
Erick segera melepas ikatan Riana juga membuka lakban yang menutupi mulutnya.Seketika Riana memeluk Erick namun Erick langsung mengurai pelukannya begitu melihat wajah Riana lebam karena pukulan.
"Brengsek pria itu," gumam Erick.
Erick menatap lekat wajah Riana ada kepiluan di hatinya melihat wajah orang yang dicintainya babak belur seperti itu.Erick menarik tangan Riana lalu membawanya ke suatu tempat yang tak diduga Riana sama sekali.
"Untuk apa membawaku ke tempat ini?" pekik Riana memutar langkahnya namun Erick menahan pergelangan tangannya.
"Kau harus jebloskan pria itu ke penjara, lihat perlakuannya padamu!"Erick berkata dengan tegas tak ingin ucapannya di bantah karena keduanya sudah berada di depan kantor polisi.
Namun bukannya persetujuan yang menjadi jawaban Riana karena air matanya kembali menitik.
"Aku hanya tidak ingin pria itu melukaimu lagi karena aku tidak selalu bisa menjagamu." Erick mengutarakan kerisauannya.
Selama ini mungkin dia selalu datang untuk membantu Riana namun selama bajingan itu masih bebas dia tidak bisa memastikan keselamatan Riana.
"Kau tidak mengerti Erick." Riana berkata dengan sorot mata nanar membuat Erick hanya bisa diam.
"Bawa aku pergi!aku mohon," timpal Riana.Saat itu bertekuk lutut di bawah kaki Erick.
"Tapi?"
"Bagaimana dengan keluargamu, Steve?" timpal Erick.
Membawa Riana pergi tentu saja Erick sangat ingin karena selain bisa melindunginya dirinya akan selalu bersamanya namun bukanlah dirinya jika membawa seorang wanita kabur seperti seorang pengecut.
Erick segera menarik tangan Riana menuju mobil karena hari sudah larut dan udara cukup dingin terlihat Riana mengingil.Erick melajukan mobilnya ke sebuah apartemen.
"Kau tinggal disini?" Riana melihat sekeliling apartemen yang cukup sederhana namun terlihat nyaman.
"Hm." Erick berdehem menyahut Riana karena saat itu Erick sedang membuat minuman hangat untuk Riana.
Tiba-tiba Riana mengingat sesuatu namun dia melupakan tasnya di tempat dirinya disekap.
"Sial," umpat Riana.
Erick menatapnya saat Riana mengumpat kesal. "Ada apa, kau mencari sesuatu?"
"Aku ingin menghubungi Angela namun aku melupakan tasku di tempat tadi," jelas Riana.
"Kau bisa menghubungi lewat ponselku dan tasmu akan diurus anak buahku." Erick berbicara dengan enteng seakan semua selesai dengan mudah.
"Siapa kau sebenarnya Erick, kenapa kau selalu-"
Erick bekerja cukup lama dengan Riko sebagai asisten pribadi namun Erick bukan pria sembarangan karena selama ini itulah fakta yang ditemukan Riana pada diri Erick.
Riana mengembalikan ponsel Erick setelah menghubungi Angela untuk mengatakan pada keluarganya kalau dia ada urusan bisnis.Angela hanya mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut karena Angela berpikir Riana sedang bersenang-senang dengan Erick karena Riana meneleponnya lewat ponsel Erick.Angela senang akhirnya sahabatnya itu mendengarkan kata-katanya.
***
Seorang pria yang tengah memandangi kaca dari ruangannya terlihat mengepal erat.
"Hampir saja aku mendapat keinginanku!" ucapnya dengan sorot mata penuh amarah lalu menggebrak mejanya cukup keras.
Niko menatap tas Riana yang ada di mejanya.Beberapa menit lalu anak buahnya memberikannya.
Niko yang masih dalam keadaan emosi langsung melempar tas itu membuat isi di dalamnya berserakan.
"Aku tidak boleh gagal!" Niko kembali mengingat saat Tendernya ditolak karena pria bernama Riko itu yang mengambil alih sehingga perusahaannya rugi besar membuat perusahaannya bangkrut hingga ayahnya meninggal karena depresi.Niko sebenarnya sudah tidak mengingat kejadian penghinaan Riko di masa lalu namun karena ulah pria itu kini dendamnya kembali berkobar.Niko memutuskan akan membuat Riana sebagai alatnya untuk mencapai tujuannya namun usahanya selalu gagal.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya tanpa menunggu wanita itu segera masuk.Namun langkahnya terhenti saat menemukan tas wanita juga isinya berserakan di lantai.
Wanita yang tak lain teman dekat Niko itu terbelalak karena jelas tas itu pasti tas selingkuhan Niko yang tertinggal.
"Apa ini?" Fokus wanita itu tertuju pada amplop besar dan langsung membukanya.
Sherly nama wanita itu kembali terbelalak saat membaca surat yang tak lain dari sebuah rumah sakit.
"Apa ini!" Sherly meremas kertas itu menjadi bola kecil lalu melemparnya ke wajah Niko.
"Kau selingkuh di belakangku sampai punya anak!" pekik Sherly dengan napas kembang kempis menahan emosi.
"Apa maksudmu?" Niko mengambil kertas yang sudah menjadi bola itu diatas mejanya lalu membaca surat itu membuat kedua matanya juga ikut terbelalak.
"Riana kau tidak pernah mengugurkan kandunganmu?" gumam Niko.
Sherly begitu marah karena Niko bahkan mempunyai seorang anak bersama wanita lain.Wanita itu mendekat melayangkan pukulan ke wajah Niko namun seketika Niko menghempasnya hingga membuatnya jatuh di lantai.
"Kau hanya wanita murahan, enyahlah dari hadapanku!" hardik Niko.
"Kau bahkan sudah mendapatkan semua keinginanmu lalu kau-" Belum lagi menyelesaikan ucapannya tangan Sherly sudah ditarik keluar oleh anak buah pria kejam di depannya itu.
"Bajingan kau, brengsek!" umpat Sherly hingga akhirnya sudah tak terlihat lagi.
Sepeninggal Sherly, Niko kembali menatap kertas yang sudah lecek itu.Niko terus berpikir apa yang membuat Riana mempertahankan kandungannya karena setahunya Riana telah menggugurkan kandungannya seperti wanita yang datang padanya yang pada akhirnya menggugurkan kandungannya.Riana berbeda karena wanita itu lebih memilih mempertahankan walaupun dirinya tak mau bertanggung jawab.