
Akhirnya hari pernikahan pun tiba.Hari dimana Erick dan Riana akan resmi menjadi pasangan suami istri.
"Selesai," seru seorang MUA yang telah menyelesaikan tugasnya.Kini wanita cantik bak putri itu sudah siap dipinang pangerannya.
"Wah, kau cantik sekali Riana," puji Melati.
"Mbak Mel bisa aja, cantikan juga Mbak." Riana balik memuji kakak iparnya itu yang juga turut dirias.
Saat itu terlihat jelas pantulan wajah Nani yang duduk di sofa menitikkan air mata menjadi fokus Riana tertuju padanya.Ia langsung mendekat, dengan susah payah karena gaunnya yang panjang membuatnya sulit bergerak bebas.
"Mom jangan nangis nanti luntur make up nya dan hari ini hari bahagiaku?" Riana mengusap air mata Nani dengan selembar tisu.
"Mommy bahagia sayang, sebentar lagi kau akan hidup dengan pria yang baik dan mencintaimu." Nani mencoba tersenyum walaupun air matanya terus menitik.Riana segera memeluk Nani ditambah Melati yang ikut memeluk Riana.
"Mommy, peluk Sev juga." Steve menarik gaun Riana membuat pelukan ketiganya buyar.Riana segera memeluk ketiganya Steve, Juna dan Nayya yang terlihat tampan juga cantik.
"Aunty cantik sekali," puji Nayya.
"Terima kasih sayang," sahut Riana.
Ketiganya lalu berlari keluar dari ruangan itu.
"Riana kau tunggu disini dulu ya, Mbak Mel akan antar Mommy dulu ke ruang utama," pamit Melati.Riana menunduk mengiyakan.
Riana terus menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk menghilangkan ketegangan yang menderanya.
"Tenang Riana, tenang.Semua kan baik-baik saja," monolog Riana.
Tok ... tok ....
Fokus Riana tertuju pada pintu.Terlihat seorang wanita berkebaya berwarna soft pink memasuki ruangan itu.
"Maaf Nona, acara akan segera di mulai, saya diminta menjemput Anda," ucap wanita itu dengan sopan.
"Tapi dimana mbak Mel?" Riana menatap penuh tanya.
"Nyonya Melati masih sibuk jadi saya yg disuruh menjemput.Mari." Wanita itu mengulurkan tangannya, Riana langsung bangkit dari duduknya.Keduanya melangkah namun baru beberapa langkah wanita itu membungkam mulut Riana dengan sapu tangan membuat Riana langsung tidak sadarkan diri.
.
.
Setelah mengantar Nani dan berbincang sebentar dengan tamu, Melati kembali.Saat Ia memasuki ruangan itu tidak ada seorang pun disana. "Riana ... Riana," pekik Melati mencari keberadaan adik iparnya itu.Melati mencari ke seluruh ruangan itu namun tidak menemukan membuatnya panik.Ia langsung menghubungi suaminya.Beberapa detik kemudian Riko bersama Asistennya datang.
"Apa maksudmu Riana hilang?" Riko menatap Melati sekilas lalu berpindah menatap sekeliling ruangan itu yang hanya ada istrinya.
"Tadi aku mengantar Mommy ke ruang utama, setelah aku kembali Riana sudah tidak ada." Melati sampai menitikkan air mata karena kecerobohannya Riana kini menghilang.
"Cepat kau cari di seluruh gedung ini, aku yakin orang yang membawa Riana masih di sekitar sini!" titah Riko yang langsung dilaksanakan oleh Gian.Pria itu langsung mengkoordinir seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Riana yang diperkirakan nya masih di area gedung.Penjagaan yang ketat didalam dan diluar gedung akan menyulitkan penculik itu membawa Riana pergi.
"Tenang sayang, Riana pasti akan segera ketemu.Kau lupa siapa suamimu." Riko memeluk dan mengecup kening Melati mencoba menenangkan kecemasannya.
"Semua salahku, jika saja aku tidak meninggalkannya tadi-"
"Ssttt, sudah," potong Riko.
