Perfect Life

Perfect Life
Bab 57. Perfect Life ( END )



Sesuai kesepakatan sore itu juga Ijab Qabul langsung dilaksanakan sesuai arahan Nani. Acara berlangsung sederhana namun berbalut kebahagiaan yang kental.


Sekitar pukul 7 malam saat keluarga Niko sudah meninggalkan rumah Riana, Riko juga pamit ingin kembali ke kota. "Kau yakin tidak ingin kembali ke mansion, Riana?" tanya Riko.


Riana menggeleng.


"Kau ini bagaimana, kebahagiaan Riana ada disini." Melati menepuk bahu suaminya lalu menatap pasangan pengantin baru di depannya.


Riko manggut-manggut namun sesaat karena setelah itu Ia menatap Niko tajam.


"Sekali lagi kau menyakiti adikku, aku pastikan tanganku sendiri akan mengambil nyawamu!" ancam Riko.


"Sudah Mas, Niko pasti menjaga Riana." Melati menarik tangan Riko untuk segera pergi karena mommy juga kedua buah hatinya sudah naik ke mobil.


Mobil pun melaju pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


Keduanya melangkah masuk, terlihat Steve sudah tertidur di kamarnya. Steven kelelahan karena seharian bermain dengan kedua sepupunya Nayya dan Juna.


Riana dan Niko sudah berada di ranjangnya. Mereka tidak menyangka kejadian hari ini yang begitu cepat karena tidak mereka rencanakan sebelumnya pernikahan itu terjadi begitu saja.


"Seandainya dulu aku bertanggung jawab atas semua perbuatan ku pasti semua rasa sakit mu selama ini tidak terjadi juga kesialan-kesialanku mungkin tidak terjadi," sesal Niko dengan semua masa lalu yang sudah membuat mereka sampai di titik ini.


"Tidak Niko, ini lah cara Tuhan agar kita menghargai hidup kita. Bukan harta bukan tahta namun rasa syukur." Riana menatap wajah tampan yang kini mulai menjadi candunya. Tangannya mendekap erat pria yang kini berstatus suaminya itu.


"Kau benar mungkin jika semua ini terjadi entah apa yang terjadi pada hidup kita, aku manusia munafik yang hanya mementingkan harta juga tahta." Ingat Niko pada dirinya yang dulu.


"Sudah kita harus berjalan ke depan jangan lagi mengingat masa lalu kita yang buruk. Aku ingin kita bisa lebih banyak menolong orang," cetus Riana.


"Tentu saja kita akan selalu menolong orang."


"Aku sudah memutuskan untuk membangun desa ini dengan mendirikan rumah sakit juga sekolah gratis," sambung Riana.


"Kau benar-benar wanita yang luar biasa, aku benar-benar bangga." Niko mengecup kening Riana.


"Apa kau tahu kenapa aku bisa tiba-tiba ada di desa ini?" tanya Niko.


"Tentu saja karena disini tempat kelahiranmu."


"Bukan semua yang terjadi pada kita bukan kebetulan karena lagi-lagi ada seorang malaikat yang membantuku dan menyadarkanku." Niko mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


Setelah Riana memutuskan meminta cerai darinya, Erick memang tidak bisa melakukan apapun kecuali memenuhi keinginan Riana. Selain karena tidak bisa membahagiakan Riana Ia juga sudah mengecewakan wanita itu. Erick mencari keberadaan Niko yang berada di penjara.


Erick memberi jaminan Niko dan akhirnya pria itu bebas namun sebelum membebaskan tentu saja Erick memberikan syarat agar mencari keberadaan Riana. Ia meminta agar mencari simpati Riana dengan hal-hal kecil juga kebaikan karena bagaimanapun Niko dan Riana terikat oleh anak.


Sejak saat itu Niko melakukan cara agar bisa dekat dengan Riana dengan cara Ia berpura-pura menjadi anak dari ketua RT di desa itu. Perlahan-lahan Riana mulai sedikit menerima dengan bahu membahu membantu di desa itu.


Flash Back Off.


"Jadi semua ini hanya pura-pura, kau pasti hanya memanfaatkan aku!" kesal Riana mendorong tubuh Niko menjauh. Riana tampak begitu marah karena Ia kembali mempercayai pria yang kini berstatus suaminya itu. Ia langsung bangkit menatap luar jendela kamarnya. Niko langsung bangkit mendekap tubuh Riana dari belakang


"Tidak ada kepura-puraan dalam hidupku karena sepertimu aku ingin memperbaiki semua. Percayalah dan beri aku kesempatan." Memutar tubuh Riana hingga kini keduanya saling menatap dalam.


"Kau sungguh-sungguh?"


"Aku akan buktikan," ucap Niko penuh keyakinan. Riana langsung memeluk tubuh Niko namun ada yang aneh karena saat itu Steve berada di tengah-tengah mereka tanpa mereka sadari.


"Mom, Dad, kalian melupakan aku!" kesal Steve mendongak kesal Niko juga Riana.


"Siapa bilang." Niko langsung mengangkat tubuh Steve naik ke bahunya. Ketiganya saling tertawa penuh kebahagiaan.


"Terima kasih Erick walaupun kita tidak berjodoh di dunia tapi kau tetap memberikan kebahagiaan untukku dengan cara lain, semoga kau juga bahagia bersama pasanganmu," batin Riana.


***


Sebulan setelah Riana juga Niko menikah rumah sakit juga sekolah mulai di bangun tentunya juga seizin Riko.


Rumah tangga Riana juga Niko sangat bahagia walau punya harta berlebih tapi Riana juga Niko lebih memilih hidup sederhana di kampung itu.


Niko sendiri disuruh menggantikan menjadi ketua RT karena jasanya yang banyak menolong warga desa itu. Niko dan Riana lebih banyak membantu orang dengan mendirikan sekolah gratis juga rumah sakit gratis namun tidak sedikit mereka membayar dengan seikhlasnya.


Hidup bukan seperti yang terlihat nyatanya di kisah ini kekayaan bukan semata-mata tolak ukur kebahagiaan Riana. Justru kekayaan membawa Riana dan Niko terjerumus lembah kenistaan juga penderitaan yang berkepanjangan.


**TAMAT**


Semoga cerita yang singkat ini bisa menginspirasi kita untuk tetap bersyukur dengan keadaan kita. Roda terus berputar dan jangan menyerah.


Sampai jumpa di novel author selanjutnya. Terima kasih yang sudah membaca karya ini sampai selesai semoga Tuhan membalas segala kebaikan kalian. Author juga meminta maaf jika cerita juga penulisan banyak typo atau alur yang tidak jelas. Salam sayang dan cinta yang banyak dari author 😘🙏.