
Beberapa Minggu berlalu Riana semakin dekat dengan Niko.Riana pun semakin percaya dengan Niko hingga membantu pria itu melebarkan sayapnya.Riana tidak segan-segan memberikan modal yang besar untuk pria itu semua dilakukannya demi Steve.
Niko pun selalu menyempatkan waktunya untuk bermain dengan Steve.Mereka bahkan tinggal di gedung apartemen yang sama membuat Niko leluasa bertemu Steve.
"Daddy, aku ingin pesawat keren ini." Steve begitu bersemangat bermain pesawat mainannya.
"Daddy pasti akan membelikan semua keinginanmu.Apa kau ingin Daddy tinggal disini bersamamu?" Niko mengelus kepala Steve.Seketika Steve tersenyum mengangguk merespon pertanyaan Niko.
"Bujuk lah Mommy untuk mengizinkan Daddy tinggal disini," timpal Niko.
Saat itu Riana mendengar percakapan keduanya.Niko memang sudah melamarnya namun ia belum juga memberi jawaban bukan karena tidak ingin membuat Steve bahagia namun perasaannya masih tertuju pada satu pria yang sudah mengganti nama Niko di hatinya.
.
.
Riana keluar dari kamar setelah menidurkan Steve.Terlihat Niko masih berada di apartemennya, pria itu terlihat menunggunya.
"Kau masih disini?" Riana duduk di samping Niko.
"Mm ... aku menunggumu." Niko menatap lekat wajah Riana membuat Riana langsung mengalihkan pandangannya.
Niko menggenggam tangan Riana. "Bagaimana, apa kau sudah punya jawaban dari lamaranku?" tanya Niko antusias.
Riana Manarik tangannya dari genggaman tangan Niko."Aku melakukan semua hanya demi Steve, Ko.Bagiku melihat kedekatan kau dengan Steve itu sudah cukup."
"Kau menolakku, apa kau tidak ingin kita bersatu.Mungkin aku terlambat dengan niatku ini.Kehadiran Steve membuatku berpikir, aku harus menjadi pria yang lebih baik." Niko menundukkan kepalanya membuat Riana merasa bersalah karena telah menolaknya.
"Maafkan aku," lirih Riana
Niko pun bangkit dan beranjak pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
***
Niko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Hatinya begitu kecewa dengan penolakan Riana.
"Wanita tak tahu diri itu sudah untung aku mau menikahinya, dia pikir dia siapa, berani menolakku!" gerutu Niko.
Mobil Niko berhenti di sebuah bar yang sering ia kunjungi.Cukup lama ia tak pergi kesana sejak perusahaannya bangkrut ia tak bisa bersenang-senang namun kini ia bisa kembali menikmati hidup dengan bersenang-senang.Niko meminum banyak minuman keras hingga membuatnya tak sadarkan diri.Pria yang setengah tidak sadar itu terus meracau.
"Aku pasti kan kau menye-sal, sialan!" umpatnya tanpa sadar.
Wanita yang sengaja mendatanginya langsung ditariknya paksa menuju sebuah ruangan khusus di bar itu.
"Kau pelacur murahan!" Niko kembali meracau, menjatuhkan tubuh wanita malam itu ke ranjang.
"Kau milikku, Riana!"
.
.
Niko menghabiskan malam panas itu bersama seorang wanita sewaan yang dilihatnya sebagai Riana.
.
.
Niko terjaga dari tidurnya merasakan kepalanya terasa pening.
"Dimana, aku?" lirihnya.
Menajamkan penglihatannya yang masih buram hingga menyadari tangan wanita melingkar di perutnya.Spontan Niko langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh dari ranjang. "Sialan!"
"Kau kasar sekali, honey," keluh wanita itu namun dengan nada yang lembut bangkit dari lantai.
"Kau pergi dari sini!" bentak Niko.
Niko segera mencari dompetnya di saku celananya, memberikan sejumlah uang kepada wanita itu.
"Terima kasih, honey.Jika kau butuh service yang memuaskan seperti tadi malam, hubungi aku." Wanita itu menaruh kartu namanya di atas nakas.
Segera ia memakai pakaiannya kembali dan bergegas pergi setelah mendapat bayaran atas servicenya.
Niko tampak memegangi kepalanya yang pening sambil berpikir bagaimana caranya ia mendapatkan hati Riana demi memenuhi semua ambisinya.