Ponsel Riko bergetar membuat fokusnya langsung berpindah Saat itu Gian yang menelepon memberitahu Riana sudah ditemukan.
"Dimana Adikku?" tanyanya cemas.
"Nona di dalam Tuan, tidak sadarkan diri," jelas Gian menunjuk sebuah ruangan.
Mendengar itu, Melati langsung berlari masuk sementara Riko masih berbicara dengan Gian.
Sepuluh menit kemudian Seorang Dokter memasuki ruangan dimana Riana dibaringkan.Dokter itu memeriksa Riana yang belum sadarkan diri.
"Bagaimana Dokter?" tanya Riko dengan raut kecemasan begitu pula Melati.
"Nona Riana dia tidak sadarkan diri karena obat bius," jelas Dokter itu.
Seketika Melati dan Riko terbelalak dengan penjelasan Dokter.Keduanya nampak bingung karena sebentar lagi acara akan segera di mulai sementara Riana akan sadar setelah satu jam itu pun masih dalam kondisi lemas.
"Bagaimana ini?" Riko mondar-mandir sambil sesekali menendangkan kakinya ke tembok sebagai luapan kekesalan juga amarah.Bagaimana tidak, di hari yang bahagia ini seharusnya hari yang tidak akan dilupakan seumur hidup oleh Riana.Ia kecolongan dengan penyusup yang menyamar sebagai Kru acara itu.
"Tidak apa-apa sayang, kita akan lanjutkan acara ini.Riana akan tetap bisa menikah walaupun tidak sadarkan diri," jelas Melati.
"Apa maksudmu?" Riko menatap penuh tanya.
Melati pun menjelaskan secara detail semua rencananya.Mau tidak mau semua harus tetap berjalan karena semua tamu undangan sudah hadir tidak mungkin akan dibatalkan begitu saja.
"Aku akan menunggu disini, kau cepatlah mulai acaranya!"
Riko menunduk meninggalkan keduanya.Langkahnya mengayun menuju ruang utama dimana acara akan dilangsungkan.
Akhirnya inti acara akan dimulai namun para tamu itu pun mencari keberadaan mempelai wanita yang belum terlihat padahal saat itu mempelai pria, penghulu,saksi juga wali nikah sudah duduk di kursi yang artinya acara sakral akan segera dimulai.
MC memberi pengumuman. "Perhatian semua, khusus acara pernikahan ini mempelai wanita akan keluar setelah sah menjadi suami istri."
Seluruh tamu merasa lega juga sebagian merasa sangat penasaran bagaimana penampilan si ratu bisnis itu.
Fokus seluruh tamu yang ada di ruangan itu pun tertuju pada mempelai pria yang sebentar lagi mengikrarkan ijab qobul.
"Saya nikahkan dan kawinkan Erick Dhanurendra bin Joni Baskara dengan Riana Delia Wijaya binti Denny Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai dua belas juta seratus dua puluh ribu dua ratus dua puluh rupiah dibayar tunai." Riko mengucapkan ijab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Delia Wijaya binti Denny Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Erick menjawab dengan jelas dan tenang.
Semua orang pun menatap dua saksi yang ditunjuk. "Sah," ucap dia saksi itu bersamaan.
Riuh tamu langsung menggema penuh kegembiraan.Puluhan Wartawan yang berada di luar ruangan yang disediakan layar khusus untuk melihat dan meliput tidak kalah bersorak gembira.
Setelah kejadian tadi Riko semakin memperketat penjagaan sehingga tidak mengizinkan Wartawan juga orang yang tidak berkepentingan masuk.
Sementara di tempat lain, seorang wanita yang duduk di ruangannya menatap layar televisi dengan raut penuh amarah.Ia langsung mematikan televisinya karena tidak ingin semakin sakit saat melihat kebahagiaan yang dipertontonkan sementara berbanding terbalik dengannya yang merasa kesakitan lebih tepatnya patah hati.Niatnya untuk menggagalkan acara itu tidak berhasil karena jelas acara terus berlangsung walaupun tanpa mempelai wanita.
