orang membuatnya sadar dan banyak berubah.Riana yang terlahir kaya sejak belum lahir membuatnya menjadi gadis manja, egois namun sekarang Riana berubah menjadi dewasa dan bijaksana walaupun sifat keras kepalanya itu tidak pernah berubah.


"Mommy aku ingin pulang ke tempat Daddy Liko, Mommy." Steve yang sudah menghabiskan makanannya merengek ingin pulang.


"Sev kangen Kak Juna dan Kak Nay," sambungnya.


Riana menatap tajam wajah Erick setelah mendengar rengekan Steve karena jelas pria itu yang menghasutnya.


"Steve kau pergi ke kamar dulu, Mommy ingin bicara dengan Om Erick!" perintah Riana.Steve pun segera berlari masuk ke kamarnya.