"Kau jangan senang dulu Erick Dhanurendra karena aku akan terus membayangi rumah tanggamu!" pekik wanita itu merobek-robek fotonya bersama Erick menjadi serpihan kecil.
***
Setelah satu jam akhirnya Riana mulai sadar.Melati terus saja berada di samping adik iparnya itu.
"Mbak Mel, aku dimana?" tanyanya dengan suara lemah.
"Kau di tempat acara pernikahanmu," jelas Melati mengusap kening Riana.
"Kau sudah sah jadi Nyonya Erick," timpal Melati antusias.
Riana terdiam cukup lama karena Ia sama sekali tidak mengingat semua.Tubuhnya juga sangat lemah hingga sulit di gerakkan.
"Sebentar lagi suamimu akan membawamu ke singgasana," tambah Melati.
Riana memang tidak banyak bicara, selain Ia baru sadar tubuhnya lemah karena efek dari obat bius.
Erick memasuki ruangan itu membuat Melati yang tepat berada disamping Riana langsung menjauh beberapa langkah.Erick langsung membenamkan kecupannya di kening Riana untuk pertama kali setelah sah menjadi pasangan suami istri.
"Pangeranmu sudah datang Tuan Putri, Kau sudah sadar." Erick kembali mengecup kening lalu menuju bibir ranum Riana.
Melati menatap keduanya jengah namun tidak mengurangi kebahagiaannya melihat kebahagiaan yang direguk Adik iparnya.Keduanya beradegan seperti dalam cerita Putri Salju yang terbangun dari tidur panjangnya setelah pangerannya datang.
Erick membopong tubuh Riana menuju singgasana.Semua mata langsung tertuju pada pasangan pengantin itu dengan tatapan penuh puja.
"Oh, so sweat," celetuk seorang tamu undangan.
Benar-benar pasangan itu membuat semua orang tertegun dengan aksi romantis mereka yang membuat semua mata merasa iri.
Keduanya kini duduk di kursi pelaminan itu dengan senyum sumringah membuat semua orang di ruangan itu ikut bahagia.
"Apa kau bahagia Tuan putri?" Erick menatap intens wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
"Apa aku mimpi, coba cubit aku." Riana yang masih belum mengerti dengan semua yang terjadi merasa bingung.
Cup
Kecupan Erick langsung mendarat beberapa kali tentu saja aksinya itu menjadi perhatian tamu undangan namun Erick tidak memperdulikan karena Ia begitu bahagia.
"Apa masih kurang?" Erick hendak mengecup Riana kembali namun dengan sigap di tahan Riana.
"Hentikan, aku malu." Riana menatap Erick sekilas lalu berpindah ke seluruh orang di ruangan itu yang fokus memperhatikannya
"Ok, tapi tidak untuk nanti malam karena aku tidak akan melepasmu!" ancam Erick dengan berbisik.
Melati yang sedari tadi memperhatikan pasangan pengantin itu terus saja memekarkan senyumnya hingga tidak mengalihkan pandangannya.Riko yang berada di sampingnya merasa diacuhkan, beberapa kali Ia berdeham namun tetap tidak mendapat perhatian darinya.
Ehem
Riko kembali berdeham lebih keras membuat Melati langsung menatapnya.
"Sayang aku bahagia sekali, kau lihat rencanaku begitu sempurna menjadikan mereka seperti putri salju dan pangeran tampannya," ucap Melati antusias.
Namun bukannya mendapat sambutan hangat pria itu malah menatapnya tajam.
"Maksudku pangeran tampan yang ketampanannya dibawah pangeranku," bohong Melati.Aksinya itu langsung membuat seorang Riko tersenyum lebar.
"Dasar kau, bahkan tidak mau kalah dari adik iparmu itu walaupun benar kau jauh lebih tampan." Hampir saja umpatan itu keluar dari mulutnya kalau saja tidak ditahannya.
Ketiga malaikat kecil di keluarga Wijaya pun ikut berbahagia walaupun sebenarnya mereka tidak mengerti acara apa yang sedang berlangsung itu namun mereka tahu Erick akan menjadi bagian dari anggota keluarga mereka.